Museum Balla Lompoa: Mengenal Kerajaan Gowa-Tallo dan Sultan Hasanuddin

Sebuah kerajaan bernama Gowa-Tallo berkuasa di sebagian wilayah nusantara. Kekuasannya cukup luas, mencakup Pulau Sulawesi, sebagian Kalimantan, Nusa Tenggara, dan perairan Maluku. Tentu saja itu adalah sejarah. Sekarang, Kerajaan Gowa-Tallo telah bergabung dengan NKRI. Tapi, ada satu tempat untuk mencari tahu seperti apa rupanya Kerajaan Gowa Tallo zaman dulu kala. Tempat berisi sejarah itu adalah Museum Balla Lompoa..

Lelah sekali, perjalanan yang seharusnya 4 jam menjadi sekitar 6 jam. Memang sih sebagian karena sengaja berhenti, seperti saat memandang kincir angin raksasa dan makan coto kuda di Jeneponto. Tapi, sumber letih terbesar karena 2 kali drama ban motor bocor. Fiuuuh..

Baca juga: Kincir Angin Raksasa dan 2 Hal Unik Lainnya di Jeneponto

Makassar tinggal selangkah lagi. Saya kembali berhenti, kali ini di Kabupaten Gowa, 2 kali. Pertama di sebuah showroom motor bekas. Saya menawarkan untuk tukar tambah motor -sejujurnya saya sudah cukup lelah dengan motor ini ahaha- tapi ditolak karena plat nomornya beda provinsi wkwk.. Kedua, saya berhenti di Museum Balla Lompoa.

museum balla lompoa gowa

Usai memarkirkan motor, saya berjalan dengan daypack menuju museum. Backpack segede gaban saya tinggalkan di dek motor. Cukup riskan sebetulnya, hanya saja saya malas menggendong tas yang berat, semoga saja aman.

Putaran roda berganti langkah kaki. Tak jauh, hanya beberapa puluh meter dari parkiran. Saya pun tiba di depan pintu masuk museum.

Museum Balla Lompoa dan Kerajaan Gowa-Tallo

Sebuah bangunan bergaya rumah adat suku Makassar berdiri di pelataran ubin. Rumah adat ini adalah Museum Balla Lompoa yang berisi tentang informasi Kesultanan Gowa dan Kerajaan Tallo yang akhirnya bergabung menjadi Kerajaan Gowa-Tallo. Balla Lompoa sendiri artinya adalah rumah besar atau istana raja Gowa-Tallo.

museum balla lompoa

Arsitektur Museum Balla Lompoa adalah rumah panggung dengan tengkorak kerbau di puncak atap bagian depannya. Sebagian besar material pembentuk Museum Balla Lompoa adalah material kayu. Di depan museum, sepasang pohon lontar berdiri berhadapan, seolah menjadi hulubalang penjaga pintu kerajaan. Di sebelah museum terdapat bangunan panggung kayu lainnya yang lebih besar. Entah bangunan apa, saya tak memasukinya.

Saya menaiki satu persatu anak tangga menuju pintu utama rumah besar ini. Saya melenggang masuk seiring dengan 2 orang manusia yang keluar dari rumah ini. Tiba di dalam museum, sepi sekali, hanya saya seorang.

Di ruangan paling depan, terdapat foto-foto dari berbagai bangunan peninggalan kerajaan Gowa-Tallo. Ada foto makam raja, masjid, dan bahkan benteng. Salah satu benteng tersebut adalah benteng somba opu yang saya menjadi saksi bisu peperangan Gowa-Tallo melawan VOC.

Saya memasuki ruangan berikutnya. Di ruangan ini banyak terdapat informasi mengenai Kerajaan Gowa-Tallo. Terdapat silsilah raja, wilayah kekuasaan kerajaan Gowa-Tallo, berbagai benda / artefak peninggalan kerajaan, baju adat, dan juga foto-foto dari raja-raja Gowa-Tallo, termasuk foto Si Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin.

Pada masa kejayaannya, Kerajaan Gowa-Tallo merupakan sebuah kerajaan besar. Hal ini terlihat dari luasnya wilayah yang menjadi kekuasaannya. Seluruh Sulawesi berada di genggamannya, begitu juga perairan Nusa Tenggara. Sebagian perairan maluku di laut seram juga tunduk kepada raja Gowa-Tallo, kecuali di laut Halmahera di mana di sana terdapat Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Selain itu, Kalimantan bagian timur sampai ke Sabah juga berada di genggamannya.

peta kekuasaan kerajaan gowa-tallo

Saya hanya sampai ruangan ini. Di ruangan sebelah, banyak benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan. Hanya saja, kondisi yang sangat sunyi meruntuhkan keberanian saya. Entah kenapa, di tempat-tempat seperti museum, saya selalu berpikiran negatif kalau di tempat seperti ini banyak penunggunya, hiiii..

Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur

Terdapat raja Gowa-Tallo yang mendapat exposure lebih banyak daripada raja-raja lainnya. Raja itu adalah Sultan Hasanuddin, yang juga dikenal dengan sebutan Ayam Jantan dari Timur.

Sultan Hasanuddin sangat familiar dengan kita. Sejak kita kecil, namanya sudah sering kita dengar di pelajaran sejarah. Namanya juga diabadikan menjadi nama bandara dan universitas di Makassar, yaitu Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin dan Universitas Hasanuddin. Belum lagi untuk nama-nama jalan di seantero nusantara.

sultan hasanuddin di balla lompoa

Di Museum Balla Lompoa, Sultan Hasanuddin juga mendapat exposure lebih. Raja Gowa yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional ini paling banyak disorot dibandingkan dengan raja-raja sebelum dan sesudahnya. Peristiwa terhebat yang dialami Sultan Hasanuddin yang menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional adalah peperangan melawan VOC dan pasukan Arung Palakka.

Video perjalanan ke Museum Balla Lompoa bisa dilihat di sini

Perang antara Kerajaan Gowa melawan VOC dan pasukan Arung Palakka tercatat sebagai salah satu peperangan terbesar kerajaan nusantara melawan VOC khususnya di tanah Sulawesi. Peperangan ini cukup pelik, melibatkan 3 tokoh sejarah besar yaitu Sultan Hasanuddin, Cornelis Janszoon Speelman dan Arung Palakka. Latar belakang peperangan ini sangat pelik dan masing-masing pihak memiliki sudut pandang sendiri. Pada akhirnya, Kerajaan Gowa-Tallo berhasil ditaklukan di Benteng Somba Opu dan Sultan Hasanuddin turun tahta.

Beberapa anggota berseragam TNI tiba saat saya keluar museum. Rupanya, terdapat 2 orang dokter TNI dari Jakarta yang sedang ada kegiatan di Gowa. Usai kegiatan, mereka berkunjung ke Museum Balla Lompoa. 2 orang dokter itu memakai baju adat Gowa-Tallo yang bisa disewa di Museum Balla Lompoa ini.

balla lompoa

Kini giliran mereka melihat sejarah Kerajaan Gowa-Tallo di Museum Balla Lompoa. Sedangkan saya? Melanjutkan perjalanan ke Kota Makassar, tinggal selangkah lagi!!

 

***

Traveler Paruh Waktu

Travel Blogger Indonesia.

Related Posts

27 Responses
  1. Wah, kelihatannya makin keren aja Museumnya Mas? Dulu pernah ke sana tapi kondisinya belum sebagus ini. Sayang, saya tidak mencatatnya, dan tidak begitu konsen, mengingat kegiatan PPMI yang begitu padat. Semoga suatu saat bisa ke situ lagi.
    Salam…

  2. Toss. samak!!! saya pun sering bergidik kalo masuk Museum. apalagi dateng ke museum sendirian hahahahha… soale saya emang penakut orangnya hahahha meski gak pernah kapok buat datengin museum kalo lagi diluar kota atau ke sebuah negara. Karena dari museum bisa belajar sejarah dan banyak hikmah dari kisah kisah yang dahulu terjadi. Noted nih nanti aku juga bakal main ke Museum Balla Lompoa ini kalo ke SuLseL. Thanks share story mas. salam kenal.

  3. Tukar tambah motor? Mas Bara beli motor untuk keliling Sulawesi? Wow hahaha takjub saya 😀 by the way, saat lihat peta penyebaran area yang dikuasai kerajaan Gowa-Tallo ternyata besar juga ya mas. Hampir setengahnya Indonesia 😀

    Saya dulu waktu pelajaran sekolah juga ingat pernah dengar nama kerajaan Gowa-Tallo, tapi nggak ingat bagaimana ceritanya (ketauan deh tukang tidur) hihihi ~ however saya tau Sultan Hasanuddin, karena namanya sering disebut di buku sejarah dan ujian sekolah :)) dari cerita ini saya justru jadi belajar lagi alasan kenapa Sultan Hasanuddin diangkat sebagai pahlawan nasional. Ternyata karena beliau perang melawan VOC dan pasukan Arung Palakka (ini pasukan apa mas? Semacam bajak laut kah?) *Serius bertanya, daripada sesat di jalan* hehehe.

    Eniho, ditunggu lanjutan ceritanya mas! 😉

    1. iyaa,, beli motor bekas di Kendari terus dijual di Manado ahaha..

      Sultan Hasanuddin tu salah satu nama pahlawan yang terngiang sedari kecil di pikiran saya, jadi saya cukup excited ketika mendatangi tempat2 yg erat dengan sejarah Sultan Hasanuddin 😀 ..

      Udah terjawab kan siapa Arung Palakka di postingan setelah ini? hihi..

  4. Soal Arung Palakka dan VOC ini saya baru tahu pas ke main ke Sulawesi Selatan, Bung. Ada teman yang cerita soal tokoh ini. Terus ada satu nama lagi yang muncul: Karaeng Galessong. Cuma, ya, sampai sekarang belum sempat menggali-gali lagi soal kedua tokoh itu. 😀

    Hahaha… Akhirnya diapain itu motor, Bung? Dibawa pulang kah? Kalau iya, sabar banget dirimu, Bung. 😀 Tapi susah juga sih jualan motor plat nomer luar, apalagi kalau nggak bawa BPKB. 😀

    1. Kalau Karaeng Galessong belum cari2 info juga sih.. Tapi seru sih mencari tahu sejarah2 baik di level domestik maupun mancanegara, kalau saya terutama di zaman kerajaan sampai prasejarah 😀 ..

      BPKB bawa kok bung, itu motor soalnya beli di Kendari terus dijual di Manado.. Kalau bawa motor dari rumah lebih ribet lagi haha..

  5. Dari depan, bangunan museum tampak unik dan keren. Suka aja lihat rumah-rumah adat gini. Tapi kalau jadi museum ya seperti itulah, beberapa kali ke museum kondisi kurang menarik. Aduh kalau dibilang sunyi, aku kok mikirnya angker gitu…haha

  6. Nama kerajaan Gowa-Tallo sudah saya dengar dari jaman masih SD. Itu ada di buku sejarah kan ya? Tapi sejujurnya saya nggak pernah benar-benar mencari tahu sejarahnya seperti apa. Ternyata wilayah kekuasaannya besar juga ya.

  7. Gowa-Tallo, pelajaran IPS 🙂 sekarang ini gowa yg lagi disorot malah soal covid ya Bar …. eh …

    aku punya cita2 bisa jalan2 ke seluruh museum di indonesia, baik museum negeri, swasta atau punya lembaga pendidikan…

  8. masuk ke museum yang menginformasikan soal history jaman dulu kayak gini suka aku, jadi tau cerita dan foto foto kuno. dan jadi inget pelajaran waktu SD juga.
    masjid 99 kubah ini megah banget, unik juga. waktu ke makasar masih belum ada bangunan ini

Leave a Reply