Kincir Angin Raksasa dan 2 Hal Unik Lainnya di Jeneponto

Baling-baling itu berputar, tapi sangat pelan. Saya bisa mengamati dengan jelas ukurannya yang super besar. Di sini, di tanah dengan kawanan kuda di tepian jalan, dengan masakan coto kuda untuk menghangatkan diri dari dinginnya hujan, puluhan kincir angin raksasa di Jeneponto berdiri dengan gagah.

Telah lama saya memimpikan berjumpa denganmu. Kita telah bertemu. Kini saya harus kembali berlalu. Saya tersenyum, memandang ke batas terjauh pandangan mata di lautan seluas samudera. Sayonara, Bira..

Piston dalam mesin kembali berputar. Pembakaran bensin menghasilkan tenaga sebesar 8,68 daya kuda yang dihantarkan melalui van belt menuju roda belakang. Putaran roda belakang berbalut ban karet 14 inchi kembali menyapa jalanan Sulawesi.

Jarak sejauh 188 km harus saya tempuh untuk menuju kota paling ramai dan paling besar di tanah Celebes, Kota Makassar. Jika tanpa hambatan dan tanpa berhenti, 4 jam perjalanan bisa dilalui. Semoga saja, perjalanan ini memang akan lancar.

Drama Lagi, Motor Lagiiiii..

Motor saya hentikan sesaat selepas tanjakan kecil. Rasa-rasanya motor ini berjalan tak seperti seyogyanya. Benar saja, ban belakang tak lagi terisi angin yang mengakibatkan jalannya motor terseok.

Sekilas ingatan, beberapa puluh meter di belakang ada penjual jasa tambal ban. Segera stang saya putar balikkan dengan putaran perlahan pada selongsong gas. Motor melaju pelan seraya kaki saya menggantung untuk menjaga keseimbangan, motor sudah sangat oleng kapten.

Ban kembali terisi angin, saya kembali melaju di atas aspal yang cukup mulus, sinar mentari yang semakin panas turut mengikuti. Beberapa saat kemudian, di sebuah tanjakan, petaka kembali terjadi, ban belakang bocor lagi! Apes lagiii!!! Motor lagi!!! Motor kembali melaju dengan terseok, apalagi kali ini tanjakan yang harus saya taklukan cukup curam.

Lihat video perjalanannya di sini

Beberapa ratus meter kemudian, saya berjumpa dengan toko ban motor. Tanpa tedeng aling-aling, kali ini saya tak ingin lagi gambling dengan ban ber-ban dalam ini, tambal saja tak cukup, menggantinya dengan ban tubeless adalah wajib. Seratus sembilan puluh ribu terpaksa saya keluarkan untuk menuntaskan masalah ini.

Bismillah, semoga tak ada lagi drama ban motor.

Baca juga: Drama Pertama Jelajah Sulawesi, Kunci Motor Hilang di Jalan!!

Kincir Angin Raksasa dan Kuda yang Berkeliaran Bebas di Jeneponto

Saya kembali melaju, meninggalkan Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Bantaeng. Kali ini saya memasuki Kabupaten Jeneponto. Sejatinya, di sinilah titik paling Selatan di Sulawesi Selatan (sisi darat). Tetapi posisi Tanjung Bira yang berada di sudut ujung tenggara yang mungkin menjadikan titik nol Sulawesi Selatan berada di sana.

Kuda-kuda berkeliaran bebas di tanah ini. Saya teringat akan kuda-kuda yang merumput di gersangnya perbukitan Sumba Timur. Bedanya, di Jeneponto kuda-kuda itu berkeliaran di dataran rendah dengan rumput hijau yang melimpah.

Sebetulnya, kuda yang berkeliaran bebas juga saya temui dalam perjalanan dari Bajoe ke Tanjung Bira. Hanya saja, jumlahnya tak semasif di Jeneponto. Di Jeneponto, bahkan gerombolan sapi tak sebanyak gerombolan kuda. Ada apa gerangan di sini? Tapi entah kenapa saya tak berhasrat untuk berhenti dan mengeluarkan kamera. Saya hanya menikmati perjalanan saya ditemani oleh kuda-kuda yang merumput.

kebun angin jeneponto

Barisan objek asing yang tertangkap mata “memaksa” saya untuk berhenti. Saya tak pernah melihat benda ini sebelumnya. Tinggi menjulang, berwarna putih, di puncaknya terdapat baling-baling yang sangat besar. Iya, ini adalah kincir angin, kincir angin raksasa.

Usut punya usut, ternyata lokasi tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo I Jeneponto. Bagi yang belum tahu, Bayu adalah nama lain dari Angin. Mungkin karena nama PLTA sudah diklaim duluan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air, maka dipakailah kata “Bayu”.

PLTB Tolo I Jeneponto selesai dibangun bulan November 2018, 2 bulan sebelum saya datang, beruntungnya saya bisa melihatnya setelah dibangun 100%. PLTB ini juga dikenal dengan nama “Kebun Angin”. Berkebun identik dengan menghasilkan sesuatu dari yang kita tanam. Di sini, dengan menanam kincir-kincir angin raksasa, kita bisa memanen angin untuk dikonversi menjadi tenaga listrik.

kincir angin raksasa jeneponto
kincir angin raksasa jeneponto

Coto Kuda

Awan hitam tampak menggelayut di langit dan terlihat mendekat. Saya yang awalnya termenung melihat kemegahan kincir angin raksasa segera bergegas untuk berkemas kembali. Belum sempat saya memakai jas hujan dengan lengkap, hujan turun dengan derasnya. Sial.

Hujan sangat deras, saya melaju dengan jarak pandang terbatas. Melaju sembari seakan diguyur oleh hujan yang memang sangat lebat. Uniknya, hal tersebut hanya terjadi beberapa ratus meter saja. Tiba-tiba saya memasuki wilayah kering, tanpa setetes pun air hujan. Ahaha, hujan lokalnya sangat lebay.

Kemudian, saya mendapat jawaban atas pertanyaan saya tentang kenapa di sini banyak kuda? Ini dia, COTO KUDA. Coto memang olahan makanan khas sulawesi selatan, tetapi coto dengan olahan daging kuda adalah menu khas yang lebih khusus di Jeneponto.

coto kuda jeneponto

Semangkuk coto kuda hangat sungguh sangat nikmat di saat tubuh kedinginan setelah melewati hujan. Awalnya saya tak bisa membedakan daging kuda dengan daging sapi. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya daging kuda lebih berserat (cmiiw).

Perjalanan selalu memberikan kejutan ya. Selain drama-drama sialan, hal-hal unik di luar perkiraan pun hadir menjadi pelipur. Sebelum perjalanan ini, saya tak tahu ada kincir angin raksasa, kuda yang berkeliaran bebas di tepi jalan, dan coto kuda di Jeneponto. Bahkan, nama Jeneponto pun baru saya tahu saat itu. Ah, itu sih sebenarnya bukan kejutan, wawasan saya saja yang kurang, hihi..

 

***

Traveler Paruh Waktu

 

Travel Blogger Indonesia. Traveler Paruh Waktu. 100% sundanese. ASN pengagum Ibu Pertiwi, terutama akan keindahan alamnya. Suka bertualang, suka bercerita, suka membuat video.

Related Posts

45 Responses
  1. Hahahaha… Ngeselin banget ya, Bung, kebanan pas dalam perjalanan panjang? Sekali waktu saya pernah kebanan dua kali pas pagi-pagi buta. Waktu itu motoran berempat (bonceng 2) dari Jogja ke Lombok. Pas balik dari Lombok ke Bali, di Jalan Ida Bagus Mantra, bocor. Untung ada tambal ban yang buka. Rampung ditambal, sekitar 10 menit jalan bocor lagi. Haduh…

    Keren banget kincir anginnya. Pas banget memang daerah Jeneponto dan Bantaeng buat dipasang kincir angin seperti ini. Anginnya banter. Saya ke sana 2014, Agustus atau September, belum ada kincir angin itu, Bung. Ah, jadi pengen lihat langsung ini. Pasti takjub ntar.

    1. Bung, saya dapat blog award dari seorang narablog. Sudah lama banget sejak terakhir kali saling tag blog award begini sama kawan-kawan narablog. Lama banget mikirnya sampai saya memutuskan buat ikut. Ragu juga buat mengubah ritme ngepos. Tapi, akhirnya ikut juga buat lucu-lucuan. Hahaha. Nama Bung saya mention sebagai nominator buat award itu. Hahaha. Monggo dicek. Sans saja. No pressure at all. 🙂 Thanks Bung. 🙂

      1. kalau 2 kali bocor emang menguras emosi bgt ya haha.. tapi kalau rame2 masih lebih mending lah.. nah kalau sendirian tu rasanya seperti sudah jatuh tertimpa tangga, haha..

        wah iya kalau 2014 mah belum ada tuh pasti kincir anginnya.. saya pun kemarin belum sempat mendekat, dari kejauhan itu liatnya..

        wah untuk narablog nanti cari waktu yg kosong dulu ya bung, soalnya ini sampai oktober udah ada judul2 artikel menanti wkwk..

  2. Coto kuda ini udh seriiing banget aku denger, dan pasti bikin penasaran. Walopun, aku ga bakal tega kalo liat kudanya lgs dipotong sih :(. Di Rawamangun wkt itu ada yg jual daging kuda, tp aku ga berani beli mas. Krn ga tau asalnya dr mana dan halal ato ga cara sembelihnya. Soalnya di pinggir jalan gitu hahahah. Kalo dipasar resmi mungkin bakal aku beli. Semoga ntr bisa nyobain deh Coto kuda ini

  3. Sungguh menarik perjalanannya di Sulawesi. Melihat kawanan kuda yang lebih banyak dari sapi hingga melihat kebun angin.

    Jadi penasaran juga ama daging kuda, saat di Jogja nemu sih oseng kuda, tapi belum buka warungnya dan masih takut mau nyobainnya.

  4. Wah, pengin juga lihat pembangkit listrik tenaga angin dari dekat. Selama ini cuma lihat di film-film Hollywood aja. Indonesia tuh kaya, ya. Angin punya, panas bumi punya, arus laut punya … kapan listrik kita nggak tergantung lagi ama batu bara, ya?

  5. 188 km ditempuh pakai motor?? wajar aja sih kalo ban motornya merintih-rintih kelelahan.. ekwk..

    btw, baru denger coto kuda.. kayak apa rasanya? sejenis soto ayam gitu kah? tapi menggunakan daging kuda?

    1. itu motor selama sebulan menempuh ribuan kilometer dari kendari sampai manado wkwk..

      ya mirip2 soto sih,, lebih tepatnya seperti coto makassar hanya dagingnya pake daging kuda, coto makassar yg biasa itu kan dari daging sapi..

  6. Wahhh keren banget cerita perjalanannya bang. Mantap betul!!!
    Rasanya baru kali ini kami mengetahui dan melihat kincir angin raksasa di Indonesia.
    Wow! Sebuah kata sederhana yang mengguncang rasa penasaran kami untuk kesana, semoga suatu saat.

    Salam hangat dari kami Ibadah Mimpi

  7. Waw, keren sekali kincir anginnya. Bisa menghasilkan listrik yang bermanfaat. terlebih habis itu menikamti Coto Kuda. Baru tau sih, tapi setelah baca langsung googling dan akhirnya kok pengen yaaaa hahaha, semoga bisa menikmatinya suatu hari nanti

  8. Lama juga saya nggak mampir di blognya mas Bara. Jadi kangen jalan-jalan dan kulineran…

    Btw, kincir anginnya tinggi sekali. Indonesia sumber daya alamnya melimpah semoga bisa dimaksimalkan.

  9. Janeponto, nama yang asing bagi saya. Betapa saya belum banyak kemana-mana di Indonesia ini.
    Suka gaya tulisannya, sangat personal dan terasa enak ketika dibaca.

  10. Wah mantap sudah ke PLTB Tolo dan makan coto kuda, lengkap sudah tick box untuk Jeneponto. Kebetulan studi awal PLTB ini, kantorku ikut terlibat. Kalau main ke kantornya Vena Energy, persis di dekat PLTB nya, bisa dapat penjelasan lebih detail tentang PLTB ini.

    Jeneponto punya kesan tersendiri di saya. Penugasan pertama kali saya kerja adalah Jeneponto, untuk survei selama 2 minggu. Makanya ada postingan tentang Jeneponto jadi excited. Jarang-jarang yang memposting Jeneponto soalnya.

    1. ahaha, coto kuda adalah sebuah kewajiban yang dipenuhi saat berkunjung ke Jeneponto ya? 😀

      sayang waktu itu nggak sempat explore lebih jauh tentang PLTBnya ini. Ternyata si masnya berkaitan langsung dengan pembangunan PLTB ini ya,, mantap…

      Kadang tempat penugasan pertama itu memberikan kesan mendalam ya.. Saya pun begitu, NTT adalah penempatan kerja pertama saya. Sampai sekarang selalu excited melihat postingan orang-orang tentang NTT..

  11. Ahaha drama membuat perjalanan menjadi lebih bermakna. Gue juga pernah kehujanan menerjang banjir, terus naik kereta api 3 jam, terus naik pesawat, transit semalem di bandara, terus naik pesawat lagi. Bau kaki gue udah nggak karuan wkwkwk.

    Ternyata masalah motor beres ya, kirain gangguan gaib 😀

    Penasaran cobain Coto Kuda! Belom pernah.

    1. Udah kek tikus got itu cuy, basah2an lalu pindah mode2 transportasi wkwk.. Hampir semua (kalau engga dibilang semua) pejalan kayanya selalu menjumpai drama-drama yang menjadikan bumbu dalam perjalanannya yaa..

      Kalau gangguan gaib amit-amit dah, jangan sampe haha..

      cobain coto kuda bro kalau ke Makassar..

  12. hahaha
    janagan sampe daha lagi backpekeran di negeri orang punya pengalaman ghaib, amit2 jangan smpe terjadi deh, mantep gan pengalamannya, apalagi smpe mkan daging kuda, ane blom pernah wkwkwkwk, thank bang ats berbagi pengalamannya

  13. Tahun 2017 saya berkesempatan ikut outing kantor ke Bira, dari Makassar melewati Jeneponto, walaupun tidak mampir tapi senang dengan pemandangan Jeneponto yang serasa di Afrika dengan kuda2 yang berkeliaran di tanah yang tandus. Sayang nya belum sempat nyobain coto kuda. tapi kalau daging kuda udah sering kalau pulang kampung ke sumatera, tapi dimasak rendang. Salam kenal Bung

    1. wah sayang bgt gak sempat nyobain coto kudanya, padahal itu adalah makanan khas jeneponto yang wajib dicoba 😀 ..

      daging kuda yang dimasak rendang? apakah di dolok sanggul?? soalnya pas dari danau toba dulu makan rendang daging kuda di sana..

      salam kenal juga bung.. makasih sudah mampir..

  14. hehehe aku kok ga tega mau makan coto kuda ya, antara aneh sama mungkin ga biasa kalo di jawa
    aku tau nama jeneponto dari postingan temen aku waktu ke air terjun yang virallll banget waktu itu, lupa nama air terjunnya, kayaknya lebih terkenal air terjun jeneponto

    1. karena daging kuda jarang2 juga yekaan diperjualbelikan..

      emang sih kalau search di internet ada beberapa air terjun kece di Jeneponto,, tapi sayangnya ngga searah dengan jalurku, harus blusukan lagi jadi kuskip aja ahaha..

Leave a Reply