Dihadang Kawanan Babi Hutan Saat Berburu Sunrise di Tanjung Bira

Sekilas, tebing-tebing tinggi itu mirip tebing apparalang. Pepohonannya, ujung tebingnya, struktur tebingnya, dan pagar-pagar kayu pembatasnya. Hanya saja, tebing di titik nol Sulawesi Selatan ini tak seindah tebing apparalang. Di sini, pagi hari, saya datang untuk berburu sunrise di ujung Tanjung Bira.

titik nol sulawesi selatan

Niatnya, tepat selepas subuh saya akan langsung keluar menuju titik 0 Sulawesi Selatan di Tanjung Bira. Saya ingin berburu sunrise di Tanjung Bira. Untuk mengejar sunrise emang harus sepagi itu.

Nyatanya, saya tak pernah menang melawan kemalasan pagi hari. Udara pagi yang membuai adalah sekuat-kuatnya candu bagi saya. Alhasil sekitar jam 5.45 pagi saya baru keluar dari guest house. Mentari pasti sudah naik. Ah, biarlah, saya tetap ingin ke sana, ke titik nol Bira, titik nol Sulawesi Selatan.

Rasa kantuk masih menyertai tatkala kuda besi saya nyalakan, namun berangsur hilang ketika jalan tanah berbatu menyambut. Lagi-lagi, saya berjumpa dengan jalanan jelek dan sempit. Tanjung Bira memiliki banyak potensi wisata, tapi sayang, selain jalan utama, akses menuju spot-spot cantiknya sangat tak layak.

Di awal jalan ini, saya masih menemukan beberapa penginapan. Setelah itu hanya kebun, jalan rusak, dan pagar pembatas. Saya sempat berhenti untuk memastikan tak salah jalan.

Ingin tahu lebih jelas, tonton yuk videonya..

Terhadang Belasan Babi Hutan

Semakin jauh, suasana semakin sepi, pepohonan semakin rimbun. Di sisi kiri saya perkebunan warga, sedangkan di balik pagar beton itu adalah tanah tak bertuan, hutan..

“Grok.. grok.. grok”,, tiba-tiba saya dikejutkan suara riuh dari gerombolan babi hutan.. DEG!! Jantung saya seketika memompa darah lebih kencang. Astaga!!! Seumur hidup, baru kali ini saya melihat babi liar sebanyak ini di hutan, dengan jarak yang cukup dekat dan saya sendirian di atas motor. Jumlahnya banyak, sekitar sepuluh atau bahkan mungkin belasan ekor, saya tak tahu pasti.

Reflek saya hentikan motor. Saya takut sekali seumpama babi-babi itu menyerang saya. Tapi ternyata bukan hanya saya saja yang takut, begitu babi-babi itu menyadari kehadiran saya, babi-babi itu lantas membubarkan diri, berlarian dengan sangat cepat. Mereka langsung masuk ke rimbunnya semak. Sebagian ke kebun warga, sebagian ke hutan yang terbuka tanpa pagar pembatas.

Babi sudah tak terlihat dari pandangan, tapi saya masih terdiam. Saya ragu apakah harus melanjutkan berburu sunrise di Tanjung Bira atau haruskah putar balik. Jujur, babi-babi itu menakuti saya. Ukurannya kecil, jauh lebih kecil dari babi-babi hutan di Sumatera yang pernah saya jumpai. Tapi babi hutan tetaplah babi hutan, mereka memiliki taring tajam yang mampu mengoyak tubuh.

Saya lihat GPS, titik 0 Sulawesi Selatan tinggal selangkah lagi. Tiba-tiba saya putuskan untuk tetap lanjut. Tanggung, destinasi sudah di depan mata. Saya tarik nafas, mengumpulkan keberanian dan berdoa kepada Tuhan supaya tak terjadi hal-hal buruk.

dihadang babi hutan di tanjung bira

Saya berbelok ke arah hutan. Di area ini tak ada lagi pagar beton yang menutupi. Tak lama, babi-babi tadi terlihat lagi. Menyadari kehadiran saya, mereka langsung berhamburan masuk ke semak, kali ini hanya terlihat beberapa ekor. Saya tetap pede dan terus melanjutkan perjalanan.

Baca juga: Bara di Pantai Bara

Saya berhenti di jalan buntu, sepertinya saya sampai. Saya parkirkan motor, lalu berjalan kaki memasuki hutan yang tak begitu rimbun. Sejujurnya, sebetulnya saya cukup penakut, tapi saat menjelajah seperti ini, entah kenapa rasa penasaran saya seringkali lebih kuat dari rasa takut saya.

Sayangnya, saya tak sempat mengabadikan kehadiran babi-babi itu dalam tangkapan kamera, saya lupa memasang action cam di helm saya.

Sedikit Mirip Tebing Apparalang

Saya sampai di titik nol Sulawesi Selatan. Kalau dilihat di peta, tempat ini memang berada di ujung Selatan Tanjung Bira. Namun kalau lingkupnya Se-provinsi Sulawesi Selatan (minus Kepulauan Selayar), sebetulnya masih ada daerah yang lebih selatan lagi.

Tempat ini berada di atas tebing dengan jurang yang langsung ke laut. Pinggiran tebing telah diberi pagar pembatas dari kayu. Sekilas mirip dengan tebing apparalang, hanya saja tak secantik apparalang.

Baca juga: Blusukan ke Tebing Apparalang, Tempat Tercantik di Tanjung Bira

sunrise tanjung bira

Tujuan utama saya adalah berburu sunrise di ujung Tanjung Bira ini. Saya melihat ke arah matahari terbit. Matahari telah naik, sudah tentu. Saya sampai di sini sudah hampir setengah 7, tetapi sepertinya saya tak rugi-rugi amat. Kalaupun datang sebelum sunrise, nampaknya saya tak akan dapat momen epic karena awan tebal menggelayut di ujung cakrawala.

travel blog tanjung bira

Lalu lalang kapal penumpang telah terlihat di kejauhan. Mungkin tujuannya ke Pulau Selayar, yang berada di seberang Tanjung Bira.

Biawak kecil menarik perhatian saya. Saya melangkah pelan, mengendap-endap supaya bisa memotretnya dari dekat. Namun, insting liarnya segera menangkap langkah saya, biawak kecil yang tadinya terdiam itu langsung melesat, hilang di balik rerumputan.

traveling ke tanjung bira

Langkah seorang pria lantas mengagetkan saya. “Njir kirain demit”, dalam hati. Saya melempar senyum dan bertanya apa yang hendak ia lakukan di sini. Ternyata, pria itu akan pergi memanah ikan. Terdapat sebuah celah kecil di tebing, itu adalah akses menuju ke dasar jurang, ke laut.

Hari ini, saya gagal berburu sunrise di Tanjung Bira. Matahari semakin naik dan saya harus segera kembali ke penginapan. Saya akan melanjutkan perjalanan ke Makassar. Semoga babi-babi hutan itu tak menghadang perjalanan pulang saya 🙂

travel blogger Indonesia di tanjung bira

***

Traveler Paruh Waktu

 

Travel Blogger Indonesia. Traveler Paruh Waktu. 100% sundanese. ASN pengagum Ibu Pertiwi, terutama akan keindahan alamnya. Suka bertualang, suka bercerita, suka membuat video.

Related Posts

18 Responses
  1. Wahahaha… Kebayang pasti deg-degan itu pagi-pagi udah ketemu babi hutan, Bung. Tapi untungnya celeng kalau lari ngga bisa belok ya. Bawa zig-zag aja kalau dikejar hahaha…

    Btw saya jadi bertanya-tanya ini: ada apa antara ujung tebing dan celeng? Soalnya di titik nol Sabang juga ada celeng. 😀

  2. Mas Bara berani bangetttt pergi sejauh itu mana sepi pula hahaha. Kalau saya sampai ketemu Babi hutan mungkin sudah menangis jongkok di sana by the way titik nol itu bukan tempat wisata, ya? Kok hanya mas Bara yang ke sana? Atau orang-orang biasanya baru ke sana saat siang? 😀

    1. saya emang orangnya suka penasaran kalau lagi traveling,, lebih suka hal2 adventure kek gini sih, lebih menantang, cari yg off the beaten track 😀 ..

      iya emang sepi bgt di titik nol ini, sebaiknya sih ramean kalau ke sini.. kayanya jarang bgt sih org ke sini.. banyakan pada main di pantai bira dan pantai bara aja wisatawannya..

  3. Waduuhh deg-degan juga dihadang babi-babi liar. Intinya tetap tenang dan jangan kelihatan kita panik, ya. Meskipun jantung udah dag-dig-dug nggak karuan. Hehehe. Tapi untung gak kenapa-napa ya, Kak. Tetep bisa sampai ke tujuan juga. Syukur, deh.

    Eh tapi aku penasaran juga sih. Coba Kak Bara pasang action cam di helm ya, mungkin bisa jadi pengalaman nggak terlupakan yang nggak cuma diinget sendiri, melainkan bisa dibagikan ke teman-teman lain.

    1. bener bgt,, kemarin kalau aku panik dan kabur mungkin bisa aja babi2nya malah jadi berani dan ngejar wkwk.. untungnya mereka yang kabur duluan..

      itu dia, nyesel euy pagi2 itu ngga pasang action cam karena dikiranya gak bakal ketemu apa2 di jalan dan lagian jaraknya cukup dekat dari penginapan..

Leave a Reply