Merasakan Atmosfer Ranah Minang Tempo Dulu di Kawasan Saribu Rumah Gadang

Atap-atap gonjong rumah gadang terlihat berjejer dari atas surau menara, surau tua yang tetap gagah berdiri, tak lekang oleh waktu. Perbukitan yang hijau juga cantik menjadi background pemandangan kawasan ini. Bila mau, para penari siap untuk menyambut para tamu dengan tari-tarian khas Solok Selatan. Tak hanya mata yang dimanjakan oleh suasana tradisional dengan ratusan rumah gadang di sini. Namun, lidah pun tak luput dari rasa nikmat masakan minang dan kudapan khas Solok Selatan. Tak lupa, sensasi menginap di dalam rumah gadang pun akan melengkapi momen-momen langka ini, dan mungkin hanya dapat dinikmati di sini, Kawasan Saribu Rumah Gadang atau Kawasan Seribu Rumah Gadang (SRG), Solok Selatan.

seribu rumah gadang
kawasan saribu rumah gadang

Perjalanan menuju Kawasan SRG

Dedet memelankan kendaraan saat suara adzan memanggil setiap lelaki muslim Jumat siang itu.. Tak jauh dari tugu penyambut kedatangan memasuki Solok Selatan, kami berhenti di sebuah masjid dekat pasar. Tak terasa sudah 4 jam perjalanan kami lalui lalui dari Kota Padang.

Selepas sholat Jumat, kami menuju rumah makan sungai kalu yang berada tepat di seberang masjid.. Rumah makan yang menyajikan masakan khas minang ini musti dicoba kalau kalian pergi ke Solok Selatan. Menu baluik lado hijau (belut sambal hijau) yang merupakan salah satu masakan minang favorit saya akhirnya mengisi perut yang mulai mengosong ini.

Sampai di Muara Labuh, kami segera menuju ke Kawasan Saribu Rumah Gadang. Kawasan yang berkali-kali saya lewatin saat tugas ke Solok Selatan namun baru di kesempatan kali ini saya bisa berkenalan dengan tempat ini. Di kawasan seribu rumah gadang ini juga kami, blogger palanta, akan menginap sebelum menjelajah Solok Selatan keesokan harinya.

Merasakan menjadi orang minang di Kawasan Seribu Rumah Gadang

Kawasan Saribu Rumah Gadang merupakan salah satu andalan wisata Solok Selatan yang kaya akan keunikan budaya masyarakat Minangkabau. Walau tidak semuanya, namun sebagian besar rumah di sini adalah rumah gadang. Terdapat sekitar 130 rumah gadang yang juga ditinggali oleh penghuninya, dan 10 diantaranya sudah ditetapkan sebagai homestay untuk para tamu.

rumah gadang
Sensasi menginap di rumah gadang

Kami berkunjung ke Kawasan Saribu Rumah Gadang tak hanya untuk sekedar melihat-lihat kawasan tradisional yang dipenuhi rumah beratapkan gonjong ini. Lebih dari itu, kami beruntung diberi kesempatan untuk menginap di salah satu rumah gadang. Rumah yang kami tempati adalah homestay no. 002 kepunyaan Uni Iin. Wah, gimana rasanya yaa??

pangek pisang
Pangek Pisang, makanan khas Solok Selatan

Memasuki rumah  Uni Iin, terdapat ruangan yang cukup luas. Sisi sebelah kanan diisi dengan kursi-kursi dan lemari kayu. Sisi sebelah kiri merupakan ruangan lapang. Di bagian belakang, terdapat 3 kamar tidur. Sedangkan dapur dan kamar mandi terletak di belakang rumah utama. Lalu di manakah kami tidur? Bukan di kamar-kamarnya, melainkan tidur bersama di ruangan yang lapang tersebut, yang telah dilengkapi dengan kasur untuk 8 orang.

Pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, kami langsung disambut dengan sajian khas Solok Selatan yang menggugah selera. Sebuah kudapan bernama Pangek Pisang, yang disajikan bersama dengan ketan hitam. Rasanya??? Enaaak,, selain buat cemilan sore, bisa juga untuk makanan pembuka maupun penutup makan besar…

Selepas menikmati sajian pangek pisang, kami berkeliling melihat-lihat Kawasan Saribu Rumah Gadang. Suasana di Kawasan Seribu Rumah Gadang benar-benar minang banget, karena mayoritas rumah di sini adalah rumah gadang lengkap dengan rangkiangnya. Rangkiang adalah bangunan di depan rumah gadang yang berfungsi untuk menyimpan padi hasil panen.

Rumah gadang gajah maram
Rumah gadang gajah maram

Dari sekian banyak rumah gadang yang kami jumpai saat itu, ada 1 yang paling terkenal dan selalu jadi tempat berfoto siapapun yang berkunjung kemari, yakni rumah gadang gajah maram. Rumah ini cukup megah dibanding rumah gadang lain di Kawasan Seribu Rumah Gadang. Selain itu, rumah ini pernah muncul beberapa kali di layar kaca, dan yang paling terkenal adalah karena pernah menjadi setting film Di Bawah Lindungan Kabah.

saribu rumah gadang
suasana tempo dulu di kawasan SRG

Sambil melihat-lihat rumah gadang lainnya, kami bertolak menuju Surau Menara yang juga berada di Kawasan Saribu Rumah Gadang. Surau ini dibangun pada tahun 1900. Surau ini banyak menggunakan material kayu. Di tengah-tengah bangunannya terdapat menara. Jaman dahulu, menara ini digunakan untuk melakukan panggilan adzan atau menginformasikan hal-hal penting kepada masyarakat sekitar. Untuk mencapai puncaknya, tersedia tangga dari kayu yang dilapisi triplek. View dari puncak menara ini sangat memukau, terlihat kumpulan gonjong yang mengelilingi kawasan ini, dengan latar belakang perbukitan yang hijau oleh pepohonan.

surau menara seribu rumah gadang
surau menara

Jam makan malam tiba, kami disuguhi Makan Bajamba dengan masakan minang. Makan bajamba adalah sebuah prosesi makan bersama dalam adat minangkabau. Sayang, waktu itu tak lengkap karena tak ada sahut-sahutan pantun seperti yang pernah saya tonton saat lomba makan bajamba di kantor.

makan bajamba di seribu rumah gadang
Makan bajamba.. Photo by: Dedet (?)

Makan Gadang

Badan dijalari oleh hawa dingin pagi itu. Saya terbangun dan melihat Ubay sedang menyiapkan kameranya. “Yuk hunting sunrise bang”, ucapnya.. Saya mencoba bangkit dan melangkah keluar rumah.. Brrrr ternyata di luar lebih dingin. “Wah enggak deh Bay, dingin banget :D”, sambil kembali ke kasur, lalu menutup badan dengan selimut.

Cahaya sinar matahari perlahan masuk melalui jendela-jendela yang terbuka, hari semakin terasa hangat. Pagi itu, kami dihidangkan lontong gulai yang disajikan bersama dengan bakwan dan ditutup dengan pisang sebagai pencuci mulut. Selepas mandi dan sarapan, kami memulai petualangan menjelajah keindahan Solok Selatan.

Malam kembali menyambut saat kami pulang menuju rumah gadang. Makan malam kali ini, kami dihidangkan Makan Gadang yang disajikan di atas daun pisang yang besar, tentu dengan sajian masakan minang (masakan padang kalau menurut orang luar minangkabau mah :V ). “Yang tersaji di depan kita harus dihabiskan lho”, celetuk Titi.. Saya langsung pesimis melihat porsi yang tersaji di depan mata. Ini mah kalau buat saya sendiri aja setara dengan 3x makan biasanya.. Padahal saya udah mengambil posisi pojok yang porsinya tidak sebanyak yang di tengah.. “Ayo jatah masing-masing sebanyak 2 jengkal”, entah siapa yang nyeletuk..

makan gadang di seribu rumah gadang
Makan Gadang. Photo by: (?)

Sedikit demi sedikit makanan berpindah dari atas daun pisang ke dalam perut kami masing-masing.. Saya menyerah, begitu pun Ubay yang duduk di sebelah saya.. Di sebelah kiri Ubay, Nanda dan Dedet kompak bekerjasama menghabiskan apa yang tersaji di depan mereka,, dan luar biasanya mereka mampu menghabiskan porsi makan sebanyak itu. Emen dan Titi sedang berusaha menghabiskan sisa-sisa makanan yang menjadi “kewajibannya”. Dan yang luar biasa adalah Rozi yang berjuang sendiri melawan makanan porsi jumbo. Badan boleh kurus, tapi urusan menghabiskan makanan, Rozi jagonya..

Nasi dan lauk pauk masih banyak tersisa. Kami menantikan bala bantuan Uda Nofrins dan Bang Firza. Setelah ditunggu-tunggu, mereka pun datang. Eeeh tapi tiba-tiba Uni Iin kembali menuangkan nasi di depan saya dan Ubay.. Huwaaaaaa… #KibarBenderaPutih

Malam itu, kami pun tertidur kembali. Terlelap dengan nyenyak di bawah gonjong. Di dalam rumah tradisional suku minangkabau yang saat kecil dulu hanya bisa saya lihat lewat gambar, rumah gadang.

seribu rumah gadang
family trip blogger sumbar ke solok selatan

Suasana Kawasan SRG di Pagi Hari

Pagi kedua, Ubay kembali mengajak berburu sunrise. Namun kembali raga ini terasa tak sanggup berjuang melawan hawa dingin di luar rumah. Ketika dingin perlahan mulai menghilang, saya pun mulai beranjak dan melawan sisa-sisa dingin yang masih tersisa. Bersama Ubay dan Emen, kami bertiga berjalan-jalan melihat suasana pagi di Kawasan Seribu Rumah Gadang ini. Sang mentari mulai terbangun, mengubah gelap menjadi terang, mengubah dingin menjadi hangat. Pagi di kawasan saribu rumah gadang terasa syahdu.

seribu rumah gadang
Indahnya gonjong dalam siluet pagi

Tidur di rumah adat minang, makan kudapan minang, makan bajamba dan makan gadang dengan masakan minang, dan berada di suasana kawasan tradisional minangkabau. Menjadikan setiap pengunjung yang datang ke Kawasan Saribu Rumah Gadang seolah melakukan perjalanan melintasi waktu, merasakan atmosfer ranah minang tempo dulu.

#AyoKeSolsel #PesonaSolsel
————————
FYI:

  • Untuk booking homestay, hubungi 0823-8232-6674 (Elsa) dan 0813-7451-4030 (Feri).
  • Tarif menginap Rp250.000/malam/orang, termasuk sarapan serta makan malam.
  • Kawasan Saribu Rumah Gadang berada di Kota Muara Labuh.
  • Perjalanan dari Kota Padang ke Muara Labuh sekitar 4 jam perjalanan, atau 1 jam lebih cepat sebelum sampai ibukota Solsel di Padang Aro.
  • Dari arah Padang, lokasi kawasan ini berada di sebelah kanan, tepat di pinggir jalan.
  • Terdapat plang ukuran besar bertuliskan “Kawasan Seribu Rumah Gadang”.
  • Terdapat 10 rumah gadang yang dijadikan sebagai homestay untuk wisatawan.
  • Untuk menu sarapan dan makan malam, kalian bisa request menunya sehari sebelumnya.
  • Muara Labuh terasa panas di siang hari, dan berangsur-angsur dingin saat dinihari.. Namun, berada di dalam rumah gadang saat siang tak sepanas di luar ruangan. Begitupun saat menjelang pagi, terasa tak sedingin di luar.

Tips:
Bawa handuk dan alat mandi sendiri karena di homestay tempat kita menginap tidak disediakan.

Fasilitas sekitar lokasi:
Karena lokasinya berada di tengah kota, mudah untuk mencari berbagai perlengkapan sehari-hari.

P.S.
Saat kecil, hanya dalam gambar saya melihat rumah-rumah tradisional dari berbagai penjuru Indonesia. Beranjak dewasa, saya berkesempatan melihat secara langsung beberapa rumah tradisional dari beberapa daerah. Namun, pengalaman bermalam di rumah tradisional baru kali ini saya rasakan. Di sini, di dalam rumah tradisional minangkabau, di Kawasan Saribu Rumah Gadang, Solok Selatan.

Baca juga cerita perjalanan lainnya di Solok Selatan:

—————————

Berkunjung 2017

Traveler Paruh Waktu

Travel Blogger Indonesia.

Related Posts

17 Responses
  1. Penikmat Nafas

    Jadi pengen awak kesitu… lahir dan besar di bukittinggi tapi sumbar tau nya cuman Padang, Bukittinggi, Tanah Datar, Payakumbuh, Agam…

    padahal Sumatera Barat masih luas banget..

    Btw, salam kenal uda, singgahlah ka rumah wak : penikmatnafas.com

Leave a Reply