Melihat Salah Satu Lukisan Gua Tertua di Dunia yang Ada di Leang-leang

Banyak sekali batuan beraneka ragam, beraneka ukuran, unik, yang berserakan di depan tebing karst yang tegak lurus itu. Pepohonan rindang menghalau terik matahari. Sebuah sungai mengalir, airnya terasa segar. Di seberang sana terdapat sebuah gua. Bukan gua biasa, tapi gua yang memiliki sejarah penting, dengan lukisan dan alat-alat masa lampau yang menjadi petunjuk kehidupan zaman prasejarah. Di Taman Prasejarah Leang-leang Maros, kita tidak hanya menjumpai keindahan alam, tapi juga ilmu pengetahuan.

 

batuan karang leang-leang

Kupu-kupu, terima kasih

Terima kasih atas warna-warnimu yang menghiasi alam bantimurung

Terima kasih masih tetap hadir di cerahnya pagi, ketika sinar mentari mengisi celah kosong di antara dedaunan

Walaupun deforestasi dan perburuan terus mengancam

Tetaplah di sana, tetaplah bertahan

Aku pergi dulu

Ibu pertiwi luas

Aku belum begitu mengenal sosok ibu

Aku harus mencari tahu lebih banyak tentang ibu

Perjalanan harus dilanjutkan

Aku pamit

Meninggalkan Taman Nasional Bantimurung

Di atas motor matic ini kembali saya dan Riscy melanjutkan perjalanan ke utara. Ada banyak tempat menarik di depan sana. Sementara kali ini, perhentian pertama kami adalah Leang-leang.

Dari Air Terjun Bantimurung, kami tak perlu melalui jalan poros Makassar-Toraja. Kami melewati jalan kecil di tepian Taman Nasional Bantimurung. Walau sempit, lantai jalan telah dilapisi beton.

Pemandangan yang menyejukkan hadir menemani perjalanan. Persawahan menjadi latar depan pandangan mata, dan lika-liku pegunungan karst yang membentang sebagai latar belakangnya. Di tepi jalan, sekumpulan bebatuan karang yang menggunung terlihat di antara sawah, di antara pemukiman. Banyak sekali plang bertuliskan penunjuk wisata leang di kiri kanan jalan. Memang, di sini banyak sekali gua-gua yang menembus bukit karst itu. Itulah kenapa Leang-leang menjadi nama kelurahan dari tempat yang sedang saya datangi.

Leang adalah liang, atau bisa diartikan gua. Dalam bahasa sunda pun kami menyebut liang untuk menyebut lubang. Tak heran adanya kesamaan atau kemiripan kosa kata, kita memang penutur Austronesia.

Sesekali saya berhenti, hanya untuk memandang pegunungan karst di kejauhan. Hijau di mana-mana.

Kamu bisa menggali informasi lebih banyak dan akurat

Hanya saja, ada satu titik yang tak elok dipandang. Sebagian perbukitan telah tergerus. Hutan hilang, berganti tambang. Industri semen mulai mengikis sebagian bukit, serupa dengan yang saya lihat di Kota Padang. Bantimurungku, semoga roda ekonomi tak lantas mengubahmu dari rumah satwa liar menjadi pundi-pundi rupiah Homo sapiens.

Baca juga: Taman Nasional Bantimurung, Wallace, dan Penjelajahan Masa Lalu

Melewati sebuah jembatan, beberapa detik kemudian sampailah kami di depan pintu kedatangan Taman Prasejarah Leang-leang Maros. Beberapa motor sudah terparkir di sana. Dua orang pemuda memarkirkan motornya di sebelah saya. Mereka sangat ramah dan memulai obrolan singkat dengan saya, rupanya mereka dari Bone. Saya berjalan menuju tempat penjualan tiket. Rp10.000 saya keluarkan untuk menebus tiket masuk.

leang-leang sulawesi selatan

Hutan Batu yang Unik

Gugusan batuan karang yang berserakan di Taman Prasejarah Leang-leang adalah salah satu tempat dengan visual yang membuat saya takjub saat berkelana di Sulawesi. Batu-batu berbagai ukuran itu berserakan di tanah di antara rumput hijau. Bukit karst yang tinggi menjulang di ujung belakang seolah menjadi pagar, pemisah dengan hutan. Bebatuan ini mempunyai bentuk yang unik dan abstrak, beberapa batu tampak seperti wujud dari makhluk hidup. Ukurannya juga beragam, dari serpihan kecil sampai sebesar rumah. Teksturnya kasar, dan tak sedikit pula yang lancip.

taman prasejarah leang-leang

Kenapa ada batu karang di daratan? Hasil penelitian mengungkap bahwa dulunya, tempat yang sekarang menjadi Taman Prasejarah Leang-leang adalah lautan. Mungkin saja ini terjadi karena laut mengalami penyempitan dan adanya pengangkatan daratan (laut regresi).

tebing leang-leang

Dari banyaknya gua yang tersebar di Kelurahan Leang-leang, Taman Prasejarah Leang-leang adalah yang paling populer. Himpunan batuan besar yang berserakan itu benar-benar memberi kesan prasejarah. Entah kenapa bayangan pemandangan zaman prasejarah di otak saya adalah seperti itu.

wisata leang-leang

Pengunjung cukup ramai. Hanya saja, karena tempatnya luas, saya bisa leluasa memilih spot mana yang tampak sepi untuk dituangkan ke dalam file digital. Lingkungan taman terlihat bersih dan terawat. Rumput-rumput dan tanaman-tanaman hias tertata dengan apik. Trek beton untuk pejalan kaki telah dibuat untuk menjelajah taman. Pengunjung juga dimanjakan dengan adanya pondok untuk beristirahat di beberapa titik taman. Jika pondok-pondok itu penuh, tak mengapa, pepohonan rindang juga bisa dijadikan tempat berteduh dari teriknya siang.

leang-leang maros

Leang Petta Kere, Tempat Tinggal Manusia Prasejarah

Sebuah sungai kecil mengalir, tak jauh di seberang sana bukit-bukit karst berdiri. Seperti tebing-tebing lembah harau, tebing di sini juga tegak 90 derajat. Lurus ke atas, seolah menjadi skyscraper yang terbentuk alami.

sungai di leang-leang

Sebuah jembatan menjadi jalan untuk sampai ke seberang. Saya berhenti, melihat ke arah sungai. Rupanya, di aliran sungai kecil ini pun banyak sekali pecahan batuan karang dengan ukuran yang lebih kecil.

Kami terus berjalan untuk menggapai sebuah gua prasejarah. Gua ini adalah salah satu daya tarik utama Taman Prasejarah Leang-leang Maros. Papan informasi menyambut kami di depan mulut gua. Jejak telapak tangan dan lukisan babi rusa, serta alat prasejarah berupa alat batu serpih bilah dan anak panah adalah hal yang paling menarik dari gua ini.

Usia lukisan itu diperkirakan sekitar 40.000 tahun yang lalu. Di berbagai belahan bumi, sering ditemukan adanya lukisan di gua-gua yang dibuat oleh manusia prasejarah. Teori mengatakan bahwa lukisan tersebut digunakan sebagai media komunikasi. Leang Petta Kere bukan satu-satunya di Maros, ada banyak gua lain di sana yang memiliki lukisan prasejarah. Hanya saja, sepertinya Leang Petta Kere adalah yang paling mudah diakses.

Sampai di mulut gua yang besar, petunjuk tidak ada lagi. Saya dan Riscy kebingungan mencari di mana letak lukisan itu. Kami melihat ada sedikit celah di tebing, kami pun melaluinya. Di balik celah itulah ternyata lokasi Leang Petta Kere.

pic by Cahyo Ramadhani via wikipedia

Leang Petta Kere terletak sekitar 10 meter dari permukaan tanah. Tangga besi yang sempit telah tersedia supaya kita bisa menjangkau dan masuk ke dalam gua itu. Tapi sayang, gembok terkunci. Saya tak bisa melihat hal-hal menarik di gua itu. Lukisan tangan memang masih terlihat, tapi kurang jelas. Tapi lukisan babi rusa, entahlah, saya tak menemukannya dari jarak sejauh itu.

Video perjalanan bisa dilihat di sini

Manusia Purba atau Manusia Modern??

Saya berpikir, siapa yang melukis di dinding gua? Apakah spesies manusia purba seperti Homo erectus yang ditemukan di jawa atau Homo floresiensis yang ditemukan di Flores? Apakah Denisovan? Atau manusia modern alias Homo sapiens?

Homo sapiens atau Manusia Modern mulai meninggalkan Afrika sekitar 60.000 – 80.000 tahun lalu menuju Asia dan Australia. Dalam perjalanan menuju Australia, kemungkinan Homo sapiens telah melakukan perkawinan silang dengan Neanderthal dan Denisovan. Homo sapiens diperkirakan tiba di Asia Tenggara sekitar 45.000 tahun yang lalu.

Sebelum Homo sapiens melakukan migrasi keluar Afrika, Neanderthal telah mendiami kawasan Eropa dan Asia Barat, sedangkan Denisovan mendiami kawasan Asia Timur. Beberapa literatur menyatakan bahwa ras manusia selain Afrika memiliki DNA Neanderthal, dan sebagian ras lainnya memiliki DNA Neanderthal dan Denisovan. Bahkan ada satu teori lagi yang menyatakan bahwa ras Melanesia dan Aborigin, selain memiliki DNA Neanderthal dan Denisovan, juga memiliki DNA hominin lainnya yang masih misterius.

Kalau menilik dari periode migrasi Homo sapiens dari Afrika ke Australia, nampaknya lukisan di dinding gua Petta Kere adalah ciptaan manusia modern seperti kita, Homo sapiens.

Tapi tentu tidak ada yang pasti dalam sejarah, apalagi untuk teori-teori menyangkut zaman prasejarah, semuanya kabur. Akan ada hal-hal baru, temuan-temuan baru yang memperkuat teori sebelumnya atau justru malah menggugurkan.

Tentang Homo sapiens, tentang migrasi manusia modern, kamu bisa menggali informasi lebih banyak dan akurat di internet atau buku. Saya bukan ilmuwan, bukan juga lulusan Antropologi. Saya hanya suka sekali membaca dan mempelajari tentang keragaman ras manusia.

leang-leang

Selain keunikan hutan batu dan tebing perbukitan karst yang cantik, berkunjung ke Taman Prasejarah Leang-leang Maros juga semakin menguatkan rasa penasaran saya tentang kehidupan manusia prasejarah. Semakin banyak hal yang saya tidak tahu, yang menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya, lalu memaksa saya untuk tetap membaca, dan membaca lebih banyak lagi. Satu lagi pelajaran berharga yang bisa saya petik dari perjalanan panjang ini.

***

traveler paruh waktu

 

 

Travel Blogger Indonesia. Traveler Paruh Waktu. 100% sundanese. ASN pengagum Ibu Pertiwi, terutama akan keindahan alamnya. Suka bertualang, suka bercerita, suka membuat video.
96 Responses
  1. Njir, aku koq baru tau peninggalan pra sejarah ini ya Mas? Atau aku yang kudet ya? Eh tapi beneran lho…aku baru tahu. Makasih informasinya Mas Bara? Jadi penasaran googling lebih jauh soal tempat ini.

    Salam…

  2. Oh, wow .. itu keren banget lokasi foto mas Bara berdiri nangkring diatas batu purba!.
    Yang keren juga aliran sungainya .., lokasinya dipenuhi bebatuan karang berdiri kayak lihat pemandangan jaman prasejarah saat ada dinosaurus.

        1. haha, saya kan milenial zaman old juga, jadi pernah ngalamin wkwk.. kalau fosil hewan-hewan laut kaya kerang gitu2 sih ada, cuma kalau hewan laut purba ngga tau juga sih..

  3. Saya kebetulan penyuka sejarah dan memang tahu kalo di Maros ada lukisan prasejarah yang dilukis manusia purba zaman dahulu, cuma ngga nyangka bang Bara kesana juga untuk melihatnya secara langsung. Salut sama Abang.

    Banyak sekali ya batu karang di Maros, mungkin benar kalo zaman dahulu Maros itu lautan terus airnya surut dan jadi daratan.

    Wah, itu yang pakai kaos biru naik batu karang siapa tuh?

    1. Kebetulan searah sama rute perjalanan saya mas, jadi saya kunjungi sekalian, dan menurut saya tempatnya memang bagus dan sarat sejarah..

      yg pakai kaos biru itu homo sapien + neanderthal + denisovan mas 😀

      1. Coba juga ke gunung Padang Cianjur Jawa barat kang, katanya disana juga peninggalan sejarah yang tua, ada yang bilang 10 ribu tahun sebelum Masehi, bahkan ada yang bilang sampai 28 ribu tahun.

          1. Wkwkwk ngga tahu bangsa Atlantis atau mungkin bangsa wakanda bang.

            Sebenarnya di Indonesia juga banyak peninggalan sejarah yang belum banyak digali ya, mungkin karena banyak gunung berapi jadinya bangunannya tertutup abu vulkanik dan lama-kelamaan jadi tanah seperti saat pertama candi Borobudur ditemukan

          2. iyaa, karena banyak gunung berapi, telah melewati ribuan tahun pasti udah sering meletus kan.. kaya candi borobudur dan candi2 sekitarnya juga yg dulunya tertutup abu vulkanik setelah gunung meletus.. Pasti masih banyak lagi sih peninggalan2 sejarah atau prasejarah yang masih tertimbun di tanah atau berada di hutan terdalam..

  4. Leang-leang ini menari nari di kepala sejak zaman SD SMP SMA, tapi baru akhir-akhir ini tau kalo lokasinya di Sulawesi 🙂
    Nambah lagi noih wishlist saya di sulawesi selatan, terimakasih informasi dan foto2nya Bar 🙂

    Aku sulawesi paling penasaran sm sulawesi utara sih, ditunggu ya postingan soal tanah Minahasa nya…

    1. wajib dikunjungi kalau ke Sulsel, soalnya ini juga cukup dekat dari bandara, deketan ke sini daripada ke Makassar (walau beda arah sih)..

      Tunggu saja kang, artikel Sulawesi Utara masih panjang, Sulawesi Selatan aja masih banyak wkwkwk..

  5. Kagum dengan bebatuan di sana, suami saya pasti akan menyukai lokasi itu, kebetulan dia juga guru sejarah 🙂
    Mempelajari sejarah masa dulu, bisa menambah wawasan kita tentang kondisi dahulu…

    1. iya, rasanya ini tempat wisata alam paling bersih dan terawat yg pernah kudatangi di Indonesia.. Nah, orang geologi mungkin lebih antusias, karena mereka punya ilmunya juga..

  6. Wooowww saya jatuh cinta sama fotonya hahahaahaha. Indah banget mas, kelihatan super terawat. Hijaunya itu lho bukan hijau gersang. Mana batu-batunya juga tersusun rapi, especially yang disuka, syuka foto sungainya 😀 baguuuuuusssss!!! *nggak santai* hahahahaha.

    Saya suka warna-warna hijau yang seperti ini soalnya dan nggak sangka ini adalah salah satu tempat wisata di Indonesia 😀 huhu jadi ingin pergi ke Sulawesi Selatan. Beruntung yang rumahnya dekat sana, bisa jalan pagi sambil lihat pemandangan 😀

    1. iyaa bisa rapi gitu yaa batunya.. yg paling kuheran sih bersih dan terawatnya itu,, kok bisa di Indonesia bisa terawat gitu, padahal tempatnya cukup luas, haha..

      mungkin karena datang di Januari yg mana sedang musim hujan makanya ijonya royo2 bgt 😀 ..

      1. Bar, request dong buat postingan ke depan wkwkwk (kayak radio aja pake request segala)
        Aku pengen tau knp di seluruh sulawesi banyak kota dan tempat yg namanya diulang-ulang: Leang-leang, rammang-rammang, pare-pare, tojo una-una, toli-toli, bau-bau hehehe
        Thanks

  7. Subhanallah,, bagus banget..
    Bentuk batunya itu lohhh, photogenic banget..
    Wow 40.000 tahun yah.. Masih jelas banget bentuk tangannya. Merinding ih, nggak bisa ngebayangin manusia yang hidup di zaman itu. Bahasa masih ala kadarnya, etnis belum ngerti, peradaban kecil-kecilan… Banyak hewan buas..

  8. View-nya yang persawahan dengan tebing di belakangnya breathtaking banget, yak. Melihat hamparan rumput hijau dengan bebatuan berbentuk menarik ku jadi ingin gelar tikar terus piknik di sana. Sepertinya damai dan tenang sekali.

  9. Sayang sekali gempoknya terkunci, sehingga tidak begitu jelas melihat lukisannya
    Saya sendiri sebenarnya sangat penasaran dengan detail lukisan tersebut
    Harga tiketnya murah sekali ya, sangat terjangkau

  10. Gw sebagai orang Sulsel malu sendiri hahaha, ini mas Barra lebih hapal tempat pariwisata Sulsel daripada saya.

    Saya beberapa kali ke Bantimurung, malah luput terus ke Leang Leangnya. Ternyata keren banget ya foto fotonya. Mantap mas

    Keep posting

    1. saya aja kalau ditanya wisata jawa tengah dan jawa barat sebagai asal saya, banyak yg saya gak tau hahaha..

      Waduh, padahal leang-leang cukup dekat dari air terjun bantimurung..

  11. Semoga suatu waktu sejarah bisa ditera ulang dengan dasar-dasar saintifik yang lebih memadai. Salah satunya tentu saja sejarah perkembangan ras manusia. Temuan-temuan seperti lukisan di Leang-leang Maros ini bisa jadi menguatkan argumen bahwa Homo Sapiens yang maju dan berbudaya, sudah ada jauh lebih awal dari yang kita duga.

    Di Maros ini umur lukisannya sekitar 40 ribu tahun (beberapa sumber yang pernah saya baca menyebutkan 44 ribu tahun), di Kalimantan juga pernah ditemukan lukisan cap tangan dan hewan banteng dengan umur yang juga diperkirakan 40 ribu tahun. Menarik melihat benang merahnya. Jangan-jangan ini malah bukti bahwa nenek moyang prasejarah kita jauh lebih maju dari yang kita duga dan ga kalah canggih dari homo sapiens di benua lain.

    Gua yang berisi lukisan prasejarah seperti ini kalau ga salah juga ada di Chauvet, Perancis. Lukisannya berupa cap tangan, rusa, beruang dan kambing. Tapi dari segi umur katanya baru 20-35 ribu tahun. Yang di Indonesia berarti jauh lebih tua usianya. Mantul gan!

    Cuma yang agak menjadi perhatian, kenapa di kita guanya masih bebas diakses umum ya? Yang di Perancis guanya hanya terbuka untuk penelitian dan ditutup untuk umum. Lukisan gua yang berusia puluhan ribu tahun sangat rentan sama perubahan suhu, gerakan, dll, kalau dilihat oleh banyak orang bisa memperparah kerusakan itu (seperti yang terjadi di perancis). Semoga kerusakan yang sama tidak terjadi juga di Leang-leang ini.

    1. aamiin,, saya juga berharap seperti itu, sangat penasaran tentang zaman prasejarah.. Ingin tahu jawaban tentang banyak pertanyaan di kepala. Tentang manusia purba, tentang dinosaurus, tentang hewan-hewan purba setelah era dinosaurus, bahkan tentang bagaimana Adam dan Hawa dikaitkan dengan fosil2 dan kerangka hominin. Apakah ada keterkaitan atau merupakan garis yang berbeda. Beneran penasaran bgt tentang misteri2 itu semua..

      Saya juga pernah baca yang kalimantan itu, memang lebih tua dari yg di Maros. Wajar sih, karena kalau dari teori migrasi homo sapiens, tentu mereka lebih dulu berada di kalimantan yang waktu itu masih satu daratan dengan asia. Justru saya penasaran bagaimana mereka sampai ke Sulawesi padahal saat itu sulawesi dan asia telah terpisah laut. Ada teori terbawa tsunami tapi masa iya bisa survive dalam jumlah banyak? Jangan-jangan mereka telah menemukan teknologi perahu??

      Kalau lukisan2 di gua2 Eropa itu dibuat oleh Homo neanderthal, sub spesies manusia yang walaupun otaknya lebih besar dari Homo sapiens, tapi tidak seadvance sapiens.. Saya melihatnya malah, di Eropa itu lebih banyak ditemukan lukisan gua karena memang lebih banyak yg meneliti di sana. Siapa tahu justru di belahan bumi lain banyak juga lukisan2 yg lebih tua tapi belum tersentuh karena terbatasnya penelitian. Sampai dunia kiamat pun, rasa-rasanya nggak akan ada yg bisa menebak secara pasti tentang sejarah puluhan ribu bahkan jutaan tahun lalu, tetap menjadi misteri..

      Pas saya datang sih sudah digembok. Entah apakah harus ada izin khusus untuk bisa masuk atau bagaimana. Takut juga sih kalau terlalu bebas wisatawan masuk, malah nanti akan rusak. Tahu sendiri di kita banyak yg kurang punya kesadaran untuk menjaga hal2 begini.. Karena di luar gua pun, di beberapa batu di Leang-leang ini ada coretan2 iseng dari (sepertinya) anak-anak remaja. Miris..

      1. Bener banget, bikin penasaran. Jadi ingat dulu waktu pertama kali belajar manusia purba di sekolah menengah pernah nanya ke gurunya:

        Pak, jadi manusia purba sama nabi Adam duluan mana?

        Dijawab dengan singkat oleh gurunya: Hal demikian tidak sepantasnya dipertanyakan.

        Lah…

        Tapi ada bagusnya sih dijawab begitu. Sejak itu saya malah jadi tambah penasaran dengan sejarah peradaban manusia :))

        Bayangkan kalau ternyata memang masa itu memang sudah ada teknologi perahu atau semacamnya? Atau malah teknologi alat angkut terbang? hahaha.. *insert Ancient Aliens meme here*

        Semoga saja dikunci memang untuk membatasi akses pengunjung ya. Sayang banget kalo lukisan mahapenting begitu harus rusak karena banyaknya pengunjung.

        1. Kalau dipikir2, jawaban guru di sekolah sebenarnya banyak yg kurang memuaskan.. Saya pun dulu pernah euy nanya ke guru, waktu itu pelajaran agama..

          “pak, di Alquran dijelaskan tentang dinosaurus ngga”

          gurunya jawab “itu mah ditanya di pelajaran lain harusnya”

          teman-teman pun pada ketawa denger pertanyaan itu..

          Sebenarnya jawaban itu sama sekali ngga memuaskan, tapi males tanya lagi udah diketawain soalnya.. Setelah internet mulai merakyat dan mudah diakses, saya jadi sering mencari2 bahan bacaan di internet tentang banyak hal yg masih menjadi tanda tanya di bangku sekolah dulu..

          —-

          iya, semoga pemerintah lebih bisa menjaga aset2 sejarah itu..

  12. Uwah… Keren banget tempatnya, jadi kemungkinan tempat itu dulunya lautan, makanya ada banyak batu karang berserakan. Uniknya….
    Yang dibuat oleh alam emang selalu bikin takjub ya.

    Sayang banget nggak bisa masuk lebih jauh ke dalam guanya. Tapi bisa naik ke atas batu di foto terakhir itu asyik banget ya….
    Berasa jadi traveler yang memandang jauh ke depan, habis ini mau ke mana lagi, gitu.

    1. Iya dulunya lautan, tapi ya entah berapa ribu atau juta tahun lalu, pastinya membutuhkan waktu yang lama 🙂 ..

      Haha,, iya batu yg menjulang itu emang pas bgt buat bikin foto ala-ala.. Yang penting hati-hati aja pas naik..

  13. Tips gimana mas bisa ngambil spot yang nggak banyak manusia? jadi terkesan ekslusif banget. Haha. Mantau duluu . Lebih suka foto kaya gini, natural dan nggak banyak efek. Jadi ekspektasi vs realita bisa sejajar. 😀

    kalau bahas manusia purba dan tentang manusia, kayanya perlu ngrampungin buku Sapiens nya Noah Harari. Belum kelarrr. ahaha.

    1. wah itu mah kebetulan aja lagi ngga ada orang di background, kalau pun, tertutupi batu2 besar itu haha..

      buku sapiens udah lama ngincar tapi belum kesampaian beli.. sementara masih baca2 pecahan puzzle yg berserakan di internet aja.. 🙂

  14. Wah, keren banget! Cita-cita saya banget nih berkunjung ke Maros dan melihat langsung lukisan peninggalan purbakala di Indonesia.

    Kalau dilihat, lukisan purba itu bentuknya kurang lebih itu-itu saja kan: cap tangan dengan pewarna atau bekas telapak tangan yang void zat warna, gambar banteng atau rusa, lingkaran, titik-titik berurutan, garis-garis, kadang bentuk seperti orang berburu. Ada sih gambar nggak umum, tapi itu jarang banget. Nggak ada yang gambarnya bentuk ++ atau segitiga dalam lingkaran, padahal bikinnya juga gampang kan. (Saya nggak minta gambar segi delapan atau bunga matahari yang ribet, ya.) Berarti pola lukisan ini universal dong, entah merupakan kode tertulis dari asalnya di Afrika sana atau merupakan hasil komunikasi di perjalanan selama pergerakan migrasi nenek moyang manusia ini. Sayangnya kita nggak pernah bakalan bisa tanya sama pelukisnya itu artinya apa …

    1. semoga bisa segera berkunjung ke Maros setelah pandemi..

      Iya juga ya,, selalu objeknya tentang makhluk hidup dan apa yg mereka lihat sehari-hari. Dan seluruh dunia mirip2 aja bentuk lukisannya.. Apakah itu dulu sebagai bahasa universal mereka atau gimana yaa.. Tapi buat saya, mengamati hal-hal seperti ini sangat menarik.

  15. Wwihhhh tempatnya keren bangettt asliii, gak nyangka ada tempat seperti ini yaahhh.. Jadi pengen pindah wehhh hahaha.. Asri banget.. izin save mass., unik lah blog mas bara anggara nih selalu mengunjungi tempat tempat yang berbeda dan jarang ada.. Terima kasih infornya mas 😀

  16. Saya agak lama terhenti di paragraf yang menyentil sedikit tentang pabrik semen yang mengganggu keasrian daerah sekitar.

    Hufh, memang sulit sekali harus tegas berada di sisi mana untuk isu ini. Satu, mendukung sepenuhnya keaslian alam sehingga tetap asli dan asri, tapi di sisi lainnya, tanah kita kaya sekali akan bahan baku yang bisa diolah dan dimanfaatkan oleh industri untuk kepentingan luas. Sekali kekayaan tersebut terekspos, maka tak bisa sepenuhnya kita menolak kehadiran industri untuk mengolah bahan baku yang tersedia, dengan risiko alamnya rusak atau minimal terganggu.

    Kalau ingin setengah-setengah, mengizinkan industri masuk dengan mempersyaratkan pemeliharaan lingkungan dan alam kepada industri tersebut, mungkin jadi solusi, tapi alam yang sudah terjaman industri tak akan pernah lagi sama seperti sedia kala.

    1. Betul mas, memang rumit kalau udah kaya gini. Supaya lebih fair memang harus dilihat dari berbagai sudut pandang .. Harapan saya sih, semoga saja hanya sebagian kecil saja bagian bukit bantimurung yg bisa untuk dieksploitasi kekayaan di dalamnya.. Sementara sih yang terlihat memang hanya sebagian kecil saja.. Semoga memang tidak sampai merusak ke dalam..

      Yang perlu dikhawatirkan lagi kalau ada illegal logging di dalam hutannya. Dari luar kelihatan rimbun, tapi ternyata di dalamnya gundul. Hal kaya gitu pernah (dan mungkin masih) terjadi di Sumatera Barat. Banyak yang bercerita ke saya..

      1. Iya Mas, saya setuju perlu ada pembatasan industri/pabriknya. Tapi kehadiran satu pabrik saja di sana akan membuka efek domino, misalnya dengan banyaknya pekerja di pabrik, mungkin ada warga yang akhirnya membuka lahannya untuk dibangun kos-kosan bagi pekerja, membuka warung makan atau restoran, minimarket, dsb., atau usaha lainnya yang mungkin akan memakan ruang terbuka hijau menjadi bangunan permanen berbahan beton.

        Semoga warga dan pemerintah setempat tetap arif dan bijaksana dalam memanfaatkan potensi alam mereka.

        1. iya ya mas,, belum lagi polusinya.. apalagi untuk pabrik semen, debunya bisa mencemari lingkungan sekitar juga setauku, di Padang ada yg begini soalnya..

          yup.. semoga pemanfaatan potensinya bisa terkontrol, ngga sampai tereksploitasi habis-habisan..

  17. aku kadang penasaran, lukisan itu dilukis menggunakan apa, hingga masih membekas hingga sekarang..

    itu yang dikunci pintu masuk ke dalam goa? apakah pengunjung tidak dapat masuk ke dalam goa?

    1. kalau untuk lukisan tangan katanya mereka nempelin tangan ke gua lalu ditabur zat pewarna gitu.. Hebatnya itu bisa awet sampai puluhan ribu tahun ya..

      iya dikunci, pengunjung hanya bisa lihat di luar saja.. Entah selalu seperti itu atau bagaimana. Di artikel orang sih banyak yg sampai masuk.

  18. Perbukitan dan bebatuan yang unik, seunik gaya penulisnya yang berpose diatas batu. Tinggal angkat simba dengan kedua tangan, maka kamu akan menjadi Raja Singa.

  19. Masha Allah, itu pemandangannya kenapa keren banget.
    Perpaduan hutan batu, sama yang hijau-hijau , sama yang biru.
    Cantik banget yaa..
    Semoga bisa ke sini suatu saat, senang banget sejak rajin blog walking banyak tempat-tempat yang sama sekali belum pernah saya ketahui jadi lebih tahu 🙂

    1. memang perpaduan yang bikin mata betah memandangnya,, terlihat adem.. 🙂

      aamiin, semoga bisa ke sini mbak. ini dekat dari Bandara Sultan Hasanuddin..

      Indonesia memang masih banyak tempat yg kurang terekspos..

  20. Taman prasejarah Leang-leang ini indah asri selain hijau juga banyak bebatuan karang besar sangat artistik dengab sungai nya yang bening wah tampak ssegar apik keren
    Tapi sayangnya lukisan yag dilukis manusia prasejarah nggak bissa dilihat ya penasaran juga hehehe..

  21. Aku baru tau tempat wisata yg ini. Kereeeen sih, malah jd LBH tertarik DTG ke leang2 drpd Bantimurung.

    Aku lgs ngebayangin gimana kira2 pas daerah itu msh lautan yaaa. Dan skr jd tempat yg hijaaau banget, dengan baru2 karangnya. Sama kayak baru2 raksasa di pantai Belitung yg katanya dari lontaran gunung api purba. Ga kebayang sih kalo udh bicara masa prasejarah ya mas.

  22. Tiap kali lihat bentanglahan karst seperti ini, ingatan saya kembali ke komik Doraemon Petualangan tentang perjalanan Nobita dkk. ke Segitiga Bermuda. Lupa nomor berapa. Tapi saya ingat kalau Fujiko F. Fuji menggambarkan latarnya dengan apik, seperti bukit-bukit batugamping di permukaan.

    Tentang peradaban prasejarah ini, waktu arus informasi sudah mengalir lancar, saya baru sadar kalau ternyata narasi prasejarah di buku-buku pelajaran sekolah dulu terlalu fokus pada Pulau Jawa, Bung. Kita jadi lebih familiar dengan Trinil dan Sangiran ketimbang Leang-leang ini, atau batu-batu megalitik di Lembah Bada, atau Gua Tewet di Kalimantan. Dan mungkin saja di tempat lain masih ada peninggalan-peninggalan lain yang menunggu untuk diungkap.

    Btw, soal perjalanan Homo sapiens ini, barangkali kita bisa memantau perjalanan Paul Salopek yang jalan kaki dari satu titik di Ethiopia sampai ke Tierra del Fuego untuk mencari tahu soal perjalanan manusia dari tempat asal ke wilayah-wilayah bermukim mereka sekarang. Sekarang dia masih di Myanmar sepertinya, Bung. Baru saja nerabas bukit dari Bangladesh.

    1. wah sepertinya saya ketinggalan seri doraemon yang itu,, ngga ada di ingatan soalnya..

      sepemikiran bung.. dulu taunya manusia purba itu yaa cuma meganthropus palaeojavanicus sama pithecantropus erectus,, lalu muncul homo sapiens, taunya itu hanya di Jawa.. Ternyata di luar jawa juga banyak spesies manusia purba yg bisa dipelajari, termasuk neanderthal yang paling populer..

      wah nice info bung,, langsung nyari keyword “paul salopek” di google,, temanya salah satu favorit saya nih, tentang jejak migrasi hominin. Sepertinya doi bakal lewatin Indonesia juga ya bung, karena persebarannya ke Indonesia lalu ke Australia, dan menyebar ke kepulauan pasifik juga..

  23. unik. aku sendiri pasti akan bertanya-tanya kehidupan masa lalu sperti apa, batu-batu bisa berdiri tegak dengan bentuk yang unik dan berbeda-beda seperti ini, batuan yang disungai juga unik
    luar biasa

  24. Sebagai orang yang suka ama sejarah, kayaknya tempat ini harus kukunjungi suatu saat nanti, agar bisa melihat secara langsung jejak-jejak yang ditinggalkan pada masa prasejarah.

  25. Teman saya yang seorang arkeolog dulu pernah bilang, “Banyak yang bisa diceritakan dari sebuah batu lho, Tin.” katanya pas kami dulu di Pagar Alam ngelihat ada bongkahan batu besar si tengah-tengah sawah. Heran sih, sama takjub juga hahaha.

    Mungkin ya kayak batu-batu di leang-leang ini yang kelihatannya abstrak saja gitu ditaruh sembarangan, ternyata ada maknanya. Bentuknya pun ada maksudnya kenapa dipotong kayak gitu. Dunia penuh misteri.

    Btw itu tempatnya emang adem banget yaa. Sawahnya pun lagi gondrong-gondrongnya. Bulan apa ini Mas?

    Mas, oot nih, kamu untuk fitur ‘Baca Juga’ di post ini, pakai widget atau manual input? Kalau widget, pakenya yg apa kah Mas?

  26. foto-fotonya bagus banget. Nggak seperti bayanganku, ternyata tempat peinnggalan ini rapi dan ditata sedemikian rupa sehingga berbentuk taman yang nyaman. Sayang banget ya, nggak bisa masuk ke dalam gua untuk lihat lukisan manusia jaman dulu. Mungkin ini dilakukan untuk menjaga lukisan itu sendiri ya.

Leave a Reply