Drama Pertama Jelajah Sulawesi, Kunci Motor Hilang di Jalan !!

Ini adalah drama pertama yang menguji mental saya dalam perjalanan panjang ini. Keringat dingin mengucur kala saya berhenti untuk memastikan saya tidak salah jalan menuju tebing apparalang. Bukan, bukan karena nyasar. Tapi, ketika hendak mematikan motor, kunci motor saya sudah tak lagi di tempatnya, hilang!! Saya tak sadar di mana jatuhnya karena mesin tetap menyala.

Kunci Motor Jatuh di Jalan !!

Kalau diingat-ingat, saya memang mendengar bunyi benda keras yang saling beradu di sebuah tanjakan. Tapi, saya kira itu adalah kerikil yang terinjak ban sebelum beradu dengan body motor dan terlempar. Tapi kalau dipikir-pikir, kemungkinan besar itu adalah kunci motor saya.

Mundur sekitar 1 jam sebelumnya, sebelum berangkat ke tebing apparalang, saya baru menyadari kunci motor saya ini longgar. Saat saya memanaskan mesin motor, entah wahyu dari mana, seperti ada bisikan yang membuat saya tiba-tiba iseng mencabut kunci motor. Daaaan alamaaaak, kok bisa dilepas padahal motor masih menyala?

Bodohnya, pertanda itu tak saya hiraukan. Saya cuek saja. Benar saja, di hari yang sama, petaka terjadi.

Dengan pikiran kalut, saya menyusuri jalanan yang saya lewati, dari tempat saya berhenti di Desa Ara menuju ke tempat bermalam di Tanjung Bira. Saya mencoba membuka memori , menebak-nebak di mana kunci itu jatuh.

Samar-samar ingatan mengatakan kunci saya jatuh di dekat masjid di sebuah tanjakan tak jauh dari gerbang masuk bira. Saya mencoba menelusuri daerah itu dengan tetap menunggangi motor karena sekalinya saya tegakkan standar kaki, mesin motor akan mati dan takkan bisa lagi saya nyalakan.

Nihil, saya tak menemukannya. Samar-samar bisikan lain di memori otak saya berkata bahwa jatuhnya kunci bukan di situ, tapi di dekat sebuh rumah berwarna hijau. Saya mendatangi tempat itu, mengulang apa yang saya lakukan di dekat masjid. Dan hasilnya?? Kembali nihil!!

Baca juga: Mengintip Pembuatan Kapal Pinisi di Tana Beru

2 kali saya melakukan pencarian pada kedua tempat itu dan beberapa tempat lainnya. Kunci tak kunjung ditemukan. Indikator petunjuk bahan bakar telah menipis saat saya melirik ke speedometer. Menyerah dengan kunci yang tak kunjung ditemukan, saya bawa motor menuju bengkel motor.

jelajah sulawesi naik motor
motor rakyat jelata yang mengantarkan saya jelajah sulawesi

Bengkel Pun Menyerah

Saya bergegas menuju ke bengkel yang saya jumpai di Tanjung Bira. “Ini harus diganti full sama rumah kuncinya mas, dan stok di sini kosong”, mekanik tersebut lalu menyuruh saya mendatangi bengkel lain di bawah.

Ternyata sama saja, di bengkel yang lebih besar itu pun nggak ada stok barang yang dimaksud. Sialnya, hanya ada 2 bengkel itu di Bira. Pemilik bengkel menyarankan saya untuk ke Bonto Bahari, di sana adalah ibu kota kecamatan Bonto Bahari yang tentunya memiliki bengkel lebih banyak dan lebih lengkap.

Saya melirik indikator bensin di speedometer. Jarum indikator sudah hampir menunjuk huruf E yang menandakan empty. “Ya Allah, monangis rasanya T_T”..

15 km harus ditempuh untuk mencapai Bonto Bahari. Dengan bensin yang hampir habis, apa mungkin??? Saya menghela nafas, mengucap basmalah, memutar kembali selongsong gas, dan menjaga ritme rpm supaya torsi motor terjaga yang akan berimplikasi terhadap pemakaian bensin yang lebih hemat. Saya terus berdoa semoga bensin yang seuprit ini bisa mengantarkan saya sampai ke Bonto Bahari.

Bengkel Pun Menyerah 2.0

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Entah dosa tak termaafkan apa yang saya lakukan. Dengan bensin yang menipis, saya berhasil sampai di Bonto Bahari. Di Bonto Bahari memang lebih banyak bengkel motor dan lebih lengkap dibanding di Bira, tapi dengan kondisi barang yang kosong, ya sama aja.

Saya teguk air terakhir di botol air mineral saya. Harusnya saya sedang santuy menikmati keindahan apparalang, dan siang ini harusnya sudah menuju Makassar, tapi nasib sial yang datang. Melihat kegundahan di wajah saya, seorang mekanik bengkel menyarakan saya untuk menuju Kota Bulukumba, ibukota Kabupaten Bulukumba.

Saya sebenarnya ogah ke sana, jarak dari Bonto Bahari sampai ke Bulukumba sekitar 25 km. Bensin di motor sudah sekarat, memangnya bakalan sampai ke sana? Kalau kehabisan bensin di tengah perjalanan dan bukan di daerah pemukiman gimana??? Saya tahu, walaupun indikator telah menyentuh huruf E sejatinya masih ada sisa cadangan bensin, tapi apakah akan cukup menempuh jarak 25 km? Itu yang saya ragu.

Tapi kalau saya menyerah juga sama aja. Mesin motor akan mati dan saya akan stuck terjebak di sini. Saya menguatkan tekad untuk yang terakhir kali. Kalau sampai enggak dapat juga di Bulukumba, entahlah, saya belum berpikir apa yang harus saya lakukan berikutnya.

Roda motor kembali berputar, meninggalkan Bonto Bahari, menuju Bulukumba. Indikator jarum bensin yang sudah menyentuh E membuat doa saya semakin tak putus. Deg-degan sudah tentu, keringat dingin juga sudah mengucur. Tapi tekad harus tetap kuat.

Allahuakbar !!!

Baru berjalan sekitar 15km, saya menemukan bengkel besar di daerah Ujung Loe. Saya tanya apakah ada rumah kunci honda beat dan allahuakbar, ternyata di bengkel ini tersedia!! Saya duduk santuy menunggu motor saya diganti rumah kuncinya..

Motor udah beres, keringat dingin hilang, perasaan was-was hilang, dan sekarang saatnya isi bensin lalu kembali menyambangi tebing apparalang.

Rasanya mau nangis bahagia!! Selama beberapa hari mengembara di Sulawesi, ternyata bukan tempat wisata dan keindahan alam yang paling membahagiakan saya, tapi berakhirnya drama yang hampir bikin saya jantungan. Hahaha..

***

Traveler Paruh Waktu

 

Travel Blogger Indonesia.

Related Posts

23 Responses
  1. Hahaha. Menegangkan sekali, Bung. Saya sampai tahan napas baca ini.

    Memang bikin repot ini motor matik. Rusak di tempat jauh dari kota, bisa-bisa spare part-nya inden dan mesti nunggu lama banget. Dulu pernah keliaran pakai matik, rusak di Krian, terus motornya mesti parkir 6 bulan di Surabaya karena spare partnya inden. 😀

  2. Wkwkwkwk, peak lu !

    Lu ngingetin kaya emak gw. Kunci motor ilang ntah dimana. Akhirnya kunci motornya gw kasih gantungan tali yang panjang. Jadi setiap mau pake gantungannya gw suruh disampirin ke stang motor. Kalo nanti jatuh lagi kan masih nyantol di stang motornya.

  3. Kadang sih ada bisikan dari hati sendiri aja buat iseng, pengen tahu apa jadinya kalau dilakukan. Alhasil kunci motor hilang.

    Untunglah masih ada tukang kunci yg bisa ditemukan. Andai tak ada, apa mungkin nanti harus mendorong motor yang kehabisan bensin, sampai malam menyusuri jalan….

  4. Ya ampuuun mas, total berapa kilo itu sampai akhirnya bisa dapat bengkel yang menyediakan rumah dan kunci motornya? bersyukur ya mas, untungnya dapat. Nggak kebayang kalau sampai bensin habis di tengah jalan, terus kunci motornya belum dapat juga

    Lumayanlah, cerita ini bisa jadi pengalaman untuk anak-anak mas kelak, biar kalau bawa motor, harus ditali ke spion agar nggak jatuh kuncinya macam abang-abang gojek yang sering saya lihat ✌

    1. pokoknya banyak kilo deh wkwk..
      ga kebayang kalau sampai terjadi, bisa uring-uringan di antah berantah :V ..

      nah, bener,, padahal bokap juga dulu gitu, kunci motor dikasih tali terus digantungin ke spion 😀

Leave a Reply