Benteng Somba Opu, Saksi Bisu Pertempuran Sultan Hasanuddin Melawan Speelman dan Arung Palakka

Di Makassar, salah satu pertempuran terbesar melawan VOC terjadi. Sultan Hasanuddin memimpin pasukan Kerajaan Gowa-Tallo memerangi VOC yang melakukan monopoli perdagangan. Di pihak lawan, VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman merangkul banyak kerajaan yang lebih kecil. Arung Palakka yang ingin mengembalikan harga dirinya dan rakyat Kerajaan Bone yang ditaklukan Gowa-Tallo, juga turut membantu VOC. Tentu, kejadian tersebut telah terjadi ratusan tahun silam. Sekarang semuanya telah tiada, kecuali Benteng Somba Opu, saksi bisu penaklukan Kerajaan Gowa-Tallo oleh VOC.

Benteng Somba Opu

Di sudut kecil perbatasan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, Benteng Sombu Opu berada. Walaupun sangat dekat dengan pantai, tetapi udaranya cukup sejuk. Tak lain karena spot wisata ini dipenuhi dengan pohon-pohon rindang.

Beberapa bangunan rumah adat suku-suku yang ada di Sulawesi Selatan berdiri di beberapa sudutnya. Saya tak tahu, apakah bangunan-bangunan tersebut hanya untuk pajangan saja atau bisa dimanfaatkan untuk ruang pertemuan ataupun penginapan.

rumah adat sulsesl

Benteng Somba Opu tersusun dari batu bata yang saat ini sudah ditumbuhi lumut. Dindingnya sangat tebal dan tinggi, dengan ketebalan mencapai 4 meter dan tinggi mencapai 8 meter. Hanya saja, sisa-sisa benteng yang masih ada tingginya hanya sekitar 3 meter saja.

Suasana saat itu tak terlalu ramai, hanya ada sekelompok anak remaja seusia SMP yang sedang duduk-duduk santai di bawah sebuah pohon rindang di depan benteng. Sedangkan di area bentengnya sendiri sangat sepi. Padahal, benteng ini memiliki kisah sejarah yang kuat, yang erat kaitannya dengan aktivitas kehidupan di Kota Makassar dan sekitarnya pada masa lalu.

benteng somba opu

Dulu, di dalam benteng ini adalah istana dan tempat tinggal raja dan para bangsawan. Sedangkan di luar benteng, aktivitas perdagangan antar bangsa menggeliat. Bukan hanya rakyat Sulawesi, tapi juga dari bangsa Melayu, Siam, Cina, Gujarat bahkan dari beberapa negara Eropa berbondong-bondong melakukan jual beli di tanah ini. Namun, petaka terjadi setelah VOC semakin membatasi aktivitas perdagangan di sekitar Kerajaan Gowa-Tallo yang memicu terjadinya perang.

Terdapat 3 nama besar yang terlibat dalam perang yang berakhir dengan jatuhnya Benteng Somba Opu ke tangan VOC. Mereka adalah Sultan Hasanuddin, Cornelis Speelman, dan Arung Palakka.

Sultan Hasanuddin

Nama Sultan Hasanuddin sejatinya adalah gelar, sedangkan nama aslinya adalah Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Ia adalah raja Gowa ke-16. Di bawah Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa-Tallo mengalami masa keemasan. Kerajaan Gowa-Tallo menjadi kerjaan terkuat di wilayah timur dan kekuasannya sampai hampir setengah Nusantara.

Sultan Hasanuddin memimpin Perang Makassar selama beberapa tahun melawan VOC. Perjanjian damai dilakukan berkali-kali tetapi selalu merugikan pihak Gowa. Sampai akhirnya, meletuslah perang terhebat antara VOC dan Gowa-Tallo.

Cornelis Speelman

Cornelis Speelman adalah seorang Belanda yang termasuk 1 dari 3 tokoh jagoan di tanah Batavia. 2 orang sekutunya yaitu Arung Palakka dari Bone dan Kapiten Jongker dari Ambon. Ketiganya memiliki nasib serupa, sama-sama terasing dari lingkungannya.

Speelman dikucilkan karena kasus korupsi di dalam tubuh VOC yang menimpanya. Untuk memulihkan nama baik, ia memimpin pasukan VOC untuk meredam perlawanan Sultan Hasanuddin di Makassar.

Arung Palakka

Arung Palakka, seorang pangeran dari Kerajaan Bone yang tak sempat menjadi Raja. Saat ia kecil, Kerajaan Gowa menaklukan Bone dan ia pun hidup dalam kungkungan kerajaan Gowa. Setelah dewasa, Arung Palakka dan pasukannya melarikan diri ke Batavia dan bersekutu dengan Speelman.

Di satu sisi, Arung Palakka adalah sekutu VOC. Beberapa kali ia membantu VOC melawan pemberontakan-pemberontakan di daerah. Salah satu yang terkenal adalah perannya dalam meredakan pemberontakan di Ranah Minang.

Video perjalanan ke Benteng Somba Opu bisa dilihat di sini

Di sisi lain, Arung Palakka ingin mengembalikan harga diri bangsanya, Bugis Bone, dari cengkeraman Kerajaan Gowa. Untuk itulah, Arung Palakka membantu Speelman memerangi dan menaklukan Kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan yang melumpuhkan bangsanya.

Baca juga: Museum Balla Lompoa, Mengenal Kerajaan Gowa-Tallo dan Sultan Hasanuddin

Takluknya Ayam Jantan dari Timur

Benteng Somba Opu adalah pertahanan terakhir Kerajaan Gowa-Tallo. Ketika benteng ini jatuh ke tangan VOC pada tanggal 22 Juni 1669, maka Gowa-Tallo takluk. Sultan Hasanuddin yang tak mau tunduk kepada VOC harus turun tahta. Peperangan yang terjadi bertahun-tahun tersebut dikenal dengan nama Perang Makassar.

Setelah penaklukan, VOC menghancurkan Benteng Somba Opu. Benteng Somba Opu yang masih bisa kita lihat sekarang hanyalah sisa puing-puing dari keseluruhan bangunan yang telah hancur. Puing-puing itu pun telah mengalami revitalisasi walaupun tetap tak seperti seutuhnya dulu.

Walaupun Kerajaan Gowa-Tallo telah dikalahkan dan Benteng Somba Opu telah dihancurkan, namun heroisme Sultan Hasanuddin masih terpatri di benak masyarakat Makassar. Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Universitas Hasanuddin, dan nama jalan yang memakai nama Hasanuddin adalah beberapa contoh nyata begitu dihormatinya Sultan Hasanuddin.

benteng somba opu

Hari semakin sore, kunjungan saya di Benteng Somba Opu harus berakhir. Wahai benteng dan arwah para leluhur yang ada di sini, sampaikan salam saya kepada raja tertangguhmu, Haaantjes van het Oosten, alias Ayam Jantan dari Timur ( Sultan Hasanuddin).

Tabik.

***

Traveler Paruh Waktu

Travel Blogger Indonesia.

Related Posts

45 Responses
  1. Saya tak tahu, apakah bangunan-bangunan tersebut hanya untuk pajangan saja atau bisa dimanfaatkan untuk ruang pertemuan ataupun penginapan.

    Tanya dong Om Barra. Hehe…

    Wahai benteng dan arwah para leluhur yang ada di sini, sampaikan salam saya kepada raja tertangguhmu, Haaantjes van het Oosten, alias Ayam Jantan dari Timur ( Sultan Hasanuddin).

    Dan ini belajar dari mana Om?

  2. Keren banget postingan ini, Bung. Dari paragraf awal sampai akhir saya tenggelam dalam cerita Gowa-Tallo versus VOC dan Arung Palakka.

    Kalau dalam konteks zaman kerajaan dulu, sebelum istilah Indonesia muncul, kalau dipikir-pikir apa yang dilakukan Arung Palakka itu sama sekali bukan pengkhianatan, ya. Soalnya itu cuma usahanya untuk mengembalikan apa yang sudah diambil darinya. Dan wajar-wajar saja ia mencari sekutu. Perkara apakah sekutunya itu akan mengkhianatinya, hanya waktu yang akhirnya menjawab.

    Btw, saya jadi penasaran sama Kapiten Jongker dari Ambon ini. Di Melaka ada jalan Jonker Street… Apakah mungkin nama itu berasasl dari nama kapiten ini?

    1. sepemikiran bung.. zaman dulu masih bentuk2 kerajaan masing2, belum ada itu NKRI.. jadi ya sah2 saja sih kalau menurut saya,, mana yang menguntungkan diri dan rakyatnya itu yang dipilih.. beda halnya kalau saat itu sudah terbentuk Indonesia.

      Bisa jadi ya bung, saya sendiri belum menggali info lebih tentang Kapiten Jongker..

    1. Seru sekali sejarahnya Bang, baru tahu nih nama asli dari Sultan Hasanuddin. Beliau jadi inspirasi bagi generasi muda Makasar yg terkenal tangguh

  3. Sultan Hasanuddin ternyata itu hanya gelar. Wkwkwk… ke mana aja aku selama pelajaran sekolah? Hmm… Udah lama sih nggak belajar sejarah. Baca postingan ini jadi berasa jalan-jalan sambil belajar Sejarah lagi.

    Btw, kasihan Arung Palakka nggak jadi raja, pasti dia ganteng banget, dan kesukaan cewek-cewek zaman itu. Halah… pikiranku malah ke sana deh. Tapi, aku akui, pada masa hidupnya dia cukup keren dengan melakukan banyak peran, ini murni imajinasiku dari baca post di atas.

    Anyway, tapi kenapa Arung Palakka nggak jadi raja? Nggak ada informasinya nih, meninggalkah atau diasingkan? Zaman itu hanya 2 hal yang terjadi ke orang-orang yang punya peran penting tapi gagal mencapai target, kan?

    1. sambil WFH sambil belajar sejarah lagi kita πŸ˜€

      Wah insting cewenya langsung melayang2 membayangkan Arung Palakka jadi raja nih haha..

      Sepengetahuan saya sih, dia setelah itu kembali loncat dari satu tempat ke tempat lain membantu VOC.. Mungkin yang penting rakyatnya sudah bebas dari kerajaan Gowa-Tallo..

  4. Ada satu hal positif dari Penjajah Belanada yang sepertinya tidak banyak diingat oleh generasi kita. Adalah bagaimana Belanda begitu lihai dan pandai dalam membangun sebuah mercusuar. Entah itu bangunan gedung, irigasi, bendungan, dan semacamnya. Dan hari ini, masih begitu banyak peninggalan bangunan belanda yang masih utuh. Padahal usianya udah beratus tahun.

    Bandingkan dengan kondisi dan kualitas bangunan yang kita bikin hari ini.

  5. Sayang sekali ya sultan Hasanuddin harus takluk dari VOC, padahal kalo menang mungkin sejarah akan berubah.

    Arung Palakka juga, kenapa lebih memihak bangsa Belanda dari pada bangsa sendiri, mungkin karena kerajaan Bone kalah kali ya, jadinya dia dendam.

    1. Bangsanya si Arung Palakka itu kerajaan Bone, mas :)) kalau yang di bawah naungan Sultan Hasanuddin pada masa itu (kerajaan Gowa) sepertinya bukan bangsanya Arung Palakka makanya nggak dia bela. Justru yang saya tangkap dari cerita di atas, Arung Palakka membela bangsanya dengan berusaha mengembalikan kekuasaan kerajaan Bone yang mungkin pernah diambilalih oleh Sultan Hasanuddin (meski sampai harus meminta bantuan dari VOC segala) *mengarang bebas ceritanyah* πŸ˜€

    2. zaman dulu kan belum terbentuk Indonesia, jadi masing-masing kerajaan punya kepentingan masing-masing dan belum bersatu, belum ada orang yang menyatukan dan menyemarakkan rasa senasib sepenanggungan.

  6. Finally pertanyaan saya di post sebelumnya terjawab pada post ini saya jadi belajar lebih banyak soal Sultan Hasanuddin dan VOC serta Arung Palakka hehehe. Dan sekarang saya baru tau kalau Sultan Hasanuddin itu bukan nama asli sang Raja

    By the way, usia bentengnya tua juga ya mas, sudah ratusan tahun tapi tetap bisa berdiri kokoh meski hanya sisa puing-puing saja. Jadi membayangkan seperti apa dulu bentuknya saat tingginya masih 8m karena yang tinggi 3m saja sudah terlihat besar

    1. hihi, rasa penasarannya sudah terjawab ya πŸ˜€

      itu karena revitalisasi juga sih,, ngga tau juga ya sebelum direvitalisasi bentuknya kek gimana.. soalnya yg direvitalisasi juga cuma sedikit bagian saja.. sisanya udah hancur karena dulu emang dihancurkan belanda kan..

  7. Bisa merinding juga saya baca ginian, dari banyaknya sejarah nusantara hanya menjadi sebuah cerita tidak diterapkan dalam sendi sendi kehidupan, bukan berarti saya sendiri sudah menerapkannya. Sebagai contohnya diatas Sultan Hasanuddin, beliau punya prinsip, tujuan dan tekad yang kuat walaupun akhirnya berakhir dengan perang. Ada yang menarik dari ulasan diatas yakni mengenai Cornelis, dia korupsi juga di voc, lebih-lebih ada kesempatan knpa enggak, mungkin itu juga yang dipikirkan oleh org yang korupsi di indonesia, “kesempatan”.

  8. julukannya itu gak pernah lupa dalam sejarah. sultan hasanuddin itu heroic banget. orang Indonesia terutama makasar bangga banget punya pahlawan seperti beliau.

  9. Salah satu kisah heroik dalam melawan penjajahan.
    Semoga kisahnya perjuangannya tetap abadi.
    Tapi sayangnya tempat bersejarah seperti ini selalu sepi ya Mas, takut generasi selanjutnya akan melupakan sejarah perjuangan mereka.

    1. iyaa, sangat disayangkan yaa.. harusnya ada guide juga supaya ada yg bisa menjelaskan secara terperinci..

      kalau bung Rudi pasti suka bgt datang ke tempat2 bersejarah seperti ini ya kan? hehe..

  10. Waktu outing kantor ke Makasar, seingetku sih kami mampir ke benteng ini .. tp ntah kenapa aku ga inget. Krn ngeliat foto2 nya aku ngerasa kayak pernah kesana :D. Kadang2 aku tuh inget dengan tempat yg didatangin, tp lupa namanya mas.

    Kalo DTG ke tempat bersejarah gini, biasanya aku suka inget2 lagi ttg ceritanya.. ttg pahlawan yang terlibat, perangnya sehebat apa, latar belakang perangnya… Menarik aja, apalagi kalo di tempat begini ada guide yang bisa menceritakan sejarahnya. Jd LBH paham πŸ™‚

    1. wah tahun berapa tuh mbak? benteng ini emang kurang terkenal sih kalau dibandingkan dengan fort rotterdam soalnya tempatnya lbh strategis fort rotterdam..

      sama mbak,, aku pun kalau dtg ke tempat2 bersejarah gitu biasanya langsung cari2 info di internet atau di papan informasinya.. kalau ada guidenya emang lebih mantul sih ini..

  11. Benteng Somba Opu sayangnya memang nggak terlalu ramai ya dikunjungi dibandingkan tempat wisata sejarah lainnya di sana. Saya sempat ke sana juga tapi memang nggak mampir lama. Mungkin kali berikutnya mesti menyusuri!

  12. Itu yang kayak taman mininya sulsel masih di sekitaran benteng somba opu Bar? Pengen liat haha…

    Flash back lagi deh ke zaman pelajaran IPS, salah satu mapel favorit jaman sekolah πŸ™‚
    Kalo liat dari bentuknya yg minimalis kayaknya ini benteng buatan kerajaan ya, bukan buatan VOC

  13. baca ini jadi keinget sebutan lain dari sultan hasanudin, flashback lagi soal sejarah perang perang sama VOC
    nama asli sultan hasanudin segitu panjangnya, aku aja udah lupa hehe

Leave a Reply