Jalan-jalan ke Fort Rotterdam yang Ternyata Bukan Buatan Belanda

Kamu tahu Benteng Ujung Pandang? Mungkin kamu baru mendengarnya. Tapi kalau ditanya kamu tahu Benteng Fort Rotterdam? Nah, kalau ini, rasanya sudah banyak orang yang familiar dengan namanya. Begitu juga kalau ditanya lokasinya di mana mungkin akan mantap menjawab “di Makassar!”. Padahal, kedua benteng itu adalah benteng yang sama. Benteng Ujung Pandang adalah Fort Rotterdam. Hanya saja, nama Fort Rotterdam lebih terkenal.

benteng ujung pandang makassar

Kenapa benteng ini memiliki 2 nama? Untuk mengetahuinya, kembali lagi kita berjumpa dengan bahasan tentang perseteruan VOC dengan Kerajaan Gowa-Tallo. Dan kembali lagi, nama Cornelis Speelman harus disebut di postingan ini.

Kalau membahas tentang sejarah Kota Makassar, nama Speelman memang akan banyak muncul. Dari sudut pandang VOC, Speelman sangat berjasa dalam mengukuhkan kekuatan VOC di tanah anging mamiri ini. Dari sudut pandang rakyat Kerajaan Gowa-Tallo dan keturunannya, Speelman adalah musuh terbesar.

Fort Rotterdam, destinasi terakhir saya di Kota Makassar

Kunjungan ke Pantai Losari yang sepi pagi itu saya akhiri. Saya kembali menyusuri jalanan Makassar dengan sepeda motor bekas yang saya beli di Kendari ini. Jejeran toko oleh-oleh saya lewati, bangunan-bangunan tampak banyak yang sudah cukup berumur di sana-sini.

Destinasi terakhir yang saya kunjungi di Makassar tak jauh dari Pantai Losari. Di antara Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar dan Pantai Losari, terdapat sebuah benteng yang populer, yang menjadi salah satu destinasi wisata utama pelancong saat datang ke Makassar, tentu saja itu adalah Fort Rotterdam. Lokasi yang berada di tengah kota menjadikan benteng ini terkenal, beda halnya dengan Benteng Somba Opu yang lokasinya cukup terpencil sehingga jarang dikunjungi wisatawan.

Baca juga: Benteng Somba Opu, Saksi Bisu Pertempuran Sultan Hasanuddin Melawan Speelman dan Arung Palakka

Sebuah bangunan benteng terlihat, di seberang sebuah bangunan hotel. Sepeda motor saya parkirkan. Tas ransel segede gaban saya bawa dan saya minta izin untuk menitipkannya di pos pembelian tiket. Obrolan singkat terjadi antara saya dan abang penjual tiket, tentang sejarah fort rotterdam, dan tentang pengembaraan saya di tanah sulawesi.

fort rotterdam makassar

Saya mulai menjelajah setiap detil dari benteng ini dengan menggendong ransel kecil. Memasuki benteng, terlihat bangunan-bangunan berciri khas belanda beridiri kokoh, dengan beberapa pohon lontar dan jenis pohon lainnya di halaman. Benteng Rotterdam ini mengelilingi bangunan-bangunan itu.

benteng ujung pandang

Suasana di dalam benteng terlihat sangat tenang. Halamannya sangat bersih. Ketinggian rumput-rumput terjaga. Sepertinya lingkungan di dalam Fort Rotterdam memang benar-benar dipelihara dengan baik.

Tonton video perjalannya di sini

Museum, Ruang Tahanan, dan Bastion

Setidaknya, ada 3 hal di dalam area benteng ini yang saya ingat yaitu Museum La Galigo, Tahanan Pangeran Diponegoro, dan Bastion. Sisanya, bangunan-bangunan lain itu entah difungsikan untuk apa saja. Sepertinya sebagian digunakan untuk perkantoran tapi entahlah, samar-samar saya ingat.

museum la galigo fort rotterdam
museum la galigo

Di sisi kiri bagian benteng, terdapat Museum La Galigo. Museum ini berisi tentang informasi budaya-budaya yang ada di Sulawesi Selatan. Di dalam museum ini juga dipamerkan berbagai benda peninggalan masa lalu.

ruang tahanan pangeran diponegoro
ruang tahanan pangeran diponegoro

Di pojok kanan depan benteng, terdapat ruangan yang dulu berfungsi sebagai ruang tahanan. Di sini, dahulu Pangeran Diponegoro ditahan sampai akhir hidupnya. Pangeran Diponegoro ditangkap setelah melakukan perlawanan selama 5 tahun melawan Belanda. Perang yang dinamakan Perang Diponegoro atau Perang Jawa itu tercatat sebagai perang dengan korban jiwa terbanyak di Indonesia. Belasan ribu prajurit terbunuh dan ratusan ribu orang terdampak.

bastion amboina fort rotterdam
bastion amboina

Di tiap pojok dari benteng terdapat bastion. Apa itu bastion? Bastion adalah bangunan yang menjorok keluar pada sebuah benteng. Biasanya bastion berada di masing-masing pojok benteng. Di sinilah senjata-senjata untuk bertahan diletakkan, seperti misalnya meriam. Terdapat lima bastion di sini yang masing-masing memiliki nama yaitu bastion amboina, bastion mandarsyah, bastion bone, bastion bacan, dan bastion buton. Nama-nama itu terinspirasi dari pulau-pulau yang ada di Indonesia Timur.

Di balik nama Fort Rotterdam

Di masa saat NKRI belum terbentuk, saat setiap daerah memiliki rajanya masing-masing, lalu lintas kapal VOC ramai menjelajah perairan nusantara. Di Indonesia Timur, berbagai macam rempah dan hasil bumi lainnya dibawa ke Makassar, tentu saja VOC adalah penguasanya.

Namun, di kota besar itu VOC memiliki pesaing. Di saat kerajaan-kerajaan kecil telah ditaklukan ataupun hanya berupa sandungan kecil, Kerajaan Gowa-Tallo gigih menantang upaya monopoli yang dilakukan VOC. Kerajaan Gowa-Tallo membangun banyak benteng di berbagai lokasi untuk pertahanan dan juga perdagangan.

Benteng Ujung Pandang adalah salah satu benteng yang dibentuk oleh Gowa-Tallo, lokasinya di tepi pantai selat makassar. Di awal pembangunannya, benteng ini berbahan tanah liat. Di masa raja berikutnya, material pembentuknya diperkuat dengan batuan padas yang didatangkan dari pegunungan karst di daerah Maros -mungkin dekat dengan rammang-rammang-.

benteng fort rotterdam

Kerajaan Gowa-Tallo bersitegang dengan VOC dan meletuslah Perang Makassar yang diakhiri dengan perjanjian Bungayya. Perjanjian itu sangat merugikan pihak Gowa-Tallo, salah satunya adalah penyerahan Benteng Ujung Pandang ke tangan VOC. Saat itu, VOC dikomandoi oleh Speelman.

fort rotterdam in makassar

Setelah dikuasai, VOC menghancurkan bangunan-bangunan balla lompoa yang berada di kompleks benteng. VOC lalu menggantinya dengan bangunan-bangunan berarsitektur belanda seperti yang kita lihat sekarang. Peralihan nama menjadi Fort Rotterdam pun terjadi di fase ini. Alasan penamaan Fort Rotterdam oleh Cornelis Speelman adalah untuk mengenang kota kelahirannya di Belanda, yaitu Rotterdam.

bangunan di benteng fort rotterdam

Dari masa ke masa, benteng ini telah banyak mengalami peralihan fungsi. Kerajaan Gowa-Tallo menggunakan benteng ini untuk pertahanan. Di masa VOC, benteng ini digunakan sebagai pertahanan, pusat rempah-rempah, dan tempat tinggal para bangsawan. Di masa penjajahan Jepang, benteng ini digunakan sebagai pusat penelitian bahasa dan pertanian. (sumber)

arsitektur belanda di fort rotterdam

Ratusan tahun berlalu. Suasana sekitar benteng telah berubah drastis, tapi benteng itu masih berdiri di sana. Beberapa bagian mungkin sudah tak lagi asli, tapi sisanya masih menyimpan jejak-jejak sejarah dan peperangan di masa lampau.

bangunan belanda di benteng fort rotterdam

Satu hal yang saya sayangkan saat berkunjung ke Fort Rotterdam, saya tak punya drone, sehingga tak bisa melihat benteng ini dari atas yang bentuknya mirip penyu. Bentuk penyu bukan tanpa sengaja, tapi mengandung filosofi. Penyu bisa hidup di darat dan di air, menjadi simbol bahwa Kerajaan Gowa-Tallo jaya di darat dan di laut.

Sekarang, kalau ditanya tahukah kamu Benteng Ujung Pandang kamu sudah tahu kan jawabannya??

traveler paruh waktu

 

***

traveler paruh waktu

Travel Blogger Indonesia. Traveler Paruh Waktu. 100% sundanese. ASN pengagum Ibu Pertiwi, terutama akan keindahan alamnya. Suka bertualang, suka bercerita, suka membuat video.

Related Posts

60 Responses
  1. Iya, nama Benteng Fort Rotterdam sangat familiar di telinga saya mas. Tapi belum pernah sama sekali melihat aslinya ahahahaha, jadi saya cukup beruntung bisa melihat dari blog mas Bara πŸ˜€

    By the way, nasib sepeda motornya yang dibeli bekas sekarang bagaimana, mas? Dijual lagi atau dibawa ke Padang? Ehehe. Kalau dipikir-pikir idenya bagus juga, karena mas Bara keliling Indonesia Timur selama beberapa bulan jadi mas Bara pilih untuk beli motor bekas daripada sewa. Mungkin biar lebih mudah pindah-pindah perbatasan provinsi ya, mas daripada harus naik transportasi umum πŸ˜€

    Terus saya jadi membayangkan bagaimana rasanya ditahan sampai akhir hayat, dan penasaran bagaimana bentukan dalam tahanan Pangeran Diponegoro yang ada di dalam benteng Fort Rotterdam πŸ˜• Mas sempat masuk ke dalam kah? Huhu, dan semakin saya baca soal VOC semakin kesal saya dibuatnya hahahaha pagi-pagi berasa emosyiiional :))

    1. iya kaan familiar kan sama fort rotterdam ? hehe..

      Motornya udah dijual lagi di Manado sebelum loncat ke pulau lainnya haha.. Kalau bawa motor dari rumah ribet soalnya panjang perjalanan, dari Padang ke Sulawesi.. Kalau jelajah Jawa misalnya, baru deh enakan pake motor sendiri yg udah tahu seluk beluk dan kesehatannya πŸ˜€ ..

      nggak sempat masuk ke ruang tahanannya.. kalau gak salah sih (lupa-lupa ingat) ruang tahanan itu termasuk yg udah difungsikan sebagai kantor (cmiiw), waktu itu ada orang kerja, gak enak mau masuk..

  2. Menilik sejarahnya hebat ya strategi perang pangeran Diponegoro …, dari pulau Jawa sampai ke Makassar.
    Di Magelang juga ada museum yang dulu pernah dipakai beliau, ada jubahnya termasuk kursi yang dicengkeram sampai berbekas dalam.

    Dilihat dari luar, bentuk bangunannya nyaris mirip dengan museum Bahari di Jakarta.
    Kalau dari samping hampir mirip bentuk dengan Gedung Merah.
    Betul ngga sih pendapatku ?, hehehe. ..

    1. wah penasaran sama yg di Magelang, apa nama museumnya ya mas??

      kalau museum Bahari yang di Jakarta itu ku belum pernah juga jadi gak tau betul atau nggak pendapatmu mas wkwk..

      1. Namanya Museum Diponegoro, mas.
        Letaknya berada di kompleks Bakorwil yang merupakan gedung peninggalan kolonial Belanda.
        Lokasi museumnya cukup dekat sama rumahku.

        Oh, iya to belum sempat melipir ke Museum Bahari …
        Ntar pas kapan kesana kan lantas keingetan bentuk model bangunan benteng Rotterdam

  3. Oh ternyata nama Fort Rotterdam diberikan oleh Cornelis Speelman untuk mengingat kota kelahirannya yaitu Rotterdam di Belanda.

    Iya, benteng ini cukup terkenal, salah satunya sebagai tempat penahanan pangeran Diponegoro saat perang Jawa dulu.

  4. My playground when I was in college. Saya tiap minggu main ke sini dulu, ikut ikut english club meeting dan belajar gratis conversation dari para senior.

    Tempatnya masih tidak berubah dan memang sangat terawat. Postingan Barra membawa kembali kenangan masa kuliah saya di sini hahahah.

    Tempat ini menjadi venue utama Makassar International Writer Festival (MIWF) lho, kegiatan writer festival tahunan yang semakin tahun makin ramai dikunjungi penulis dari berbagai penjuru dunia. Coba nanti kalau ke Makassar lagi disesuaikan dengan MIWF, pasti bakal terkesan dengan megahnya perhelatannya.

    1. wah, asli Makassar?? atau hanya pernah kuliah aja di Makassar??

      Iya masih bersih dan terawat.. Ternyata tempat ini membawa banyak kenangan ya buat masnya.. πŸ˜€

      Jadi penasaran pas jadi venue utama MIWF itu,, biasanya diadakan bulan apa itu mas?? Kalau ada rejeki dan kesempatan pgn deh ke sana pas perhelatan MIWF itu…

  5. Saya baca ini kayak baca pelajaran sejarah. Saya baca sambil membayangkan isi ceritanya. Karena saya belum pernah ke sana jadi tulisan Mas Barra sangat membantu.

    Wah, saya malah penasaran dengan bentuk benteng dari atas yang seperti penyu.

  6. Terima kasih Mas Bara, untuk cerita sejarahnya.
    Saya sudah lama sekali tak ke Makassar. Tapi yang saya ingat dari benteng ini memang kebersihan dan kerapihannya. Apalagi di tulisan ini saya melihat foto benteng Rotterdam yang sedang sepi, tak ramai pengunjung, jadi terlihat sekali sangat bersih dan rapih.

    Terkait nama bentengnya, mungkin perlu upaya lebih keras dari pengelola atau Pemerintah setempat kalau ingin mengembalikan ketenaran nama asli benteng tersebut tanpa harus mengebaikan sejarah bahwa benteng ini pernah berubah nama menjadi Fort Rotterdam.

    1. Iya, beruntung bgt datang ke sana pas lagi sepi gini.. udahlah bersih, rapi, sepi jadi serasa pemilik benteng πŸ˜€

      Iya, tak mudah tapi saya lebih suka kalau namanya dikembalikan menjadi Benteng Ujung Pandang, seperti Kota Makassar yang pernah berubah nama jadi Ujung Pandang dan sekarang kembali lagi menjadi Kota Makassar..

  7. Rasanya aku pernah denger-denger fort Rotterdam, tapi gak tau itu tempatnya di mana. Ternyata di Makassar toh? Dan ternyata benteng ini awalnya arsitektur nya gak seperti sekarang ya, mas. Ternyata gara-gara diambil Belanda baru arsitektur nya diganti.

    Ngomong-ngomong sekarang benteng ini masih terawat banget, mas. Dari fotonya terlihat bangunannya masih bagus dan lingkungannya juga bersih. Suatu saat nanti kalau ada kesempatan ke Makassar sepertinya pengen banget main ke situ. Pengen menikmati suasananya dan juga lebih mengenal lagi sejarahnya. πŸ˜€

    1. Iya, saya sendiri ngga tahu sih pas bangunan awalnya kek gimana, belum nemu fotonya.. Kalau sekarang sih arsitekturnya udah Belanda bgt..

      Memang terawat bgt, suka liat kebersihan dan kerapiannya, semoga aja tetap seperti itu..
      kalau ke Makassar wajib ke sini, selain kulinernya tentunya..

  8. Fort Rotterdam, perasaan pernah denger tapi daerah bengkulu. If i am not wrong ,hehe

    Meskipun bukan “buatan” Belanda, tapi bangunannya Belanda sekali yaaa

  9. Tau dong, haha.. Pada ga jawab pertanyaan yang ditanyakan . Mendengar nama Cornelis kembali teringat dengan tulisan sebelumnya, korupsi. Ternyata Cornelis rindu juga sama kampung halamannya. Tak pikir mau buat peradaban sendiri. hahaha..

    1. wah akhirnya ada yg jawab pertanyaannya nih yaa πŸ˜€ ..

      Cornelis korupsinya sama perusahaan soalnya, VOC,, kalau sama kampung halamannya tetap rindu dia πŸ˜€

  10. Jadi teringat perubahan nama kota Makassar jadi Ujung Pandang, terus jadi Makassar lagi…

    Setelah di postingan Merlion, di postingan ini ada foto selfie Bara lagi hehe

  11. Btw salah fokus sm penyataan beli motornya mas. Lg traveling sempet beli motor buat memudahkan kelliling nih. Ahahaha
    Bentengnya keliatan sm kokoh bgt yaa. Apalago rumput2nya bener2 terjaga bgt. Keren sih ini

  12. Ini kebanggan orang-orang Makassar, memiliki benteng yang kokoh, namanya kebarat-baratan lagi.
    Tapi serius deh, saya bener baru tahu bagaimana sejarah pemberian namanya, hihihi

    Kelihatannya bangunan bersejarah ini masih terawat baik, moga2 tetap terjaga buat generasi-generasi berikutnya

    Photo-photonya bagus banget, ilustasi sejarahnya juga berkesan dan nambah wawasan.
    Makasih buat postingannya

    1. Mungkin karena salah satu ikon wisata kota Makassar, makanya kondisinya selalu terpelihara dengan baik entah itu bangunannya maupun halamannya.

      aamiin, semoga selalu terjaga…

  13. Waktu ke sana, kawan yang orang Makassar sempat bawa saya ke lorong yang mesti dilalui Pangeran Diponegoro setiap mau ketemu petinggi Belanda di Fort Rotterdam. Karena rendah Diponegoro mesti menunduk gitu, semacam jadi simbol ketertundukan sama kuasa mereka. Saya lupa-lupa ingat di sebelah mana, tapi kayaknya di foto Bung itu ada, deh. Kayaknya lorong yang ada motornya itu.

    Pas masuk sini, saya jadi langsung inget suasana Vredeburg di Jogja, Bung. Gaya dan warna bangunannya tipikal banget. Layout-nya aja yang beda kayaknya.

    1. mungkin lorong yg itu sih,, karena saya juga gak liat lorong lain lagi, gak tau juga kalau ternyata ada lorong lain..

      kaau vredeburg belum pernah euy.. mungkin kalau ke Jogja harus mampir ke sana..

  14. Barusan disuguhi serunya melihat anak2 berburu kupu2 yg dijual seharga Rp.10 rb, divideonya Bang Bara… sebenarnya mau cari artikel yg ada kupu2 ya, tapi disuguhi artikel yg ini pun tak kalah serunya.

    Oh ternyata nama Benteng Roterdam itu yg lebih dikenal daripada benteng Ujung Pandang. Disini masih ada pohon lontarnya ya…
    Baru tahu juga ternyata Pangeran Diponegoro ditahan disini sampai akhir hayatnya.

    Pakai sepeda motor, bisa leluasa keliling2 ya Bang? Keren sekali petualangannya

    1. artikel yang kupu-kupu baru aja terbit.. biasanya terbitnya artikel setelah videonya diupload biar artikenya sekaligus dilengkapi video, apalagi yg kupu-kupu cuma dikit motretnya πŸ˜€

      iyaa masih ada pohon lontarnya di sini..

      iyaa naik motor supaya leluasa dan bisa menjangkau tempat-tempat yg cukup terpencil dan waktunya bebas sesuka hati kita.. hehe..

  15. Baru tahu kalo Fort Rotterdam bukan asli bangunan Belanda, tapi benteng milik Kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun lagi oleh Belanda dan diganti nama.

    Tempat yang sangat bersejarah nih, nggak cuma buat Makasar, tapi buat Jawa juga. Karena di sanalah Pangeran Diponegoro menghabiskan masa hidupnya.

  16. Tapi kalau gak salah kota Rotterdamnya sendiri yang di Belanda dinamakan demikian karena masih ada sangkutannya dengan beberapa kota di Indonesia *cmiiw

    Ngeliat fotonya kayaknya panas banget ya haha. Enaknya sore-sore kayaknya ke sana biar sambil JJS πŸ™‚

    1. wah, baru tahu kalau asal kata Rotterdam sendiri ada sangkut pautnya dengan beberapa kota di Indonesia, perlu digali lebih jauh nih..

      Iya emang luar biasa panasnya wktu itu wkwk..

  17. Saya baca ini serasa belajar Sejarah kayak waktu di sekolah dulu. Saya suka belajar Sejarah tapi ternyata banyak yang dilupakan juga, jadi baca tulisan Mas Bara me-refresh ilmu pengetahuan saya lagi πŸ˜€

    Awalnya saya pikir Fort Rotterdam ini yang ada di Jogja, ternyata bukan. Kalau mengingat sejarah di balik sebuah tempat atau museum seperti ini, rasanya seperti kembali ke zaman tersebut ya. Dulu kalau ada study tour ke museum-museum, saya suka merasa nyess sendiri mengingat pahlawan kita ada yang ditahan bahkan disiksa sampai meninggal di tempat-tempat tertentu. Mengunjungi ke tempat seperti ini bisa sambil mengenang jasa para pahlawan juga ya.

    1. banyak yg bilang sih kalau ini mirip benteng yang ada di Jogja, saya sendiri malah belum pernah berkunjung ke benteng yg di Jogja itu..

      Bener bgt,, saya juga suka sambil mengenang para pahlawan kalau datang ke tempat2 bersejarah kaya gini, sambil membuka kembali lembaran-lembaran sejarah yang sempat terlupa..

  18. Dulu pernah tinggal di Makassar tapi belum pernah ke benteng ini. Padahal hampir tiap minggu ke Pantai Losari. Orangtua nggak suka ke tempat bersejarah jadi dicuekin aja deh itu benteng. Abis di depannya juga dulu banyak yang pacaran hebring, mungkin itu kenapa ortu malas bawa ke sana T.T

    1. wah, berapa lama tinggal di Makassar tuh?? Kayanya waktu masih kecil ya??

      Pas ke sini kemarin sih ngga ada orang pacaran, mungkin karena siang bolong pas mentari lagi terik-teriknya πŸ˜€

  19. waktu kesini dulu, yang ada dipikiranku, kok bisa benteng berdiri ditengah tengah kota, tapi itu jaman sekarang haahaha. kalau jaman dulu pastinya isinya masih lahan semua ya kayaknya.
    aku coba jalan menyusuri bangunan belakang, memang beberapa bagian difungsikan untuk kantor, saya liat didalam ibu ibu bapak bapak sibuk kerja.
    karena aku datang kesini tengah hari dannn mayan juga panasnya makasar, cetar
    sekarang kujadi tau benteng ujung pandang itu dimana hehe

    1. haha iyaa,, justru benteng ini adalah pelopor tumbuhnya keramaian di sekitarnya πŸ˜€

      sama bgt kaya aku,, datang di weekday dan siang hari, alhasil jumpa banyak org yg lagi kerja di dlm bangunan2nya, sedangkan di luarnya panaaas bgt…

  20. 2015 lalu, pertama kali mendarat di Makassar setelah 4 hari pelayaran dari Jakarta.
    Sayang, waktu itu cuma lewat fort rotterdam doang, nggak masuk ke dalem karena udah keburu gelap.

    Next balik ke Makassar harus banget mampir ke sini sih.
    Btw Makassar ini udah jadi bucketlist dari tahun 2013 hahaha. Alhamdulilah kesampean ke Makassar 2015.

    1. wow 4 hari berlayar dari Jakarta, rasanya gimana yaa?? Aku berlayar paling lama sekitar 24 jam dari Ternate ke Sorong..

      Kalau aku pertama ke Makassar tahun 2014, tapi ngga explore wisatanya sih waktu itu, cuma jalan ke mall aja wkwk..

  21. Keren banget, selama ini cuma ngeliat di buku-buku sejarah dan nggak pernah ngulik sendiri bagaimana penampakan bangunan tersebut saat ini. Tapi ngunjungin tempat-tempat bersejarah macam ini tuh kaya punya kesan tersendiri, kaya ada banyak banget insight-insight baru yang bisa didapetin, dapetin sesuatu yang nggak pernah dibahas dibuku manapun.

    1. setelah baca2 tentang suatu tempat, terus berkunjung langsung itu emang ada seperti perasaan lengkap gitu,, apalagi kalau berkunjung ke tempat bersejarah kek gini,, kaya kembali ke masa lalu, membayangkan apa yg terjadi di masa itu..

  22. Aku malah baru dengar nih nama Benteng Ujung Pandang, ternyata Fort Rotterdam. Aku juga baru tahu kalo Benteng Ujung Pandang Yang bangun orang pribumi. Dan ternyata gede banget ya luasnya.

    1. aku pun dulu gitu, sebelum menggali info lebih lanjut, ya taunya fort rotterdam ini bikinan belanda karena namanya belanda bgt.. terjadi awalnya dibangun pribumi yg diubah identitas bangunan dan namanya oleh belanda..

Leave a Reply