Sampai Jumpa Ranah Minang

The long awaited moment has finally arrived.

5 tahun telah berlalu sejak kedatangan saya di ranah minang. Waktu saya telah habis di sini. Saatnya berkemas dan melanjutkan kehidupan di ujung selatan Sumatera.

Susah untuk menggambarkan apa yang dirasa. Ada rasa bahagia, karena kini jarak saya dengan orang tua dan keluarga menjadi lebih dekat. Namun, tentu juga ada rasa sedih, karena 5 tahun tersebut terisi dengan beragam momen yang terangkum menjadi sebuah cerita indah.

Cerita ini bermula pada Januari 2016. Tugas belajar saya di Jakarta telah usai. Akhir yang menjadi awal episode berikutnya, di mana selanjutnya saya diberi amanah untuk mengawasi keuangan dan pembangunan di Provinsi Sumatera Barat. Berpindah tempat tinggal dari satu provinsi ke provinsi lainnya bukanlah hal baru bagi saya. Sejak awal bekerja, saya sudah tahu konsekuensi yang akan saya hadapi itu.

Februari 2016 saya berangkat ke Padang melalui jalan darat mengendarai mobil. Sumatera yang terkenal “keras” dan belum saya kenali cukup terbayang-bayang di pikiran saya. Saya tak berani melaju setelah surya menghilang di balik horizon. Begal dan bajing loncat yang terkenal seantero Indonesia itu menjadi momok utama. Belum lagi kondisi jalan yang masih belum jelas. Begitulah, selalu ada rasa khawatir berlebihan dalam setiap permulaan.

Padatnya Jawa berganti perpaduan antara pemukiman, beragam kebun tanaman komoditas dan hutan rimba tempat sang raja hutan bernaung. Tol jakarta – merak yang mulus dan ramai berganti dengan jalan bergelombang yang habis digerus truk-truk besar yang tampak membawa muatan melebihi ambang batas. Ban yang pecah di Sungai Lilin memberi sedikit rasa pahit di perjalanan . 4 hari 3 malam akhirnya berhasil dilalui dan saya tiba di ranah minang. Saya merantau ke tanah para perantau.

5 tahun berada di sini membuat saya sedikit paham akan keunikan ranah minang. Minangkabau di mata saya adalah perpaduan antara budaya, alam dan wisatanya, kuliner, kepandaian, dan,, ehemm, kecantikan. Yang terakhir saya sebut, siapa yang meragukan kecantikan uni-uni minang?

Kesakralan adat dan budaya masih dijunjung tinggi di ranah minang. Bangunan atau pernak-pernik khas minang seperti atap bagonjong dengan ujungnya yang lancip mudah sekali ditemukan di setiap sudut wilayahnya. Bendera marawa sebagai bendera kebanggaan kerajaan pagaruyung dengan warna hitam merah kuning berkibar di mana-mana, bersanding dengan sang merah putih. Pacu jawi, pacu itiak, silek, dan makan bajamba adalah sebagian dari beragamnya atraksi budaya minang yang eksistensinya tak lekang oleh waktu.

Yang membuatnya semakin unik, budaya Sumatera Barat tak hanya minang. Di sana ada Mentawai dengan budayanya yang menyatu dengan alam. Ada suku mandailing di batas-batas utara. Ada juga para transmigran di bagian-bagian terluar Sumatera Barat. Juga ada suku tionghoa, india, dan nias yang sebagian besar mendiami kawasan kota tua padang, tempat bermulanya Kota Padang sebelum berkembang seperti sekarang.

Di ibukota provinsi atau kota-kota kecil di provinsi lain, seringkali penggunaan bahasa daerah sudah mulai luntur. Anak-anak mudanya sudah beralih bercakap menggunakan bahasa Indonesia, walaupun logat masih kental kedaerahan. Tapi di tiap sudut ranah minang, baik di desa maupun di kota, bahasa minang masih menjadi bahasa utama yang diucapkan baik oleh para orang tua maupun anak mudanya.

gambar lembah harau
favoritku, kamu dan alam

Sebagai “traveler paruh waktu”, pastinya alam dan tempat wisata adalah hal yang paling saya sukai dari Sumatera Barat. Beragam keunikan dan keindahan dapat dijumpai dengan mudah. Keindahan di pulau-pulau kecil di kawasan bungus dan mandeh, keindahan pantai dan suasana di Mentawai yang seakan membawa saya kembali ke Indonesia Timur, danau-danau yang menawan seperti maninjau, singkarak, dan danau kembar, tebing harau yang gagah dan pemandangan lembah harau dari puncak tebing setelah 2 jam trekking yang melelahkan, keindahan arsitektur masjid raya, istana pagaruyung, dan kawasan saribu rumah gadangnya, kota bukittinggi dengan jam gadang dan nasi kapaunya yang memiliki magnet untuk dikunjungi lagi dan lagi, yang sejuk dengan pemandangan gunung marapi dan singgalang, tentang sekolah beruk si pemetik kelapa ulung, tentang anjing-anjing yang terlatih untuk memberantas hama babi, dan masih banyaaaaak lainnya. Belum lagi kalau bicara wisata sejarahnya, kerajaan pagaruyung, bangunan-bangunan peninggalan masa penjajahan, rumah peninggalan para founding father NKRI yang menegaskan bahwa minangkabau memang gudangnya para cerdik cendekia.

jam gadang bukittinggi
jam gadang bukittinggi

Rasanya tak ada seorang pun di Indonesia yang tak mengenali masakan minang. Rendang, dendeng, sambalado, ayam pop, lotek, sala lauak, talua barendo, teh talua, sate padang adalah sebagian dari kuliner minang yang sudah melanglang buana bukan hanya di Indonesia tapi ke berbagai penjuru dunia. Tapi sejujurnya, saya bukanlah pecinta kuliner minang. Pengecualian untuk AYAM POP dan DENDENG BATOKOKnya yang rasanya duuuuh selalu bikin lapar.

Banyak hal menyenangkan di kantor saya, Perwakilan BPKP Sumatera Barat, baik dalam hal tugas maupun kehidupan sosial di kantor. Jarang sekali ada hal kurang menyenangkan di kantor, namun yang pahit pun kadang bisa menjadi hal menarik untuk dikenang.

Selama 5 tahun saya ditugaskan di bidang favorit saya, bidang yang pekerjaannya sangat bervariasi. Kadang harus duduk manis di depan layar dengan ribuan row di ms excel, kadang harus berjibaku dengan dokumen-dokumen kontrak yang tebal dan dokumen spj yang bertumpuk-tumpuk, kadang harus trekking ke kaki gunung untuk melihat pekerjaan fisik, kadang harus panas-panasan mengukur pekerjaan konstruksi, kadang harus diskusi berjam-berjam, kadang harus keliling mengunjungi masyarakat, dan banyak lagi. Terkadang santai, tak jarang sangat sibuk sampai lembur pun dijabanin, nano-nano.

Rekan senior banyak membimbing dan berbagi pengalaman. Sedangkan dengan teman-teman muda banyak berbagi momen seru. Yang tak kalah asik, kantor memfasilitasi kreativitas anak-anak mudanya dengan beragam alat fotografi dan videografi seperti kamera, lensa, gimbal, action cam, drone, dan lain-lain. Nikmat mana lagi yang saya dustakan?

Saya mempunyai prinsip dimana ketika saya tinggal di suatu wilayah, maka saya juga harus mengenali orang-orang di sana. Saya “keluar” mencari orang-orang yang memiliki kesamaan hobi. Rasanya ada yang kurang kalau lingkup pertemanan saya hanya seputar orang-orang kantor saja.

first kopdar with inago

Beruntung saya dipertemukan dengan orang-orang baik dan hebat di sini. Teman-teman di 2 komunitas mobil yang saya ikuti selalu solid. Memang, masalah brotherhood, member komunitas mobil dan motor adalah yang terbaik. Teman-teman blogger, influencer, pegiat sosial media, fotografer dan semacamnya yang bernaung di industri kreatif juga hadir memberikan warna tersendiri. Berkenalan dengan mereka membuat saya terpicu untuk melahirkan konten-konten kreatif baik dalam bentuk tulisan, foto dan video. Belum lagi teman-teman couchsurfing yang merupakan sahabat bagi para penjelajah dari berbagai belahan dunia.

air terjun kembar solsel
numpang main sama blogger, influencer, dan fotografer sumbar

Sama seperti NTT yang pernah menjadi bagian dari hidup saya, Sumatera Barat pun mempunyai tempat tersendiri di benak. Sampai saat ini, setelah tinggal di berbagai provinsi, dua provinsi itu lah yang paling memberikan kesan mendalam dalam perjalanan hidup saya. Terlebih di Sumatera Barat, saya dan Ayu memperoleh seorang bayi yang lucu dan menggemaskan.

kanaya di danau kembar
Kanaya dan mama..

Hari ini saya telah memulai satu fase kehidupan yang baru di Bandar Lampung. Sembari “memulai kehidupan” dari 0 lagi, saya juga harus bersiap hadirnya rindu akan Sumatera Barat yang terkadang datang tanpa permisi. Tentang rindu akan alam Sumatera Barat yang indah, tentang budayanya yang masih otentik, tentang ayam popnya yang lezat, dan tentunya tentang kalian.

Ingin sekali saya diberi umur panjang dan kesehatan karena saya ingin kembali ke sana untuk menyapa apa yang pernah menjadi bagian dari hidup saya. Untuk itulah, saya ucapkan Sampai Jumpa, bukan Selamat Tinggal.

Sampai Jumpa, Sumatera Barat.

Ingat pepatah minang “bapisah bukan bacarai”. Suatu saat kita pasti berjumpa lagi.

 

***

traveler paruh waktu

Travel Blogger Indonesia. Traveler Paruh Waktu. 100% sundanese. ASN pengagum Ibu Pertiwi, terutama akan keindahan alamnya. Suka bertualang, suka bercerita, suka membuat video.

Related Posts

56 Responses
  1. Mas Bara demi apa baca tulisan ini aku nangis saking kangennya pulang kampung Punya baby dg pandemi bener2 bikin aku ga berani keluar2 apalagi sampe terbang ke Padang. Rekor udah setahun lbh nih ga mudik.
    Atap bagonjong, marawa, makanan, alam, oh how I miss Ranang Minang so much..

    Sukses selalu di tempat kerja baru di Lampung ya Mas Bara. Selamat mengeskplorasi Lampung dan sekitarnya, alam takambang jadi guru..

    1. wah maaf ya uni jadi bikin sedih..

      aku juga gak berani terbang. akhir tahun kemarin mudik ke jawa dari padang aja bela-belain bawa mobil sendiri berhari-hari karena rasanya kalau via udara lbh berpotensi terpapar covid-19. semoga keadaan bisa segera normal dan secepatnya mudik ke ranang minang ya uni. saya pun pasti akan merindukan ranah minang.

      terima kasih doanya uni. tunggu postingan-postingan wisata lampungnya yaaa,, tapi setelah pandemi hihi.

  2. Terus terang saya belum pernah main ke pulau Sumatera, tapi punya banyak temen medsos sih. Dari temen-temen inilah saya bisa sedikit banyak tahu tentang berbagai macam ragam keindahan pulau Sumatera dan ragam budayanya.

    Semoga suatu saat nanti bisa berkunjung kesana.

  3. Aku belum pernah beneran main ke sana. Dulu hanya lewat karena kita pas pindah ke Medan, jalan darat dari Jakarta lintas Sumatra. Diajak sama ipar ke sana karena dia memang orang Minang, belom sempat2 keburu corona…

  4. Kenapa tulisannya mellow sekali :’) aku jadi ingin mewek, Kak
    Terlalu banyak kenangan selama 5 tahun ini, pasti nggak mudah ketika harus berpindah ke tempat lain, tapi semoga Kak Bara tetap semangat menyongsong pengalaman hidup baru di kota yang baru, ya

    Btw, aku penasaran bangettt, apakah rasa makanan Padang asli Padang dengan di Jakarta rasanya sama? Atau lebih enak yang asli di Padang?

    Dan satu lagi, Kanaya lucu bangettt di foto!! Lagi nguap gitu hahahahaha gemesss, pipinya tembem banget salam buat Kanaya ya, Kak

    1. iya nih, beneran gak mudah pindah itu. selain masih terbayang-bayang tempat semula, di tempat baru pun susah karena harus memulai dari 0 lagi, yang paling susah adalah gimana caranya cepet ngeblend sama orang-orang baru di sini.

      masakan minang di tempat aslinya ada citarasa yang berbeda dengan masakan minang di jakarta, setidaknya yg pernah kucobain yaa.. kalau lebih enak mana, aku lupa citarasa yang di jakarta haha.. tapi kalau di Padang, rekomendasiku adalah RM. Lamun Ombak, ayam popnya juara, hihi..

      “makasih tante”, kata Kanaya.

  5. Pengen nangis bacanya mas, beneran.

    Walaupun tinggal disuatu tempat karena urusan pekerjaan, tp 5 thn itu bukan waktu yg sebentar ya mas, apalagi ditempat yang semuanya serba asing buat kita, udah pasti seru banget.

    Selamat menempuh hidup baru bersama keluarga kecil di Bandar Lampung ya mas, semga selalu menyenangkan.

  6. Ada rasa sedih juga bacanya, mas.
    Terlebih rekan kerja oada baik begitu.
    Tapi jadi ingat pepatah ‘dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan’
    (q‒́︿‒̀q)

    Tetwp semangat, maaas …

    Eh, iya by the way fotonya Kanaya ngga bisa terlihat kebuka.

  7. Sungguh luar biasa
    Punya pengalaman yang luas yang nanti bisa jadi bahan cerita untuk keturunan nya
    Kalau Sumatra Barat
    Kemungkinan lebih enak jika dibandingkan dengan Sumatera bagian lain.
    Budaya tak jauh beda dengan Jawa.
    Wah kini di Lampung, lebih asek lagi. Lampung punya masa depan yang cerah.

  8. Saya baca artikel ini sangat senang.
    Aduh saya dulu pengen ke Sumatra tapi belum juga kesampain.
    Khusus ke Lampung, pengen banget. Saudara saya ada yang tinggal disana.
    Soal banking lompaty, serem dan ngeri juga

  9. Sukses untuk penempatan barunya, kang Bara. Makin dekat ke Jakarta nih. Hehe.

    Seru juga ya, bekerja berpindah-pindah tempat. Kalau kantor saya kebetulan tidak ada ‘kanwil’nya, jadi ya bakal di Jakarta saja terus-menerus kalau mau jadi pi en es sampai pensiun. Hehe.

    Ceritanya mirip mas Isna ‘Djangki’ yang baru juga pindah tugas dari Sumatera ke Jawa.
    Sehat-sehat terus, kang!

    1. terima kasih kang, iya nih dekat ke pusat negara sekarang, hehe..

      di satu sisi ada serunya, di sisi lain cukup menyulitkan hidup juga pindah-pindah tempat kerja begini haha.. tapi semoga sih setelah ini ngga dipindah-pindah lagi , di Lampung sampai pensiun πŸ˜€

      kalau mas Isna mah lebih lama lagi dia di Sumatera sampai 10 tahun atau malah belasan kayanya.

    2. saya seperti dibawa kembali bernostalgia waktu ke tanah minang melewati oadang panjang hingga menaiki kota yang sangat indah bukit tinggi beserta jam gadangnya yang ikonik itu…belanja di pasar belakangnya lihat segala macam baju dan tas renda renda khas minang..menyusuri goa jepang dan juga ngarai sianok…ah jadi nostalgia…semoga penempatan barunya menyenangkan :D, salam untuk si dedek bayi lucunya hehe

  10. Ranah Minang emang bikin baper parah, kuliner, wisata, apalagi orang-orangnya yang baik budi bahasanya … Dulu aku selalu bermasalah sm nasi padang karena suka sakit perut dan aneh di lidah, smp akhirnya malah ketagihan. Sekarang saat udah jauh dari ranah Minang masih suka kebayang2 nasi padang … hikz :((

    Selamat dan sukses di bumi Siger ya Bar, ditunggu cerita-cerita dari Lampung ….

    1. wah bung Isna yang tinggal di provinsi tetangga pun ternyata merasakan hal yang sama ya.

      ngomong-ngomong tentang nasi padang, asli sih ini kemarin beberapa hari sebelum pindah pengennya makan nasi padang terus, wkwkwk..

      thanks bung, nanti lampung dijelajahi setelah kita bisa melawan corona, hehe.

      1. Hari-hari terakhir di rantau memang campur aduk rasanya, apalagi kita gak akan pernah siap dengan mutasi … Hanya berdoa semoga mendapat teman-teman dan suasana yang lebih baik di tempat yang baru.. Sekali lagi selamat bertugas di kantor yang baru Bar!

  11. Begitulah perpisahan, rasanya memang menyedihkan, tetapi mau tidak mau harus dilakukan karena ada sesuatu yang lebih indah di depan sana. I wish you good luck! untuk perjalanan hidup mas Bara kedepannya.

    Tapi btw, kenapa pindah mas? apa karena ganti kerjaan, promosi, mutasi atau bagaimana? jadi penasaran,

  12. Selamat memasuki babak baru dalam hidup Mas Bara!
    Seru deh kehidupannya. Terima kasih sudah berbagi, aku jadi tahu serunya pekerjaan Mas Bara yang kadang di depan komputer, kadang di depan tumpukan file, kadang keliling ke pelosok bertemu manusia.
    Sukses ya!

  13. Aku pernah berharap bisa pindah2 tinggalnya :). Tapi sayang ga kesampaian. Papa kerja di perusahaan yg memang ga ada rotasi pindah begitu.

    Suami yg enak, krn ngerasain dr bayi pindah2 negara Krn tugas ortu sebagai diplomat.

    Aku tau pindahan itu ribet ga gampang. Tp tetep buatku yg suka perubahan, itu menarik dan menantang :). Beradaptasi si kota baru, kenal budaya baru, suka aja sih kalo bisa ngerasain.

    Sayang suamiku juga kerjaannya ga memungkinkan utk rotasi. Selamat ditempatkan di kota baru ya mas :).

    1. Apalah daya yg nggk pernah ngerasain pijakan tanah sumatera.. ehh dlu kapan tahun pernah ke lampung.. mampir bentar terus pulang lagi bawa kerupuk ikan sama keripik pisang…

      Ya ampun Mas Bara.. aku takjub loh dnger perjalanan kisahmu.. Kerja pindah2 kota.. Kanaya pasti bangga punya papa yg punya banyak pengalaman..
      Semangat terus ya Mas.

      Jadi skrang di rotasi Ke lampung Mas?
      Btw gambarnya bagus mas.. apalagi yg foto berdua melihat pemandangan… ehehe

  14. Mas Bara, selamat untuk penempatan barunya, semoga betah, lancar rejekinya, selalu sehat dan bahagia bersama keluarga kecilnya di manapun mas Bara berada πŸ˜€

    Eniho, baca tulisan ini, membuat saya ikut merindukan ranah minang hahahaha. Salah satu wilayah di Indonesia yang menurut saya cantik sangat pemandangannya, dan enak-enak makanannya πŸ˜€ Nggak kebayang bagaimana mas Bara harus berpisah dari sana. Mungkin sedihnya seperti saya yang harus tinggalkan ibukota. Wk. Untung pindah ke Bali, which is fun πŸ˜› *lha jadi curhat*

    Sukses, mas! πŸ˜€

  15. Wah sekarang pindah ke Lampung, turut bahagia mendengar perpisahan dan pertemuan barumu dari Sumatra Barat ke Lampung.

    Sehat selalu, terutama di tengah Pandemi gini.

    Anyway, ini artinya pembaca akan melihat cerita-cerita baru di Lampung dong? Wah… Asyiknya. Dan aku sebenarnya selama ini penasaran dengan rasa masakan asli Padang karena katanya beda sama yang dijual di kotaku.

  16. banyak kenangan manisnya dan awal awal biasanya berat mau ninggalin. semoga suatu saat bisa main main ke Padang lagi mas Bara dan keluarga, karna 5 tahun juga bukan waktu yang singkat
    di kota yang baru pastinya bakalan ada cerita cerita seru juga,ketemu temen komunitas yang baru dan cerita kulineran yang baru juga
    ku tak sabar membacanya
    baideweiii, sukses terus di kota yang baru mas Bara

  17. Punya banyak teman asli minang sedikit banyak paham budaya mereka. Dan memang benar semua sama seperti yang diceritakan mas bara ini. Sayang sekali saya belum pernah ke sana, semoga suatu saat nanti bisa lah main ke sana mengunjungi teman-teman. Btw selamat bekerja di tempat yang baru!

  18. Semakin ke timur pindahnya ya. Mudah-mudahan nanti bisa bergeser ke Jawa dan balik ke homebase. Eh jangan-jangan malah maunya ditempatkan di Indonesia Timur sekalian? haha.

    Palembang-Lampung deket. Bisa lebih sering jumpa ini. Ntah di warung pempek atau di bakso Sony hahaha. See u again Bara.

  19. Banyak kisah menarik di tanah Minang ya bang barra. Memang disana masih ada bajing loncat ya? Kirain aku sudah aman.

    Saya belum pernah ke Padang Sumatra barat sih tapi kalo merantau sudah sering sejak tamat SD langsung ke Jakarta membantu orang tua. Banyak kisah suka maupun duka, kadang dipalak preman kadang juga jalan jalan ke Monas. Gado gado rasanya.

    Berarti sekarang tinggal di bandar Lampung ya bang.

  20. Itulah mengapa gue pengen eksplor Sumatera Barat. Wisata arsitektur, sejarah, kuliner, dan alam semua ada. Pengen cobain juga kereta apinya. Selain kecantikan uni-uni Minang, gue sebagai cowok normal juga mengakui ketamvanan uda-uda Minang.

    Nah, kenapa nggak suka makanan Minang? Pedes?

    Selamat datang di Lampung, bro! Semoga betah πŸ™‚

    1. Setelah mencoba hampir semua masakan padang, malah menurut aku masih pedes masakan jawa/sunda yg pake cabe setan atau cabe rawit lho Nug. Masakan padang keliatan pedes karena cabenya banyak dan merah meriah tp disiram minyak jadi gak terlalu pedes πŸ™‚ dan cabenya cabe keriting atau cabe ijo kok, bukan cabe rawit. SatuΒ² nya masakan padang yg pedes menurut aku cuma itiak lado ijo sih (bebek digulai dibumbu cabe ijo dan rawit ijo)

  21. Selamat atas penugasan di tempat yang baru, Mas Bara. Semoga diberi kelancaran dan kesehatan. Siapa tahu, penempatan yang baru menambah daftar daerah yang memberi kesan mendalam buat panjenengan. Serta tak bosan-bosan menjelajah dan menulis di blog ini πŸ™‚

  22. Baca ginian jadi teringat perjalanan di sumbar. Cuma 3hari, tapi sangat berasa. Apalagi mas bara yang sampai 5th. Pasti bakal kangen dengan suasana sumbar.

    Semangat berlabuh di tempat baru mas bara. Ditunggu ceritanya tentang lampung dan sekitarnya πŸ˜€

  23. Hai kakakkkkk

    Lama tak bersua ! Wah selamat memulai hidup baru di tempat baru !

    Gw tunggu cerita-cerita seru berikutnya. Eh enggak ding, yang paling gw tunggu cerita bodohnya.

  24. Saya jadi ingat momen pertama kali berada di Medan mas, tahun 2000 saya kesana, sungguh perjalanan yang sangat menyenangkan dan juga mendebarkan waktu itu. Senang ketika sudah berada di tanah Medan dengan orang-orangnya yang menurut saya sangat baik banget, mulai dari pemudanya yang senang bermain dan ibu-ibunya yang baik banget. Jadi ingin kesana terus meskipun satu tahun sekali… Itu di Medan, apalagi di Sumatera bagian lainnya, mungkin juga lebih menyenangkan ya, terutama Acehnya, belum sempat kesana waktu itu… Eh jadi cerita sendiri ini… πŸ™‚

Leave a Reply