Pulau Pamutusan, Pulau Unik Secantik Gadis Minang yang Menawan Hati

Deru mesin kapal berhenti seraya seorang pemuda mematikannya, berganti kayuhan, merapat menuju dermaga kayu. Di depan mata tampak pulau yang sangat unik, mungkin terunik yang pernah saya kunjungi. Dibilang pulau, memang pulau, dibilang bukan pulau juga memang bukan pulau. Unik, cantik, dua kata yang pas untuk menggambarkannya. Unik, karena sebenarnya pulau kecil ini masih bagian dari pulau Sumatera. Namun saat pasang, ujungnya akan terbelah oleh air sehingga nampak seperti pulau kecil tersendiri. Itulah kenapa dinamakan Pulau Pamutusan. Cantik, karena pulau ini dikelilingi air laut dengan gradasi warna yang menyejukkan mata, dengan hiasan butir-butir pasir putih yang halus, dan semakin sempurna dengan keberadaan bukit kecil di tengahnya. Cantik sekali, secantik gadis-gadis minangkabau.

Pulau Pamutusan
Pulau Pamutusan

Yepp,, i miss beach..

Rindu akan pantai kembali menyeruak, baru 3 minggu padahal setelah perkenalan saya dengan pulau-pulau kecil di Sumatera Barat. Saya dan Ayu kemasi barang-barang dan kembali datang ke kawasan bahari di batas Kota Padang dan Pesisir Selatan ini. Kali ini khusus untuk mengunjungi pulau pamutusan yang sempat menjadi rencana awal destinasi pada kunjungan pertama, yang akhirnya gagal karena suatu hal.

pulau pamutusan
Pulau Pagang di seberang lautan

Pulau Pamutusan ini berlokasi tepat di depan Pulau Pagang. Jauh dari “peradaban”. Dari pulau ini, terlihat jelas Pulau Pagang yang tak kalah cantik.

Seperti kedatangan pertama, kali ini pun kami memilih Sei Pisang daripada Bungus sebagai titik menyeberang. Alasannya simple, karena disini tarif kapalnya lebih merakyat dan feel backpacker nya lebih dapet, aiih backpackeeeer coy.. Namun kali ini kami kemari bukan dengan si Esfi (Satria FUFI), melainkan bareng hatchback tangguh si Boggil (Hyundai Getz). Kami putuskan pake si Boggil karena saat pertama kali kesini, ternyata ada Yaris yang sanggup melewatinya. Ah kalau Yaris bisa, si Boggil pasti bisa juga melewati jalan buruk ini 😀 ..

pulau pamutusan
Pantai Pulau Pamutusan

View yang disuguhkan di sepanjang perjalanan dari Kota Padang ke Bungus sangat indah. Di sebelah kiri bukit, di sebelah kanan laut. Perjalanan naik turun menyusuri bukit, berkelok-kelok, pemandangan pertemuan antara bukit dan laut juga terlihat cantik di kejauhan, Teluk Bayur yang terkenal itu menjadi titik pertemuan keduanya. Tapi di sini kita harus ekstra hati-hati juga dengan medan jalanan. Lobang jalan yang menganga sudah semakin berserakan di mana-mana, longsor yang menghantam dari sisi bukit juga sewaktu-waktu bisa terjadi, apalagi saat musim penghujan.

Melewati daerah Bungus, mulai banyak terlihat berbagai operator wisata perjalanan ke pulau di kiri kanan jalan. Perjalanan kami lanjutkan sampai dengan plang PLN di sebelah kanan setelah jembatan kecil. Hanya 7 km untuk sampai ke Sei Pisang, tapi waktu tempuh bisa 1 jam karena kondisi jalanan. Medan yang rusak parah, naik turun dan bertepikan jurang membutuhkan keekstrahati-hatian kita.

Bernegosiasi

Sesampainya di Sungai Pisang (atau Sei Pisang), kami segera mendatangi rumah bapak pemilik kapal yang dulu mengantarkan kami ke Pasumpahan dll. Walaupun dulu sempat kecewa, tapi kami berniat untuk menggunakan jasanya sekali lagi. Tapi alangkah kaget saya ketika harga yang ditawarkan ternyata lebih mahal dibandingkan saat kami datang pertama kali. Padahal waktu itu 3 pulau yang kami datangi, sedangkan kali ini cuma 1 saja. Kok bisa sih?

Nggak puas dengan tarif yang ditawarkan, kami mencoba peruntungan ke pemilik kapal lainnya. Di tempat lain, kami dapatkan harga 350k, lebih murah 50k dari tawaran pemilik kapal sebelumnya. Ini pun sebenernya saya rasa masih kemahalan kalau dibandingkan dengan perjalanan pertama kami. Karena dengan tarif yang sama, jumlah pulau yang dikunjungi 3 banding 1. Alasannya karena wisatawan sedang sepi, jadi untuk menutup biaya operasional kapal, tarif membumbung tinggi. Tapi ada keuntungan lain dari penyedia jasa kapal yang ini, saya dan Ayu dipinjami 2 set alat snorkeling beserta pelampung.

Sebenernya kalau ikut Open Trip, jatohnya bakal lebih murah. Contohnya untuk ke Pagang atau Pamutusan saja per orang sekitar 70-80 ribu.

Baca juga cerita perjalanan seru lainnya ke pulau-pulau cantik di Padang :

Pulau Pasumpahan
Suwarnadwipa
Pulau Pagang

Sebelum bertolak menuju Pulau Pamutusan, kami sempatkan makan siang dulu. Ingat bro, di pulau adanya cuma jualan mie.. 😀 ..

Perjalanan dimulai dengan beberapa penumpang lainnya. Memang, sepertinya saat ini lebih sepi dibanding sebelumnya. Sesampainya di Pasumpahan, semua penumpang lain turun, dan kini hanya saya dan Ayu yang lanjut ke Pulau Pamutusan.

SAMPAAAAAI !!!!

Setelah perjalanan selama sekitar 30 menit dan melewati pemandangan pulau dan perbukitan Sumatera, kami sampai di Pulau Pamutusan. Mungkin bukan terindah, tapi ini pulau terunik yang pernah saya singgahi. Namanya mencerminkan keunikan pulau kecil ini. Pulau ini di saat air laut surut akan menyatu dengan pulau Sumatera. Sedangkan saat air pasang maka menjadi satu pulau tersendiri, putus dari Sumatera, itulah kenapa dinamakan Pulau Pamutusan. Saat sedang putus pun, kita masih dapat menyeberang ke pulau Sumatera karena selatnya hanya pasir yang sedikit tertutupi air laut.

pulau pamutusan
pulau pamutusan

Pulau Pamutusan ini hanya memiliki sedikit pantai. Pasir putihnya lembut. Sedangkan bagian terbesar pulau ini adalah bukit penuh pepohonan yang langsung membentuk tebing ke laut. Medan yang harus dilalui untuk sampai di puncak bukit nggak seekstrim di bukit pulau Pasumpahan.

pulau pamutusan
goa karang kecil di pulau pamutusan

Saat air surut, ada “goa” kecil di sela-sela batu karang yang bisa dimasuki sekedar hanya untuk duduk-duduk atau santai sejenak. Saat air pasang, ruang tersebut terisi air.

Camping di Pulau

Hari sedang terik-teriknya saat kami sampai di Pulau Pamutusan. Kami segera mencari spot buat mendirikan tenda di areal perkemahan yang cuma seiprit, jauh lebih kecil dibandingkan dengan camping area di Pulau Pasumpahan. Pengunjung pun jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Pulau Pasumpahan. Mungkin, pertama karena di sini lebih jauh dari peradaban, kedua karena tarifnya lebih mahal, dan terakhir di sini enggak ada wahana air seperti banana boat dan lain sebagainya. Pulau Pamutusan lebih cocok buat para pecinta alam sejati khususnya pantai/pulau. Pulau Pasumpahan asik buat seru-seruan dan buat mereka yang bawa anak-anak kecil.

pulau pamutusan
sarang harimau :V

Bila ingin menginap tapi enggan memakai tenda, di Pulau Pamutusan juga terdapat beberapa kamar yang disewakan. Ada juga kamar unik yang dibangun di atas pohon.. Udah pulaunya unik, penginapannya juga unik 😀 .. Tapi maaf dulu nggak sempat tanya-tanya tarif per malamnya..

pulau pamutusan
rumah pohon pulau pamutusan

Kalau ingin diramal, tinggal datang ke satu kios dekat penginapan yang menyediakan jasa ramal pake tarot.. Haha,, beach life yang seru banget di sini..

Mendaki Dulu Kita

Hal pertama yang kami lakukan setelah mendirikan tenda adalah mendaki bukit pulau pamutusan. Medannya nggak terlalu terjal, mudah didaki, beda dengan bukit pulau Pasumpahan yang membutuhkan effort yang lumayan buat mencapai puncaknya yang memang lebih tinggi. Sepanjang perjalanan, banyak dijumpai monyet-monyet yang bergelantungan kesana kemari di hutan kecil di bukit pulau ini. View dari atas bukit terlihat amazing!! Tampak pulau Pamutusan seperti ekor dari pulau Sumatera, tipis dan memanjang.

pamutusan island
view dari puncak bukit pamutusan, terlihat pulau pamutusan yang memanjang

Santai Kaya di Pantai

Selepas berjalan-jalan menikmati pemandangan, saya ikatkan hammock diantara 2 pohon kelapa dan bergelayutan manja sembari menunggu matahari pulang. Sebenernya di pulau ini juga udah disediakan hammock, tapi bikin sakit badan soalnya hammocknya yang dari tali temali 😀 ..

pamutusan island
selow kaya di pulau. eh, emang di pulau

Matahari telah kembali ke peraduannya, bertepatan dengan bunyi keroncongan dari dalam perut. Pilihan satu-satunya di pulau pamutusan hanya mie goreng. Namun terasa nikmat di saat serba terbatas seperti ini. Selepas makan, saya dan Ayu menuju pondok di pinggir pantai menikmati suasana malam yang syahdu. Di pondok ini disediakan pula colokan listrik untuk kita-kita, generasi yang tak bisa lepas dari gadget. Listrik dialirkan dari genset yang hanya akan menyala di jam-jam tertentu, biasanya selepas maghrib sampai larut malam. Hal seperti ini seperti oase di padang pasir nan tandus buat generasi gadget 😀 ..

Di tenda sebelah ujung, para pemuda usia kuliah sedang asyik bernyanyi diiringi petikan gitar. Ah, sejujurnya saya iri. Saat seusia mereka, saya terlalu introvert sehingga melewatkan banyak kesempatan untuk seru-seruan bareng temen-temen. Saat ada ajakan teman-teman buat main ke kepulauan seribu, selalu saya tolak. Ah elu bro, masa muda lo isinya internetan mulu di kamar, streaming “film” :V..

Salah seorang diantara mereka datang ke pondok untuk mengisi kembali baterai handphonenya yang mulai sekarat. Membuka percakapan, doi menawarkan makanan yang sedang disantapnya. “saya dan temen – temen suka ke pulau bang, kalau saya dan beberapa temen senengnya mancing, yang lainnya paling seru-seruan di pantai aja, nyanyi-nyanyi, snorkeling.” Tak lama, 2 orang temannya yang sedari tadi memancing ikan di dermaga, kembali ke daratan membawa beberapa ikan. Mereka berniat bakar-bakar ikan malam itu juga, menghabiskan malam yang indah bersama teman-teman seperjuangan.

Hari semakin malam sehingga saya harus menyudahi bertukar cerita dengan mahasiswa tersebut dan kembali ke tenda masing-masing. Saat saya udah sayup-sayup memejamkan mata, anak-anak muda itu masih asik dengan nyanyian malamnya, menjadi pengantar tidur, meninabobokan dan mengantar ke alam mimpi. Dengan beralaskan matras, serta berdindingkan dan beratapkan kain tenda, saya pun tertidur pulas malam itu..

WUUUUUUUSSSSSSSSSS

Tersentak kaget, saya dan Ayu terbangun dini hari, angin bertiup dengan sangat kencang seperti ingin menerbangkan segala sesuatu yang dilewatinya. Suasana malam yang sunyi tiba-tiba dihebohkan dengan hembusan angin kencang. Bunyi gemuruh yang dihasilkan semakin kencang. Suasana yang sunyi tiba-tiba berubah mencekam. Kami hanya terdiam, terpaku di dalam tenda sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Syukurlah beberapa saat kemudian angin kembali normal. Fiuuuh.. Saya keluar tenda untuk melihat situasi sekitar, dan ternyata banyak para pengunjung lainnya yang juga terbangun dan memeriksa kondisi di luar.

Situasi mulai aman dan saya kembali masuk ke “Sarang Harimau” lalu berselimut sleeping bag. Oya, tenda dan peralatan lainnya saya sewa dari tempat penyewaan dan jual beli peralatan outdoor bernama Sarang Harimau. Di tenda yang saya sewa, tertulis dengan jelas nama “Sarang Harimau” sehingga bikin orang-orang yang kebetulan lewat dan membacanya cekikikan sambil berceloteh karena ada sarang harimau di pantai :V .. Duh malu-maluin aja wkwk..

Pagi Datang, Saatnya Main Air

Matahari kembali bangun dari tidurnya seraya memisahkan kelopak atas dan bawah mata saya. Saya menggeliat seperti kucing, lalu memulai aktivitas.. Saya awali pagi dengan sarapan roti yang saya bawa dari Padang, lalu bermain air.

pulau pamutusan
Inilah kenapa dinamakan Pamutusan

Pagi itu, Pulau Pamutusan terlihat sedang dalam proses membelah diri dari pulau Sumatera, pasir putih yang menggabungkan keduanya perlahan tertutup oleh air laut yang naik dari kedua sisi. Semakin lama , air semakin naik dan akhirnya bertemu, memisahkan pulau pamutusan.

cantiknya pulau pamutusan
cantiknya pulau pamutusan

Saya dan Ayu menuju dermaga untuk melakukan aktivitas snorkeling, terlihat beberapa anak muda telah nyebur duluan sambil bersenda gurau. Air lautnya sebenarnya cukup jernih, tapi karena saat itu langit agak mendung, jadi keindahannya kurang terlihat. Ikan-ikan di sekitar dermaga nggak terlalu variatif, begitu juga terumbu karangnya. Sesekali terlihat gerombolan ikan kecil berenang bersama. Sedangkan ubur-ubur besar santai berenang sendirian.

pulau pamutusan
pulau pamutusan

Selepas snorkeling, saya segera ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Ada beberapa kamar mandi yang kondisinya cukup memprihatinkan. Airnya lebih keruh daripada di Pasumpahan, namun tidak berbau. Beberapa anjing, besar dan kecil, terlihat sering mondar-mandir di sekitar kamar mandi. Gak usah khawatir, mereka nggak galak kok.

Pulaaang

Matahari semakin naik ketika kapal datang menjemput. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, rasanya gak sia-sia saya datang ke pulau ini.. Dari 4 pulau di Padang yang pernah saya kunjungi (Pasumpahan, Suwarnadwipa, Pagang, dan Pamutusan), pulau Pamutusan ini lah yang menjadi favorit saya.

pantai pulau pamutusan
di seberang itu pulau pagang

Sesampainya di Sungai Pisang, saya sempatkan makan siang dulu sebelum bertolak ke Kota Padang. Di perjalanan pulang, saya dihadapkan kondisi jalan yang becek, longsor dan pohon tumbang di beberapa titik akibat hujan. Jalanan menyeramkan, dengan sangat hati-hati saya jalankan si Boggil. Kondisi terparah adalah pohon-pohon tumbang yang menutupi sebagian jalan dan hanya pas 1 mobil. Akhirnya rintangan dapat diatasi, dan perjalanan pulang dapat dilanjutkan dengan nyaman.

————–

Berkunjung 2016

Traveler Paruh Waktu

Tips perjalanan ke Pulau Pamutusan (dan pulau-pulau lain di sekitarnya)
1. Usahakan rombongan agar biaya lebih murah. Kalau hanya jalan sendiri atau berdua, lebih baik ikut open trip. Untuk pulau terjauh, biasanya hanya 70-80 ribu PP / orang. Tapi kalau open tripnya udah paketan, harganya bisa 250ribu/traveler untuk jelajah 2 pulau dan berbagai fasilitas lainnya.

2. Persiapkan bekal makanan dan minuman sebelum menuju pulau. Di pulau hanya ada jualan mie goreng / pop mie. Saya biasanya beli cemilan, makanan besar, dan Aqua botol besar. Beberapa rombongan malah bawa aqua galon, biar cukup buat rame-rame 😀 ..

3. Bila ingin murah, lewat Sungai Pisang. Tapi lebih jauh dari Padang dan jalanan ekstrim. Ke pulau pun lebih cepat.

4. Bila ingin nyaman, lewat pelabuhan Bungus saja. Tapi perjalanan di kapal menuju pulau lebih lama.

5. Bila ingin murah, bawa aja tenda. Kalau gak punya tenda, di Padang banyak yang sewain.

6. Bila ingin nyaman, ada penginapan di tiap pulau.

pantai pulau pamutusan
di pulau pamutusan, romansa terjadi

Travel Blogger Indonesia.

Related Posts

18 Responses

Leave a Reply