Jelajah Pulau Sulawesi 1 Bulan Naik Motor, Mimpi Yang Jadi Kenyataan

Saya colokkan earphone ke laptop, buka youtube,lalu dengarkan lagu Tanah Airku. Lagu inilah yang selalu menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah kelahiran saya, Indonesia. Lagu ini pula yang memicu keinginan saya menjelah Indonesia dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua, dari Miangas di Pulau Sulawesi sampai Rote di NTT dengan road trip.

Tahun 2019, saya mulai mewujudkan mimpi. Sulawesi adalah pulau pertama yang saya jelajahi dari ujung ke ujungnya lewat jalan darat, pakai motor. Selama sebulan, saya bertualang mengunjungi seluruh provinsi di Pulau Sulawesi dan mengunjungi berbagai tempat wisata Sulawesi.

sinonggi kendari
makan sinonggi

2012, Awal Mimpi

“Bro, gue pengen jelajahin Indonesia pakai motor”. Saya masih mengingat kalimat yang berulang saya ucapkan kepada teman-teman. Teman-teman saya waktu itu cuma ketawa-ketiwi aja.

Tapi, seseorang pernah menulis “bermimpilah sampai orang lain menertawakan mimpimu”. Saya hanya berpikiran positif. Berarti, saya mempunyai mimpi besar yang tak banyak orang punya.

Tak mudah untuk mewujudkan mimpi saya. Sebagai ASN, waktu libur saya sangat terbatas. Cuti setiap tahunnya hanya 12 hari, itu pun sebagian dipakai buat mudik lebaran bertemu keluarga.

Libur nasional ataupun cuti bersama juga nggak seberapa banyak kan? Rasanya mimpi aja gitu kalau mau keliling Indonesia sekali jalan.

Dibalik kebuntuan itu, ada 2 harapan yang bisa saya manfaatkan. Pertama, cuti di luar tanggungan negara. Kedua, cuti besar. Keduanya bisa saya dapatkan setelah memenuhi minimal tahun mengabdi.

Cuti di luar tanggungan negara adalah target saya. Dengan 1 tahun cuti kerja, saya akan bisa menjelajah Indonesia, mengunjungi seluruh provinsi di Indonesia mulai dari pulau sumatera ke papua dan dari pulau sulawesi ke NTT.

Tapi, nggak mudah untuk mendapatkan cuti di luar tanggungan negara. Alasan saya harus kuat dan dapat diterima oleh atasan. Biasanya, yang diacc adalah mereka yang akan ikut suami/istri kuliah di luar negeri.

Selain itu, kendala lainnya adalah saya harus memiliki tabungan yang cukup banyak karena selama cuti itu, saya enggak mendapatkan gaji dan tunjangan. Ya, namanya juga cuti di luar tanggungan negara.

Alternatif berikutnya adalah cuti besar yang maksimal diberikan hanya 3 bulan saja. Bisa kurang dari itu malah, tergantung berapa banyak atasan mau kasih. Tapi keuntungannya, selama 3 bulan itu saya akan tetap digaji penuh, hanya saja tunjangannya dipotong.

Bongkar Pasang Itinerary

Setelah mengkalkulasi dan mempertimbangkan banyak hal, tahun 2018 saya mulai memantapkan hati. It’s now or never!! Saya lirik tabungan. Tabungan saya enggak memungkinkan untuk cuti di luar tanggungan negara, apalagi selama 1 tahun tanpa digaji. Izin atasan pun sepertinya akan susah.

Akhirnya saya putuskan untuk mengajukan cuti besar selama maksimal 3 bulan. Cuma sedihnya, trip kali ini hanya saya aja yang jalan. Berarti, saya harus ninggalin Ayu selama 3 bulan.. 🙁

Saya mulai menyusun itinerary. Dalam waktu 3 bulan itu, saya tentu tak akan sanggup untuk menelusuri semua provinsi di Indonesia. Maka, saya menyusun prioritas.

Setelah saya pertimbangkan banyak hal, saya putuskan untuk menjelajah dari Bali sampai dengan Papua naik motor, termasuk Pulau Sulawesi. Jawa dan Sumatera saya skip karena seluruh provinsinya sudah saya singgahi (kecuali 2 provinsi kepulauan, yaitu Kepulauan Riau dan Bangka Belitung). Kalimantan memang saya belum pernah sekalipun ke sana, tapi saya juga merencanakan mengelilingi Kalimantan sekali jalan pakai mobil di masa depan.

Sebetulnya saya sudah ke Bali, NTB, dan NTT. Khusus NTT, malah saya pernah tinggal 2 tahun di sana. Tapi kepulauan Nusa Tenggara ini adalah favorit saya sehingga saya ingin berjumpa lagi dengan keindahan alam di sana.

Pulau Sulawesi, saya baru pernah ke Makassar dan Mamuju. Tentu saya berhasrat ingin lebih mengenal Pulau Sulawesi dari ujung ke ujungnya. Dan terakhir, Indonesia Timur, saya belum sama sekali menjejakkan kaki di sana.

Awalnya saya merencanakan keberangkatan di bulan September sampai November 2018. Namun karena satu dan lain hal, perjalanan selalu tertunda. Tapi, belakangan saya bersyukur karena nggak jadi pergi di bulan-bulan itu. Ya kita semua tahu, gempa Lombok dan Palu terjadi di bulan-bulan itu.

Proses penyusunan itinerary ini sendiri cukup menyita waktu dan pikiran. Saya harus riset tempat wisata mana saja yang sesuai selera saya untuk dikunjungi, berapa lama alokasi waktu di perjalanan maupun di tempat yang saya kunjungi, dan yang paling krusial adalah menyesuaikan jadwal kapal di beberapa lokasi.

Dilema

Desember 2018, saya pun akhirnya mengajukan cuti besar selama 3 bulan. Beberapa hari kemudian, izin cuti keluar walaupun dikurangi jadi 2,5 bulan. Yeay!!! Terpaksa itinerary pun harus diubah lagi menyesuaikan waktu. Tapi gpp, izin cuti keluar aja udah bikin semangat saya memuncak.

Belum sempat merevisi itinerary, ada kabar gembira tapi sekaligus bikin dilema. Apa itu? Ayu hamil!!! Tentu gembira lah.. Kehadiran si buah hati adalah hal yang telah lama kami nanti-nantikan.. Tapi saya juga dilema. Saya udah menyusun matang rencana road trip saya, tapi karena ada calon dedek bayi, saya jadi galau.

Setelah berhari-hari berpikir dan berdiskusi dengan Ayu, akhirnya saya memutuskan untuk tetap jalan. Selama saya pergi, Ayu akan tinggal bersama teman-teman saya di rumah dinas para gadis. Ayu pun mau saya hanya jalan maksimal 2 bulan saja.

Setelah deal dengan Ayu, saya menyusun ulang itinerary. Terpaksa saya harus mencoret Bali, NTB dan NTT. Berarti, perjalanan saya mulai dari Pulau Sulawesi sampai ke ujung timur Indonesia, Papua.

2019, Mimpi Menjadi Kenyataan

Hari yang saya nantikan tiba. Perjalanan jelajah Pulau Sulawesi sampai ke Papua dimulai. Tanggal 3 Januari, saya terbang dari Padang menuju Kendari. Berangkat pagi buta dan sampai senja hari setelah sebelumnya transit di Jakarta dan Makassar. Fiuuh, perjalanan yang cukup melelahkan.

Kendari adalah titik awal saya melakukan penjelajahan saya di Pulau Sulawesi. Dari ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini, perjalanan dengan menggunakan sepeda motor dimulai sampai ke Manado.

Explore Sulawesi Tenggara

Di Kendari, saya hunting sepeda motor bekas. Harga bekas di sini tergolong tinggi. Saya harus loncat dari satu showroom ke showroom lainnya untuk mendapatkan motor yang pas, terutama pas di kantong, hihi..

Setengah hari keliling, akhirnya saya menetapkan pilihan. Sebuah motor matik honda beat pop akan menemani perjalanan saya dari ujung selatan ke ujung utara sulawesi. Beat? Sanggup emang? Kita lihat..

Motor sudah di tangan, saatnya memulai petualangan menjelajah pulau sulawesi. Hal pertama yang dilakukan adalah explore Kota Kendari. Di Kendari, saya mengunjungi masjid terapung, tugu mtq, pulau bungkutoko, dan pantai nambo. Sedangkan kulinernya, saya mencicipi saraba, sinonggi, dan ikan pallumara.

danau biru kolaka
danau biru kolaka

Selesai menjelajah Kendari, saya masih menjelajah Sulawesi Tenggara. Tujuan saya kali ini adalah menuju Kolaka. Dalam perjalanan menuju Kolaka, saya berhenti sejenak di tempat peristirahatan yang diberi nama puncak mowewe.

Tujuan utama saya datang ke Kolaka adalah untuk melihat sungai terpendek di dunia, sungai tamborasi. Tak jauh dari sungai tamborasi ada danau laguna cantik yang diberi nama danau biru.

Masih di Kolaka, saya berkunjung ke penginapan yang desainnya meniru rumah adat suku mekongga, salah satu suku di Sulawesi Tenggara. Lokasinya di tengah kota, tak jauh dari pelabuhan feri.

Explore Sulawesi Selatan

Sesaat setelah mentari terbenam, kapal feri membawa saya meninggalkan Kolaka menuju Bajoe, Sulawesi Selatan. Agar bisa tertidur lebih nyenyak, saya tidur di kamar yang disewakan oleh ABK. Adanya aliran listrik menjadikan baterai handphone dan kamera terisi full sebelum melanjutkan petualangan keesokan harinya.

Saya sampai di Bajoe. Saya melanjutkan perjalanan ke Bira. Di tengah perjalanan, saya berkunjung ke taman purbakala batu pake gojeng. Konon, leluhur orang Sinjai berasal dari tempat ini. Sore hari, sesaat sebelum sunset, saya tiba di Bira.

Banyak hal seru yang saya jumpai di Bira. Saya berjumpa sunset cantik di Pantai Tanjung Bira, berguling di pantai dengan nama terindah di dunia, pantai Bara, haha, bertemu belasan babi liar saat menuju titik nol kilometer bira, disambut monyet hitam sulawesi sebelum memandangi megahnya tebing apparalang, dan terkagum-kagum saat berkunjung ke tanah para pencipta pinisi, tana beru. Terakhir, yang bikin deg-degan tapi seru setelah dilalui, adalah ketika kunci motor jatuh di aspal dan hilang hahaha.

Dalam perjalanan menuju Makassar, saya menjumpai kincir-kincir angin raksasa di Enrekang sambil menikmati hangat dan lezatnya coto kuda, apalagi di luar hujan. Kesialan terjadi saat ban motor pecah 2 kali. Saya pun terpaksa harus merogoh kocek untuk mengganti ban konvensional ke ban tubeless.

Makassar adalah kota besar, dan saya tak suka kota besar. Untungnya, di sini saya masih bisa menemukan harta karun seperti fort rotterdam dan benteng somba opu. Tempat yang lumayan menarik lainnya adalah museum balla lompoa. Sedangkan pantai losari bukanlah pantai yang memenuhi standar saya.

Hal seru lainnya di Makassar adalah saya berjumpa dengan komunitas couchsurfing Makassar yang saat itu berkumpul sambil mendengarkan serunya pengalaman Anton Krotov. Anton Krotov adalah traveler Russia yang telah mengunjungi ratusan negara dengan cara hitchiking.

Perjalanan di Sulawesi Selatan tak cukup sampai di situ. Saya melanjutkan pengembaraan ke taman nasional bantimurung bulusaraung. Saya sangat menyukai kawasan ini, hutan yang rimbun, monyet endemik, kupu-kupu, air terjun, tebing-tebing yang menjulang cantik, dan sungai yang keluar dari balik batuan tebing adalah beberapa hal yang membuat saya betah di sini.

rammang-rammang pulau sulawesi
rammang-rammang

Masih di kawasan taman nasional bantimurung bulusaraung, terdapat objek wisata terkenal yaitu Leang-leang dan Rammang-rammang.

Setelah melewati batuan purbakala nan unik, lukisan tangan manusia purba terpampang di sebuah goa di Leang-leang. Sayang aksesnya tertutup, saya hanya bisa melihat dari jauh.

Di rammang-rammang, pemandangan perbukitan karst menjadi latar belakang megah dari lembah dan sungai yang mengalir indah. Di sini juga banyak goa-goa unik.

Saya menginap semalam di kota kelahiran Pak Habibie dan Bu Ainun, Kota Pare-pare. Keesokan harinya saya lanjutkan perjalanan menuju Toraja. Dalam perjalanan ke Toraja, bukit-bukit cantik yang tampak seperti lukisan menyapa sepanjang jalan di Enrekang. Sesampainya di Toraja, pelangi yang indah menyambut.

Toraja adalah salah satu tempat terunik yang pernah saya kunjungi. Vibe yang saya rasakan sama seperti ketika saya berkunjung ke Sumba. Kerbau dan kuburan batu adalah 2 hal yang menurut saya identik.

Toraja sangat magical, apalagi ketika saya memasuki goa yang berisi tengkorak manusia. Saya tak merasakan horor diantara mayat-mayat yang telah mengering itu. Pun tak ada bau busuk. Saya lebih ke merasa takjub ketika menjelajah setiap lorongnya, WOW!

kete kesu toraja pulau sulawesi
kete kesu toraja

Satu hal lainnya yang saya ingin lihat di Toraja adalah Tedong Silaga, pertarungan kerbau. Tak semua traveler memiliki keberuntungan untuk menyaksikan acara ini. Acara ini hanya dilakukan sebagai bagian dari acara adat rambu solo, yaitu upacara kematian. Tentunya, hanya orang-orang yang memiliki kelebihan uang saja yang bisa mengadakan acara ini.

Explore Sulawesi Barat

Selanjutnya saya menuju Sulawesi Barat. Tak banyak tempat yang saya kunjungi di sini, hanya pantai polman, pantai dato di majene, dan keliling kota Mamuju. Menurut saya, enggak ada tempat yang spesial di Sulawesi Barat yang saya kunjungi.

kota mamuju pulau sulawesi
Kota Mamuju dari anjuru pitu

Tapi hal yang membuat saya takjub di sini adalah kebaikan keluarga Jandri. Di rumah keluarga inilah saya menginap. Mereka adalah orang suku mandar asli.

2 malam menginap di sana, saya merasa seperti dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Momen terindah di Sulawesi Barat adalah ketika saya ikut mencari durian yang jatuh di kebun bersama keponakan-keponakannya Jandri. Setelah mengumpulkan durian-durian kecil itu, kami langsung menyantapnya di gubuk.

Explore Sulawesi Tengah

Perasaan ngeri, was-was dan pilu menguasai saat saya memasuki wilayah Donggala. Beberapa bulan sebelumnya, gempa dan tsunami meluluhlantakkan Donggala dan Palu.

Beberapa bukti-bukti dahsyatnya tsunami dan gempa dapat dilihat dengan jelas. Reruntuhan bangunan di mana-mana, masjid terapung yang tak lagi sempurna, balaroa yang hilang tertelan bumi, tanah di petobo yang bergelombang, camp-camp pengungsian di mana-mana. Sungguh miris melihat itu semua.

Namun di balik itu semua, Sulawesi Tengah masih menyimpan banyak keindahan. Pusat Laut donggala masih menawan, yang dipenuhi nak-anak kecil masih riang melompat menuju danau kecil itu. Monyet hitam sulawesi masih berkeliaran di tepi jalan. Burung rangkong masih terbang di langitnya. Ampana yang menyimpan keindahan tersembunyi. Dan tentu saja Kepulauan Togean, sebuah kawasan yang layak bila dinobatkan sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi.

pulau papan togean
pulau papan togean

Togean adalah tempat terindah yang saya lihat di Sulawesi. Gugusan kepulauan di sini memiliki keunikan sendiri-sendiri. Ubur-ubur tanpa sengat menari-nari cantik di danau Mariona. Terumbu karang warna-warni menjadi lantai terindah di pantai karina, begitu juga di california reef. Lumba-lumba sesekali memamerkan dirinya pada wisatawan. Dan perkampungan terunik suku bajo yang mengelilingi pulau, yang diberi nama pulau papan.

Ada satu pengalaman menegangkan saat perjalanan dari Palu ke Poso. Di gelapnya malam, saya harus menembus gelap dan sepinya jalan di sepanjang perkampungan Bali yang sunyi, dilanjut dengan melewati hutan di mana di dalamnya ada teroris.

Sedangkan pengalaman buruk terjadi di Ampana ketika saya jatuh dari motor, diikuti dengan hilangnya (lagi) kunci motor dan mogoknya motor.

Explore Gorontalo

Di Gorontalo, saya ingin sekali melihat hiu paus yang lokasi kemunculannya sangat dekat dari pusat kota. Malangnya, saya datang bukan di saat yang tepat. Para hiu paus masih mencari makan di bagian laut yang lain.

Tak mengapa, saya masih bisa berkunjung ke tempat lainnya seperti masjid walima emas, desa religi bongo, benteng otanaha, danau limboto, dan pantai olele.

Pantai olele adalah tempat favorit saya di gorontalo. Pantainya sih biasa aja, malah jelek. Tapi siapa sangka keindahan bawah lautnya luar biasa. Cukup berjalan beberapa ratus meter menjauhi pemukiman warga, lalu langsung nyebur, maka beragam jenis terumbu karang dan ikan warna-warni berbagai ukuran akan menyambut.

snorkeling di pantai olele
snorkeling di pantai olele

Saya juga mencoba beberapa kuliner khas Gorontalo seperti binte biluhuta, ayam iloni, dan ilabulo. Ilabulo ini adalah favorit saya selama trip kali ini. Dari luar tampak kurang menggugah selera, tapi rasanya udah bikin jatuh hati sejak gigitan pertama.

Ada satu kendala yang saya temui. Motor saya harus menginap di bengkel karena harus turun mesin. Udah lumayan banyak duit keluar hanya untuk mereparasi motor butut ini, begitu juga waktu yang terbuang.

Explore Sulawesi Utara

Perjalanan dari Gorontalo benar-benar menyiksa. Rasa takut dan was-was mogok selalu menghantui. Apalagi, motor hanya boleh dibawa sampai 60 km/jam saja, dan yang paling menyiksa, tiap 15 – 30 menit harus berhenti buat mengamakan mesin yang baru diservis habis-habis, huwaaa.

Perjalanan ke Manado cukup jauh, sehingga dengan berjalan seperti keong, saya harus menginap di Boroko dan di Lolak. Di Boroko, saya berkunjung ke pantai batu pinagut.

paniki pasar tomohon
paniki pasar tomohon

Selain explore kota Manado, saya juga berkunjung ke beberapa tempat wajib seperti Bunaken, Tondano dan Tomohon. Bunaken tak secantik yang saya bayangkan. Tondano tak banyak yang saya lakukan. Sedangkan Tomohon, wajib hukumnya ke pasar Tomohon untuk melihat jualan hewan-hewan ekstrim, dan wajib ke danau linow.

Satu hal yang ingin saya buktikan adalah cerita tentang wanita Manado yang katanya cantik-cantik banget. Setelah saya datang dan melihat dengan mata kepala sendiri, ternyata BENAR adanya.. *Mimisan.


Perjalanan mengelilingi pulau sulawesi dengan sepeda motor meninggalkan banyak kesan. Tak hanya penyegaran mata dengan tempat-tempat indah saja yang dapatkan, tapi saya juga bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran dari trip ini.

Dalam perjalanan ini, saya bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai latar belakang. Saya menyukai interaksi dengan orang-orang baru, dengan penduduk lokal, dengan pejalan lain. Saya menjumpai banyak kesederhanaan dalam kehidupan orang-orang yang saya temui. Saya jadi malu, begitu banyak nikmat yang Tuhan berikan kepada saya, tapi saya masih sering mengeluh.

jelajah pulau sulawesi
jelajah pulau sulawesi

Perjalanan di Pulau Sulawesi telah berakhir, tapi rangkaian seluruh perjalanan ngga berakhir sampai di sini. Saya masih mengembara sampai Papua, dengan terlebih dahulu ke Maluku Utara.

Dalam perjalanan menjelajah pulau sulawesi, saya banyak dibantu oleh orang-orang baik. Blidek, Bang Hanes, Iril, Reza, Mabrur, CS-er Makassar, Sri, Riscy dan keluarga, Jandri dan keluarga, bang jali, Nusantaride, komunitas Max series Palu, mas Gatha, bang Tito, Mahris, Asdin, Silvana, Syamsul, bang Herman dan CS-er Gorontalo, Rachmat dan teman-teman di Bolmut, Aga dan teman-teman, Suci, mbak Arin, dan orang-orang baik lainnya yang saya temui di perjalanan. Makasih banget banget yaa..

 


Perjalanan Januari – Februari 2019

Traveler Paruh Waktu

 

 

 

 

Travel Blogger Indonesia.

Related Posts

26 Responses
  1. Benar-benar lengkap mas. ini mah destinasi impian aku banget. Togean, rammang2, tomohon.
    kayanya untuk bisa hiu paus, bulan ini sampai november deh. benar ga y? dulu juga sempat ke Gorontalo juga soalnya

  2. Daaaaaann aku ngencesss kepengen juga kayak sampean huhuhu. Baca sinopsisnya saja sudah seperti ikutan berpetualang. Dari Sulawasi saya sempat ke Toraja, Bira, dan Makassar sendiri.

    Ah someday pasti saya juga kesampaian keliling dan berpetualang 🙂

  3. Yang selama ini hanya tau cantiknya Indonesia dari spot “itu-itu saja”, setelah baca tulisan ini jadi lebih melek, ternyata Indonesia itu memang luas dan luar biasa. Mungkin bagi orang awam seperti saya, Indonesia timur itu yang terkenal ya, Papua dg Raja Ampatnya, tapi ternyata Sulawesi tak kalah memesona.

    Full 2 bulan mas? Enggak kurang, enggak lebih? Hehehe

    1. Itu pun Sulawesi ngga seluruhnya saya jelajahin mas. Butuh waktu lebih lama tentunya.. Dan dari yang saya datengin pun, sebagian saya baru tahu saat nyusun itinerary..

      2 bulan kurang dikit sih, ahaha..

  4. Jalan-jalan emang kadang kala butuh ‘pengorbanan’ ya. Tapi salut lho. Senang membaca berbagai pilihan orang dalam menikmati dan melanjutkan kehidupan seperti ini. Lanjut terus bro.

  5. Gila gila kenapa keren banget!!
    Aku juga selalu bermimpi pengen road trip tapi ga berani sendiri dan harus cari temen keknya. 🙁

    Gak usah muluk2 roadtrip jawa atau sumatera aja lah pulau sendiri lum kesampaian hehe.

    Salam buat Ayu yang sudah tegar lagi hamil ditinggal lakinya. Kalian berdua hebat!

    1. kalau cewe emang lebih rawan sih, sebaiknya emang nggak sendiri.. Tapi kemaren aku ketemu cewe asal babel traveling sendirian dari NTT ke Ambon ke Papua lhooo (tapi nggak roadtrip juga sih),, bisa intip blognya backpackerbulat.wordpress.com, dia bener-bener sendirian dan berani, luar biasaaa..

      roadtrip jawa aku belum, sumatera aku pernah dari Jakarta-Padang. Padang-Medan. Sumatera menurutku lebih ngeri lho, apalagi kalau ketemu malam..

      hihi,, iyaa ntar disalamin..

  6. Keren sekali mas pengalamannya,
    apalagi berani masuk hutan di malam hari yg banyak terorisnya. Hebat masnya. Istrinya juga hebat mau ditinggal lama apalagi lagi hamil. Haha.

Leave a Reply