Kembali ke Jaman Megalitikum di Kampung Bena

Seperti bermain dengan mesin waktu. Perkampungan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri bukan seperti perkampungan yang eksis di abad ke 21. Waktu seperti kembali ke belakang, ke jaman megalitikum di mana batuan besar masih sangat berperan dalam kehidupan bermasyarakat. Di sekeliling kampung, pemandangan yang indah, hijau, dan sejuk menjadi pembatas antara kehidupan modern dengan eksistensi kampung megalitikum ini. Ya di sini, di Kampung Bena, Flores.

kampung bena
kampung bena, flores

Sudah sekitar 2 minggu saya, Pak Zen, dan Pak Tavip berada di Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Tapi selama itu pula rutinitas kami hanya hotel-kantor client-hotel, begitu seterusnya. Di akhir pekan yang kedua, saya dan Pak Zen berencana untuk jalan-jalan sedikit keluar dari kota kecil nan indah ini.

Berbekal informasi yang diperoleh dari Fian, petugas hotel Edelweiss, akhirnya saya dan Pak Zen memutuskan kampung Bena sebagai tujuan jalan-jalan kami kali ini. Kok Pak Tavip gak ikut? Udah diajak sih, tapi bapaknya emang gak suka jalan-jalan, hehehehe..

Selain sebagai rekan kerja, Pak Zen adalah partner traveling saya di sela-sela kesibukan pekerjaan. Pak Zen tipe orang yang santai dan asik diajak jalan-jalan, tapi pekerjaan pasti beres tepat waktu. Cocok lah saya sama pak Zen ini,, partner di kerjaan, partner juga di traveling…

Selain kampung bena, sebenarnya ada lagi destinasi berlibur yang keren di Kabupaten Ngada ini, apalagi buat penyuka pantai dan kehidupan bawah laut,, surgaaa… Nama tempatnya Taman Laut 17 Pulau Riung. Menurut teman-teman yang udah ke sana sih, keindahan di Pulau Riung ini bisa disetarakan dengan keindahan di pulau Komodo. Tapi perjalanan ke sana juga cukup jauh dari Bajawa, sekitar 2-3 jam perjalanan. Karena keterbatasan waktu inilah, Pulau Riung kami skip untuk kali ini.

Tulisan sebelumnya: Sejuknya Air Terjun Oenesu (klik di sini)

Kampung Bena, Here We Are

Minggu pagi tiba, udara dingin dan kabut langsung menyambut siapapun yang terbangun di pagi hari di kota ini. Kelar sarapan pancake, saya sedikit bersantai di balkon lantai 2 hotel edelweiss. Lokasi yang sangat tepat untuk menikmati keindahan gunung Inerie dari kejauhan. Perlahan, kabut yang menutupinya menghilang sehingga tampak gunung yang lancip seperti di lukisan-lukisan legendaris jaman SD.

Sekitar jam 7 WITA, saya dan Pak Zen mulai bersiap untuk memulai petualangan ke kaki gunung Inerie. Ya, di kaki gunung yang indah itu, terhampar kampung adat yang terkenal itu, Kampung Bena. Anyway, pancake pisangnya enaaaaak. :p

Berbekal motor sewaan, berangkatlah saya dan Pak Zen menyusuri jalanan Kabupaten Ngada. Jalanan di sini sangat mulus, sangat cocok buat pecinta turing.

Beberapa hari sebelumnya, datang rombongan Harley Davidson yang melakukan turing ke kota ini. Ada yang dari Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Ada belasan atau mungkin lebih dari 20 motor yang datang ke sini. Tentang jalanan di Flores ini, mereka bilang jalannya sangat bagus, dihiasi pemandangan yang memukau sepanjang perjalanan, walaupun beberapa ada yang longsor dan sedikit berlubang.

kampung adat bena

Fian memberikan petunjuk untuk mengambil arah ke Ende lalu berbelok ke arah kiri saat ketemu persimpangan. Sesampainya di persimpangan, saya bertanya ke warga sekitar untuk memastikan bahwa jalan yang kami pilih adalah jalan yang benar menuju ke Kampung Bena.

Setelah mendapat kepastian, perjalanan kami lanjutkan kembali. Setelah persimpangan ini, jalanan yang kami lalui lebih sempit dibanding jalan Trans Flores. Tapi yang saya takjub adalah kualitas aspalnya yang lagi-lagi membuat para pecinta turing bakalan betah bertualang di sini. Apalagi pemandangan yang menemani di sepanjang perjalanan benar-benar menakjubkan. Jalanan mulai menanjak dan gunung Inerie semakin terasa mendekat.

Rumput-rumput yang hijau menyegarkan mata sepanjang perjalanan. Ada satu lokasi favorit saya di jalanan ini, di mana pohon-pohon bambu di kiri dan kanan jalan saling menyilang memayungi jalan sehingga membuat paparan sinar matahari berkurang, teduh dan menyejukkan, juga terlihat indah.

Dari kejauhan, Kampung Bena semakin terlihat. Oya sebelum sampai di Kampung Bena, kami juga sempat menjumpai beberapa rumah adat khas Ngada tapi jumlah rumahnya sedikit.

kampung bena flores

Sekitar 30 menit perjalanan telah kami tempuh dan sampailah kami di tujuan wisata kami kali ini, Kampung Megalitikum Bena. Rumah-rumah adat di kampung bena berjejer rapi menyambut kami dan batu-batu berukuran besar berdiri dengan gagah di tengah-tengah komplek pemukiman tradisional ini.

Sebelum kami melihat-lihat lebih jauh, kami diarahkan ke Posko Informasi. Di sini, kami mengisi buku tamu dan memberikan sejumlah uang seikhlasnya untuk biaya perawatan kampung tradisional ini. Setelah urusan di sini beres, langsung kami bergegas mengeksplor lebih jauh kampung yang masih dilestarikan originalitasnya ini. Sebelumnya tak lupa mengambil foto di dekat “pintu” kedatangan.

Sambil terus berjalan menuju tempat teratas di kampung ini, saya perhatikan sekeliling. Di rumah-rumah tradisional ini, terlihat beberapa warga sedang sibuk menenun kain. Ya, memang NTT ini terkenal dengan kain tenunnya. Bahkan tiap daerah memiliki motif tersendiri yang masing-masing memiliki keunikan yang mencerminkan daerahnya.

Kalau menenun dilakukan oleh para ibu, lain lagi aktivitas yang dilakukan bapak-bapaknya. Saat saya berkunjung, beberapa sedang memilah biji kopi. Kabupaten Ngada juga terkenal akan kopinya. Bahkan kopinya telah mendunia. Di beberapa gerai Starbuck, mungkin kamu bakal nemuin kopi Bajawa ini, cobain deh, rasanya enaaaaak.

kampung bena flores

Sedangkan anak-anak kecilnya terlihat asik bermain dengan teman sebayanya. Beberapa wisatawan juga terlihat di kampung adat ini. Anehnya, semua wisatawan yang saya lihat saat itu adalah wisatawan asing. Beberapa bule, beberapa lagi Jepang. Wisatawan lokal saat itu cuma saya dan Pak Zen.

Berjalan semakin ke atas melewati rumah-rumah adat, akhirnya sampailah kami di bagian teratas dari perkampungan adat ini. Dari sini, terlihat jelas barisan rumah-rumah adat Kampung Bena. Terlihat berjejer rapi dengan background alam Flores yang hijau.

Di kampung ini banyak terdapat batu-batuan berukuran besar yang merupakan peninggalan jaman megalitikum. Di tengah perkampungan terdapat batuan yang biasa digunakan masyarakatnya untuk memotong hewan. Selain itu juga terdapat batu-batuan besar yang tidak digunakan masyarakat.

pic nyomot dari Detiktravel

Di belakang perkampungan ini berdiri kokoh gunung Inerie yang dari hotel terlihat begitu menawan. Masyarakat di sini bilang bahwa biasanya banyak bule yang melakukan trekking ke gunung itu di pagi hari dan kembali sore hari. Terkadang bahkan ada yang sampai menginap.

kampung bena di kaki gunung inerie

Saya sangat menikmati pemandangan indah dari atas sini. Barisan perkampungan adat yang rapi dengan gunung inerie yang menjulang cantik di belakangnya. Di sisi lainnya, terlihat perbukitan berundak yang tak kalah menawan.

Saya duduk terdiam di sebuah batu besar. Memandang setiap sudut bukit dan lembah yang indah sambil menghirup segarnya udara pegunungan flores. Ah, nikmat mana lagi yang saya dustakan??

gunung inerie tertutup kabut
gunung inerie tertutup kabut

Setelah puas menikmati pemandangan di sekitar perkampungan, kami memutuskan untuk kembali ke hotel karena waktu makan siang sudah dekat. Sampai di parkiran motor, ternyata sudah datang lebih banyak lagi wisatawan, dan semuanya wisatawan asing. Hmmm,, waktu itu memang Kampung Bena belum begitu populer di kalangan wisatawan lokal sehingga wisatawan lokal mungkin banyak yang belum mengetahui tempat yang magical ini.

gunung inerie
gunung inerie

Di perjalanan pulang dari kampung bena, gunung Inerie yang sebelumnya terlihat samar karena tertutup oleh kabut, kali ini menunjukkan kegagahannya dengan jelas. Kesempatan ini ngga saya sia-siakan untuk berfoto, sebagai kenang-kenangan dan bukti bahwa saya pernah berdiri di kaki gunung Inerie yang sangat indah.

Sekitar setengah jam kemudian, saya sudah sampai di Kota Bajawa. Kota kecil nan sejuk dan asri yang bikin saya betah tinggal di sini. Ditambah hotel Edelweiss adalah hotel favorit para traveler yang transit menuju ke Ende dari Labuan Bajo atau sebaliknya..

 


Berkunjung 2013

Traveler Paruh Waktu

Travel Blogger Indonesia.

Related Posts

Leave a Reply