Serunya Berburu Kupu-kupu Bersama Warga Lokal Bantimurung

Anak-anak kecil itu berlarian, melompat-lompat dan mengayun-ayunkan jaring di genggaman. Satu anak memutar jaring sehingga melilit dan tak ada akses keluar bagi hewan yang ditangkapnya. Beberapa anak lainnya berhenti mengejar, mungkin targetnya telah kabur. Sedangkan sisanya tampak masih mengejar serangga terbang itu. Di sini, di Taman Nasional Bantimurung Bullusaraung, berburu kupu-kupu menjadi hal yang umum dilakukan penduduk lokal.

Kupu-kupu, siapa yang tak suka melihat serangga ini? Parasnya yang indah dengan sepasang sayap yang lebar seringkali menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Di satu titik wilayah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tepatnya di Taman Nasional Bantimurung Bullusaraung, populasi kupu-kupu sangat melimpah.

Semakin hari, semakin jarang saya melihat kupu-kupu. Ketika ada 1 saja kupu-kupu yang melintas di sekitar saya, saya suka tertarik untuk memperhatikannya. Makanya, ketika saya melihat dengan mata kepala saya sendiri populasi kupu-kupu yang sangat banyak di Bantimurung, saya takjub. Seumur hidup, saya tak pernah melihat berbagai macam warna dan ukuran kupu-kupu yang berada di satu tempat dengan jumlah yang sangat banyak. Amazing!!

Bertemu Para Pemburu Kupu-kupu

Saat hendak berkunjung ke Taman Kupu-kupu dan Helena Sky Bridge di Taman Nasional Bantimurung Bullusaraung, fokus saya teralihkan ke hal menarik yang baru pertama saya lihat. Sepeda motor saya hentikan. Di depan saya, tampak warga lokal bergerombol di depan taman bunga berbatas tebing. Hampir masing-masing dari mereka membawa sebuah jaring.

berburu kupu-kupu bantimurung
ada beberapa wanita dewasa yang ikut berburu kupu-kupu bareng anak-anak

Seketika saya teringat dengan Spongebob dan Patrick yang suka berburu ubur-ubur menggunakan jaring serupa. Tapi, mana mungkin ada ubur-ubur di Taman Nasional Bantimurung? Kami di pinggiran hutan yang jauh dari pantai. Lalu apa kiranya yang hendak mereka tangkap? Tiba-tiba, seorang anak berlari, mengejar makhluk kecil yang terbang rendah. Hap! Seekor kupu-kupu jelita berhasil ditangkapnya.

Perjalanan kali ini saya tak lagi sendiri. Riscy, seorang kawan yang saya kenal dari Couchsurfing, turut serta bertualang dari Makassar sampai Toraja. Riscy adalah orang Makassar berdarah Toraja yang mengenyam kuliah di Bali. Kebetulan saat itu dia sedang mudik ke Sulawesi.

Saya dan Riscy pun terlibat perbincangan hangat dengan mereka. Ramah sekali mereka menyambut kami. Mereka menunjukkan kepada kami kupu-kupu yang telah mereka tangkap, lumayan banyak dan cantik-cantik. Masing-masing jenis memiliki nama sendiri. Ada yang namanya merah putih, bolo-bolo, gigong, alena, palma, dll. Tentu itu adalah nama lokal, bukan nama ilmiahnya.

Kupu-kupu semakin banyak berdatangan. Anak-anak dan beberapa perempuan yang sudah dewasa langsung sigap menyiapkan jaringnya.. Mereka berlarian ke berbagai penjuru mata angin, menuju kupu-kupu incaran masing-masing. Mereka yang berhasil menangkap serangga itu langsung memutar jaring sehingga tak ada jalan keluar, kupu-kupu itu pun terperangkap. Melihat adegan yang seru itu, saya jadi teringat keceriaan Spongebob dan Patrick saat mengejar dan menangkap ubur-ubur.

Kapan saat yang tepat berburu kupu-kupu?

Saat asik memandangi anak-anak yang berlarian ke sana ke mari berburu kupu-kupu, seorang ibu membocorkan rahasia perburuan kepada saya. “Mas, waktu yang paling tepat berburu kupu-kupu itu di pagi hari kalau langit sedang cerah, apalagi kalau malam sebelumnya hujan mengguyur. Paginya, tunggu saja sampai matahari bersinar cerah nanti pada bermunculan. Tapi kalau pagi-pagi turun hujan, kupu-kupu tidak keluar”, ucap si ibu.

berburu kupu-kupu dimulai

Saya perhatikan, memang, ketika sinar surya perlahan mengisi setiap celah kosong diantara dedaunan, ketika hari menghangat, kupu-kupu datang semakin banyak. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah banyak saja kupu-kupu berbagai jenis dan ukuran di sekitar taman bunga kecil itu.

Menangkap Kupu-kupu Tak Semudah yang Dibayangkan

Rasa penasaran menguar kala melihat keseruan anak-anak itu menangkap kupu-kupu.. Saya pun meminjam 1 buah jaring dari seorang anak. Saya pegang jaring itu dengan mantap dan mulai mendekati taman bunga kecil itu. Perburuan dimulai.

Baca juga: Jalan-jalan ke Fort Rotterdam yang Ternyata Bukan Buatan Belanda

Seekor kupu-kupu terbang mendekat. Jaring saya angkat lalu saya berlari mengejar serangga itu. Merasa target sudah terkunci, saya langsung kibaskan jaring itu ke arah kupu-kupu. Wussss!! Hanya angin yang saya tangkap, kupu-kupu itu berhasil menghindar, lalu terbang menjauh, dan hilang dibalik dedaunan. Percobaan pertama gagal!

Kupu-kupu lain tampak terbang pelan di sekitar tanaman bunga. Saya mengendap-endap mendekatinya sebelum serangan jaring secepat kilat saya lancarkan. Wuss!! Gagal lagi.. Percobaan-percobaan berikutnya pun sama saja, gagal. Akhirnya saya menyerah dan jaring saya kembalikan kepada pemiliknya..

kupu-kupu untuk cenderamata
supaya tidak disemutin dan tidak rusak harus dibungkus seperti ini

Selain susah, saya pun sebenarnya nggak tega menangkap hewan yang cantik ini. Anak-anak itu tak hanya menangkapnya, tetapi kemudian mereka akan membunuh kupu-kupu itu untuk dijadikan cenderamata. Cenderamata itu lalu dijual kepada para pengunjung taman nasional bantimurung bullusaraung.

Saya jarang mengambil foto di spot ini, untuk lebih jelasnya bisa melihat travel vlog saya di bawah ini

Saya tak tahu bagaimana kehidupan masing-masing individu di sana. Siapa tahu, itu adalah salah satu cara yang mereka bisa lakukan untuk mencukupi banyak kebutuhan hidup. Saya hanya diam, menyaksikan, menikmati momen, tanpa perlu menjadi social justice warrior.

Ada Kemiripan Dengan Masa Kecil Saya

Melihat keceriaan anak-anak itu, saya terkenang masa kecil saya di desa. Di waktu-waktu tertentu, ada masa di mana desa kami “diserang” olehΒ  ribuan atau ratusan rabu atau justru malah jutaan laron -entahlah berapa angka yang sebenarnya.. Melihat banyak sekali laron yang terbang di jalanan, saya dan teman-teman suka sekali memburunya, menangkap satu demi satu hewan kecil itu dan memasukannya ke dalam kantong plastik.

Ada syair berbahasa sunda yang kami nyanyikan saat menangkapnya. “hampang-hampang kapas, beurat-beurat beusi (ringan-ringan kapas, berat-berat besi)”, begitulah nyanyian kami di sore hari tiap musim laron tiba. Liriknya saya masih hafal, hanya nadanya sudah lupa tergerus keriput. Konon, dengan syair itu, laron yang terbang tinggi akan turun, haha..

Di rumah, orang tua saya mengisi ember lebar dengan air dan diletakkan di depan rumah. Nantinya, laron-laron akan masuk ke ember itu dan terperangkap, entah kenapa seperti itu. Tak sedikit pula laron yang kehilangan sayapnya dan hanya bisa berjalan di lantai rumah. Kami menangkapnya satu-persatu dan digabungkan ke dalam ember. Lebih seru menangkap di jalanan, tapi cara yang kedua ini lebih cepat untuk mengumpulkan laron.

Lalu dikemanakan laron-laron itu? Kami goreng! dan kami makan. Enak dan gurih! Apakah teman-teman ada juga yang pernah makan laron? Ahaha..

Tapi saya lupa, kapan terakhir kali kami berpesta buruan laron itu, rasanya sudah lama sekali. Rasanya tak pernah lagi saya menjumpai gerombolan laron menghujani desa saya. Sayangnya di masa itu, camcorder adalah barang mahal untuk kami sehingga memori hanya terekam di otak, itu pun samar-samar.

Saya perhatikan wajah anak-anak itu. Saya menangkap rona-rona keceriaan di wajah mereka saat berhasil menangkap kupu-kupu. Rona yang sama pernah saya lihat di wajah teman-teman kecil saya. Mungkin hal yang sama juga dilihat oleh teman-teman saya dari wajah saya saat kami berburu laron. Sesederhana itu saya bahagia, dulu. Dan di sini, di Bantimurung, keceriaan sederhana seperti itu belum punah. Dan semoga kupu-kupu yang ada di sini juga terhindar dari kepunahan, terutama kupu-kupu endemiknya πŸ™‚ .

Tabik.

 

***

traveler paruh waktu

 

 

 

 

Travel Blogger Indonesia.

Related Posts

64 Responses
  1. Sebenarnya aku ikut prihatin tau kupu-kupu diburu seperti itu.
    Bukankah Bantimurung memang terkenal sebagai populasi kupu-kupu …, kalo diburu apa ngga mempengaruhi jumlah populasi, ya ?.

    Terus, tentang laron …
    Hahahaa … sama banget kayak masa kecilku .
    Seneng banget berburu laron bareng temen2 terus dimasak jadi campuran telur dadar.

    1. aku pun prihatin liat perburuan, tapi gak mau menghakimi karena aku gak tahu banyak kan, ke sana cuma 2 hari aja.. aku gak tau apakah pemda sudah membina mereka, apakah perburuan yg mereka lakukan termasuk perburuan skala kecil yang masih dalam batas wajar, atau hal-hal lain yg mungkin kita gak tau,, jadi aku lebih memilih untuk diam sambil mengamati mereka berburu..

      wah tos.. ternyata masa kecil kita sama, sama2 pemburu dan pemakan laron hahaha.. ku jadi ingat masa2 indah waktu kecil dulu..

      1. Betul juga mas Bara belum tau betul sudah tidaknya mereka dibina dan boleh tidaknya perburuan kupu-kupu dilakukan.

        Hahaaha .., enak ya laron dimasak buat campuran telor dadar.
        Gurih rasanya πŸ˜€

  2. Izinkan saya yang menjadi social justice warrior di komen postingan ini mas hahahha. Saya baru tahu kalau kupu-kupu yang cantik itu ditangkap dan dijadikan cindera mata untuk dijual. Setuju sama mas Himawan, memang sebaiknya dibiarkan lepas. Mungkin memang perlu diberikan kegiatan lain ya penduduk di sekitar Bantimurung yang bisa menghasilkan agar mereka tidak jadi penangkap kupu-kupu. Mungkin bisa bikin suvenir non kupu-kupu atau mungkin pergelaran seni di dalam Bantimurung. Ini sotoynya saya aja sih hehe

    Eh btw air terjunnya ga dipotret mas?

    1. nah, karena saya cuma 2 hari di sana, jadi nggak begitu mengetahui apakah perburuan itu masih dalam skala wajar, apakah tidak berpengaruh terhadap populasi kupu-kupu di sana atau bagaimana, karena rasanya cuma baru liat kulitnya doang, gak berhak menghakimi.. tapi mas cipu sebagai orang sulsel mungkin punya informasi yang lebih lengkap terkait hal itu hehe.. kalau saya sih juga gak tega liat kupu2 yg cantik2 itu dijadikan souvenir πŸ™

      motret kok, tapi nanti dimunculkan di postingan terpisah ahaha..

  3. Sayang sekali kupu-kupu secantik itu harus ditangkap dan dibunuh untuk dijadikan cendera mata. Tapi balik lagi ke penduduk sekitar, jika itu adalah cara mereka untuk mencari makan dengan cara menjual cendera mata tersebut, ya mau bagaimana lagi.

    Melihat cerita ini, saya juga jadi teringat masa kecil dulu di kampung yang kalo pagi depan rumah banyak dijumpai kupu-kupu dan juga burung-burung kecil. Hampir setiap pagi selalu muncu depan rumah. Tapi belum pernah sih sampe ditangkep seperti di Bantimurung ini. Jujur saja, bukannya gak mau, dulu memang takut aja kalo pegang kupu-kupu, secara kan kupu-kupu adalah binatang yang bermetamorfosis dari ulet. Jadi gak berani hehe
    Seiring perkembangan zaman, sekarang ketika pulang kampung, belum pernah saya jumpai lagi kupu-kupu yang biasa bermain depan rumah.

    Oh iya, kalo soal laron ini, dulu saya juga pernah juga nangkep waktu masih SD. Di sana sih biasanya disebut “Siraru”. Tapi kalo sampe dimakan, belum pernah. Yang paling aneh, saya pernah makan lebah sama temen-temen saya. Rasanya gurih juga kalo digoreng, tapi kalo kebanyakan pusing juga kepala haha

    1. apakah mungkin mereka kurang diedukasi? atau belum ada aksi nyata dari pemda untuk memutus siklus ini? ah entahlah, saya tak mau terlalu dini menyimpulkan hehe..

      kupu-kupu waktu kecil pernah nangkap tapi untuk iseng aja sih, abis itu dilepasin lagi..

      ahaha, orang sunda jg nih pasti.. di tempatku namanya “silaru”, beda tipis sama “siraru”..

      lebah mah sampe sekarang juga kalau mudik masih suka makan kalau ua dapet dari hutan.. lebih tepatnya nyiruan kan?? itu saya juga suka bgt euyy,, dipapais guriiih pisaaan hahaha..

  4. Rata rata yang komentar menyayangkan kalo kupu kupu tersebut ditangkap, aku juga sebenarnya menyayangkan karena kasihan melihatnya. Tapi mungkin sudah jadi tradisi jadinya susah diubah kali ya. Mungkin sebaiknya menangkap kupu kupu malam saja.

    Memang kalo melihat penangkapan kupu kupu kok memang mirip Spongebob dan Patrick berburu ubur ubur.

    1. nah itu,, mungkin tradisi, mungkin populasinya masih terkontrol, dan mungkin2 lainnya.. kita hanya melihat kulitnya saja, itulah kenapa saya ngga mau banyak berkomentar ttg boleh atau tidaknya.. kalau kasian sih ya kasian sm kupu2 yg cantik2 itu…

      kupu-kupu malam dalam arti yg sebenarnya atau kiasan mas? hahaha.. kalau dalam arti yg sebenarnya,, justru jenis kupu2 malam yg ada di bantimurung lebih banyak..

      nah iya kaan, mirip spongebob dan patrick berburu ubur-ubur..

  5. nggak tega kupu2nya diburu begitu, dulu pas masih kecil aku suka marah2 ketemanku yg suka nangkap kupu2 dan belalang cuma buat mainan πŸ™
    btw aku nggak pernah makan laron juga, nggak tega mas. dasar nggak tegaan, kl ayam, kambing, sapi tega2 aja krna populasinya banyak tiap musim ada, kl laron ini adanya musiman doang ya?

    1. aku waktu kecil pernah nangkap kupu2 buat iseng juga tapi abis itu dilepas kok.. wkwk.. kalau belalang nih paling sering nangkep, di sawah banyak… pissssss!!! πŸ˜€

      kalau laron musiman, dulu sih.. kalau sekarang ngga tau,, udah jarang mudik juga soalnya, tapi kayanya emang udah jarang bgt.. kalaupun ada, ukurannya lebih kecil dari laron biasanya…

          1. Oh beda ya, mungkin aku di kampung kali jadinya masih banyak laron. Kalo hujan pas musim kemarau biasanya banyak laron keluar, mana gede gede lagi.

  6. Wow akhirnya artikel yg saya cari udh di-posting. Setelah menonton videonya jadi semakin komplit informasinya.

    Kalau lihat kupu2 banyak, saya jadi teringat taman kupu-kupu di Bali, asyik sekali emang bisa lihat serangga yg cantik dan warnanya beraneka macam sedang terbang tanpa takut di dekat kita.

    Kalau bisa lihat di habitat aslinya pasti lebih seru asal nggak keburu habis buat dijadikan souvernir hehehe

    Dulu waktu kecil pernah nangkep laron di ember atau baskom berisi air lalu digoreng. Kalau skrg udh nggak selera lagi hehehe

    1. ahaha.. kalau di video narasinya jauh lebih sedikit daripada di blog mas,, tapi di video kita bisa melihat suasananya secara lebih “hidup”..
      lihat di habitatnya betul mas lebih seru karena mereka adalah produk asli alam hehe.. ya semoga aja populasinya tetap terjaga mas..
      wah ternyata banyak juga ya yg masa kecilnya suka nangkep laron dan memakannya,, komen dari temen2 lain juga begitu πŸ˜€

    1. nah itu yang saya ngga tau pastinya mas, ntah dibolehkan atau nggak.. saya ngga punya kapasitas juga untuk menjudge hehe.. ya paling saya hanya bisa berdoa semoga populasi kupu2nya terjaga..

  7. Kalau ubur-ubur ada di Bantimurung, apa mungkin kupu-kupu ada di laut? hahaha. By the way, saya juga termasuk yang sudah jarang lihat kupu-kupu, sekalinya ingin lihat, paling harus ke taman kupu-kupu yang memang dikhususkan sebagai pembudidayaan kupu-kupu πŸ˜€ padahal jaman kecil, mau lihat kupu-kupu gampang sekali, tinggal memperhatikan tanaman yang ibu saya tanam, kadang sore hari ada saja kupu-kupu lewat πŸ˜€

    Terus saya jadi ketawa baca nama bolo-bolo, apa yang kasih nama terinspirasi dari Tina Toon, ya? πŸ˜€ hhahaha. Eniho, kalau kupu-kupu itu sampai ada banyak di sana, dan memang tujuannya untuk ditangkap, dibunuh lalu jadi cenderamata, bisa jadi mereka memang ternak mas. Kan kupu-kupu juga ada asal muasalnya, so ada kemungkinan mereka yang mengembang biakkannya (nggak ada yang tau sih ya hihihi) tapi menurut saya selama memang nggak ada larangan (apalagi dijual di dalam Taman Nasional), means penangkapan dan penjualannya as cenderemata bisa jadi legal πŸ˜€

    Ps: jaman saya kecil juga sering berburu laron, kadang laron itu datang tanpa diundang, dan bergerombol banyak. Biasanya sama ibu diletakkan ember persis cerita mas πŸ˜€ tapi too bad saya belum pernah merasakan laron kalau digoreng karena biasanya setelah laron terkumpul, sama ibu langsung dibuang hehehehe.

    1. sama euy,, waktu kecil kayanya hampir tiap hari ketemu kupu-kupu.. sekarang mah udah jaraaaaaaaang bgttttt!!

      ahaha, entah apa yang mengilhami mereka memberikan nama bolo-bolo.. apakah itu jenis kupu2 paling baik di sana? wkwk ..

      populasi kupu-kupu di sana banyak memang sejak zaman dahulu kala mbak.. wallace dalam penjelajahannya di tanah celebes juga pernah membahas itu zaman dulu.. memang di sana habitat kupu-kupu, mayoritas jenis kupu2nya bisa ditemukan di belahan Indonesia lain,, tapi ada juga beberapa jenis kupu-kupu yg endemik bantimurung.. kalau tentang legal atau nggak menangkap kupu-kupu di sana, itu yang saya tak cukup informasi..

      ternyata memang zaman dulu sudah sangat umum ya menangkap laron dengan ember,, dan sepertinya merata di tanah jawa perihal musim laron ini.. too bad saya nggak pernah menjumpai lagi.. tiap mudik ke rumah ortu gak pernah lagi ada musim laron, dan nggak pernah nanya juga apa di hari lainnya dalam setahun ada musim laron hehee..

  8. Sering banget lihat liputan kupu-kupu bantimurung ini di TV dan berharap suatu hari nanti saya bisa ikutan ke sana πŸ™‚

    Meskipun saya suka lihat cantik warna kupu-kupu, tapi jujur saya takut sebenarnya, takut digigit *lebay hahaha

  9. Waduhhh kupu kupu yang ditangkap itu apakah tidak rusak yaa kalau ditangkap menggunakan alat seperti itu, malah kalau dijual menjadi murah.. yang saya tahu sayap kupu kupu itu kalau terkena sesuatu mudah hilang, dan rapuh..

  10. Belum pernah makan laron, ahaha.. sepertinya rasa dari laron itu kyk jangkrik? atau capung? Kedua makhluk itu pernah sih untuk laron belum. Sepertinya menarik untuk kuliner extreme

    1. wah kalau jangkrik sama capung malah saya belum pernah, saya bayanginnya malah aneh apalagi capung wkwk..

      kalau laron itu gimana yaa, terakhir makan waktu zaman SD, tapi seingatku rasanya gurih ..

  11. Aku suka kupu-kupu . Kalau ada kupu-kupu terbang di halaman atau teras rasanya senang sekali terkesan ceria bila ada kupu-kupu.
    Oh tapi kupu-kupu yang ditangkap di taman kupu-kupu apakah dilepas lagi? Kasihan bila kupu-kupu akhirnya berkurang atau mati.
    Alangkah indahnya bila kupu-kupu bisa terbang bebas..

  12. Yahhh aku sedih pas baca kupu-kupunya dibunuh untuk dijadikan cenderamata :(( Anyway aku tertarik juga buat cobain berburu kupu-kupu. Kayaknya emang nggak gampang yaa. Tapi kalo berhasil nangkep pun, aku pengin lepas lagi biar mereka bisa hidup bebas di alam

    1. susah juga nangkepnya,, keliatannya mereka lamban tapi pas mau ditangkap pake jaring ternyata gerakannya langsung secepat kilat wkwk.. kalau aku dulu waktu kecil sering nangkap capung lewat ekornya, abis itu dilepas lagi, buat iseng doang wkwk..

  13. Hai Kak… lucu sekali anak-anak masih ada yang suka berburu kupu-kupu di tengah kemewahan berburu kupu-kupu by game in our gadgets. Ceritanya menarik, aku suka banget. Jadi, anak-anak tahu juga golden time dari berburu kupu-kupu juga. Pengen ikutan sih, belum pernah ngalami soalnya. Suka juga lihat kupu-kupu yang dijadikan cenderamata. Ah, tapi kasihan juga ya Kak…

    1. iyaa, lucu dan seru,, aku gak sengaja ketemu mereka di sana..

      kalau ada kesempatan ke taman nasional bantimurung, tungguin aja pagi-pagi, biasanya mereka akan berburu kupu-kupu di pagi hari yang cerah, gabung aja nanti mereka kasih pinjam jaringnya hehe..

  14. Tulisan Bung yang ini humanis sekali. Menurut saya justru inilah salah satu kekuatan catatan perjalanan, ketika kita bisa mengabarkan apa yang terjadi di tempat yang dilewati kepada dunia. Kadang apa yang ideal menurut kita sama sekali nggak ideal menurut orang lain.

    Sering juga saya lihat ironi serupa, terlebih di tempat-tempat yang sudah ditetapkan sebagai taman nasional. Sedih juga melihat orang-orang yang tinggal di sana kucing-kucingan dengan otoritas untuk, misalnya, menangkap ikan hanya untuk konsumsi pribadi (bukan untuk diekspor entah ke mana), melanjutkan hal-hal yang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang. Tradisi diadu dengan aturan legal-formal. Kearifan lokal diadu dengan standar global.

    Lagipula, merujuk tulisan dan cerita Bung di atas bahwa mereka menjual ke pengepul untuk kemudian dijadikan cendera mata, sebenarnya turis juga punya peran untuk menghentikan praktik ini. Kalau kita nggak beli, mereka nggak akan memburu lagi. Toh ini bukan pekerjaan utama mereka.

    1. iya bung,, dalam perjalanan kita akan sering menjumpai hal-hal baru dan unik, menjumpai kebiasaan2 orang yang mungkin bertolak belakang dengan standar ideal kita dan lain sebagainya. banyak hal tersebut juga memaksa kita untuk melihat dari sudut pandang orang lain, terutama masyarakat lokalnya.. ga bisa kita yang hanya pengunjung singkat “ujug-ujug” ngejudge kalau tindakan mereka salah dan blablabla.. melihat hal-hal kaya gini, apalagi yang melakukan adalah rakyat kecil, kita harus melihat dari berbagai sudut pandang secara komprehensif, dan harus menggali banyak informasi sebelum memutuskan untuk menyatakan apa.. itulah kenapa saya hanya diam, karena saya hanya membawa sepenggal kecil informasi. hanya melihat, memotret dan menuliskan apa yg saya lihat dan rasakan..

      bener,, kupu-kupu itu dijual kepada pengepul untuk selanjutnya pengepul mengemasnya menjadi cinderamata.. kalau pasarnya tidak ada, tentu mereka juga akan berhenti berburu kupu-kupu. di sini juga perlu campur tangan pemerintah daerah, misalnya pendapatan mereka menurun, pemda atau pemdes setempat harus membantu mencarikan solusi untuk masyarakat kecil di sini.

  15. Yaaaaah…. kok kupur-kupunya diburu?
    Aku gak tega. Jangan diburu atuh. kasian.
    Hmm, pengen jalan ke taman nasional bantimurung bullusaraung deh trus kalo aku liat ada yg jualan itu atau ada yg nawarin aku bilang aku gak mau beli kasian kupu-kupu masa dibunuh. Aduh, ini ngeri amat ya. Aku baru tau lho ada jual cindera mata segininya banget.

  16. Di Jakarta, kupu-kupu semakin langka. Makanya anak saya yang masih batita selalu antusias saat melihat kupu-kupu yang kesasar sampai ke lingkungan tempat tinggal kami di Jakarta.

    Hmmm,, sebenarnya saya sangat menyayangkan kupu-kupu itu harus diperlakukan seperti itu. Semoga populasi kupu-kupu di sana tetap terjaga jumlahnya untuk menambah warna-warni dunia dengan keindahan sayap-sayap ringkihnya. Saya sendiri waktu kecil lebih suka berburu capung daripada kupu-kupu.

    1. kalau di Jakarta emang udah langka bgt ya,, wajar aja anak2 kecil yang ngeliat pasti antusias..

      saya waktu kecil juga kadang berburu capung, gampang juga nangkepnya,, incar ekornya haha.. kadang juga suka terjebak di dalam kaca rumah..

      ya semoga aja baik kupu-kupu maupun capung tetap lestari dan terjaga populasinya..

  17. Kasihan banget ama kupu-kupu yang lucu, sediihh..

    Jadi ingat masa-masa indah ya, saat nangkapin laron. Saya ga pernah makan laron, tapi waktu ribuan atau jutaan laron menyerang di daerah kami, rasanya ada yang masuk mulut, jadi walaupun ga pernah makan laron, tapi saya pernah nyicipin laron hidup..

  18. Kok gara-gara baca tulisan lu gw juga baru sadar yah, gw udah lama gak liat kupu-kupu. Mungkin karena sekarang gw tinggal di kota yang mana udaranya sangat tercemar, jadi susah nyari kupu-kupu.

  19. Pas ke sini aku juga gak beli suvenir kupu-kupu yang dikemas rapi dalam kotak kaca itu. Bukannya gak menghargai, tapi gak tega sih sebenernya lihat hewan-hewan itu diawetkan. Jadi, cukup lihat aja dari kejauhan. Sayang sekali ada kandang jaring-jaring yang buat penangkaran kupu-kupu di Bantimurung ini yang jebol dan rusak. Jadinya gak bisa lanjut deh. Entah udah diperbaiki atau belum itu sekarang

  20. saya ingat ketika zaman saya SD dulu ditempat saya ada musim migrasi kupu-kupu jika tiba masanya ribuan kupu-kupu migrasi ke arah barat, indahnya saat tapi sekarang saya tidak pernah mendengar lagi ada peristiwa seperti itu.

  21. saat kecil dulu, saya menangkap kupu-kupu dengan tangan.. paling gampang menangkap kupu-kupu yang berwarna kuning, di mana serbuk dari sayapnya kemudian menempel mengotori tangan..

    setelah dewasa, baru sadar bahwa perbuatan itu sangat merugikan kupu-kupu, karena setelah serbuk itu rontok, si kupu-kupu tak bisa lagi terbang..

    terakhir kali saya melihat kupu-kupu setelah dewasa adalah di hutan tropis buatan..

  22. Terus kupu-kupunya ditangkap buat apa? Mereka kan hidupnya pendek, jadi makin pendek, dong, huhu… πŸ™ Oh iya, kalau soal laron aku juga pernah dengar. Tapi belum gak rasain, hehehe. Bisa dibikin peyek ya katanya. Aku sih meski vegan gpp lihat orang bunuh binatang, asal buat dikonsumsi saja, bukan buat sekedar senang-senang πŸ™‚

  23. ketika trip dan bisa berbaur dengan warga lokal kayak gini seru, main-main meskipun cuman sebentar
    kayaknya waktu aku kecil dulu, momen ember ditaruh di depan rumah untuk nangkap laron kayaknya pernah aku alami, lupa lupa ingat
    kalo liat proses terjadinya kupu-kupu, apalagi yang awal awal masih ulat gitu, hhihi geli sendiri

  24. ternyata ini cerita dibalik souvenir kupu-kupu yang cantik dan menawan
    seru sih berburunya dan menarik souvenirnya sih..

    tapi, ada yang harus dikorbankan ya mas,.. kasian si kupu-kupu juga

  25. Saya ingat, dulu di salah satu destinasi wisata di Jogja ada pepohonan yang banyak kupu-kupunya. Karena pengembangan masif, pepohonan hilang berganti spot ala-ala foto. Saya sangat menyayangkan itu. Tapi saya tidak punya hak untuk memprotes.

    Pun di sini, ketika berburu kupu-kupu sudah ada jauh sebelum kita lahir atau memang sudah menjadi mata pencahariannya. Mungkin saya harus berusaha memahami. Semoga perburuan itu hanya di sekitar sana, tidak masif hingga jauh ke pelosok. Tujuannya tentu agar ekosistemnya tetap ada, dan mata pencaharian mereka terus berjalan.

    Atau malah beternak kupu-kupu? entahlah, saya belum bisa membayangkan bagaimana jika beternak kupu-kupu. Tapi, siapa tahu sudah ada yang mencoba di sana.

  26. Kupu-kupu muncul di pagi hari cerah setelah hari hujan. Noted.
    Di rumah aku sendiri masih sering kulihat kupu-kupu terbang di antara tanaman.
    Tapi aku lebih suka lihat si kupu-kupu terbang, nggak pengen nangkep. Kalo nangkep yang nangkep rekaman videonya aja.

    Kegiatan kejar-kejaran emang menyenangkan ya. Apalagi untuk anak-anak. Tapi bagian membunuh itu menyebalkan. Tapi ya emang, nggak ngerti juga sih cerita lebih besar di belakangnya.

Leave a Reply