Taman Laut Bunaken, Tak Secantik Gadis Manado

Saya melompat dari perahu ke dalam air yang jernih. Di balik permukaan, kebun terumbu karang terhampar luas. Ikan-ikan menari kesana kemari, warnanya beragam, pun jenisnya. Bintang laut warna biru terlihat di sela-sela coral. Tapi jujur saja, apa yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, tak seperti apa yang ada di imajinasi saya tentang tempat ini, Bunaken.

puncak indah sulawesi utara
puncak indah sulawesi utara

Sebuah perjalanan panjang dari Gorontalo ke Manado saya lewati dengan tertatih. Motor yang turun mesin di Gorontalo mengharuskan saya untuk berjalan pelan-pelan tak melebihi 60km/jam. Akhirnya, saya sampai di Manado setelah berjalan 3 hari 2 malam, diselingi menginap di Boroko dan Lolak.

Pemandangan yang cantik di beberapa titik membantu mengurangi lelah. Setidaknya menjadi setitik oase dalam perjalanan panjang ini.

Di sebuah pom bensin di batas kota, saya berhenti, menantikan kabar dari kawan lama saya. Nomornya nggak aktif. Saya menunggu dengan gelisah, hari sudah semakin sore.

Saya tiba di Manado di hari saat banjir melanda kota ini. Saya khawatir, takut kalau saja banjir susulan akan terjadi. “Ah, sial sekali, dalam keletihan seperti ini malah disambut bencana”. Risiko gagal have fun di Manado menghantui.

Di pojokan saya bergeming, sampai akhirnya dering telpon memecah hening. “Ah, akhirnya Aga ada kabar”..

Saya pun berkendara menuju lokasi yang dikirim Aga via whatsapp. Cukup jauh, saya harus bergegas sebelum malam tiba.

Dalam perjalanan menuju pusat kota, sisa-sisa banjir masih terlihat. Genangan air kecoklatan, tanah dan pasir menutupi sebagian jalan. Saya lebih berkonsentrasi saat melewatinya.

Saya tiba di pusat Kota Manado setelah sebulan berkendara motor menjelajah Sulawesi. Rasa-rasanya, kemarin saya baru saja memulai petualangan dari Kendari. Time Flies. Seakan gak percaya waktu berjalan secepat ini. Terik dan hujan telah menjadi saksi akan suka duka dalam perjalanan panjang ini.

Memasuki keramaian kota, pemandangan indah mulai terlihat. Bukan, bukan cantiknya pantai atau eloknya pemandangan. Tapi, gadis-gadis Manado yang sudah terkenal kecantikannya seantero nusantara mulai terlihat di tiap sudut kota.

Bukan Mitos!! Isu yang beredar di internet ataupun dari mulut ke mulut tentang cantiknya perempuan Manado, saya buktikan dengan mata kepala sendiri. “Waduh, bisa enggak pulang nih”, batin saya. Hahaha..

Pemandangan indah berakhir kala saya sampai di lokasi yang dituju. Nah, sekarang di depan saya telah ada sosok yang lama tidak saya lihat. Kawan kuliah yang terakhir saya temui sebelum kami penempatan kerja di provinsi berbeda, 2011. Bertahun berlalu, dia masih sama. Masih kurus dan doyan ngegame. Hanya saja, statusnya tak lagi lajang, haha..

Hari kedua di Manado, saya berkunjung ke danau tondano. Setelah satu bulan lamanya berkendara motor menjelajah Sulawesi, akhirnya saya menemui titik jenuh saya. Rasanya badan sudah menolak riding jauh. Saya pun memilih perjalanan ke danau tondano dengan naik kendaraan umum.

Dari kediaman Aga, saya naik angkot sampai ke terminal. Angkot di sini cukup unik, dentuman musik penghibur dari dalam angkot terdengar sangat kencang memekik telinga bahkan bagi para pejalan kaki. Dari terminal ke Tondano, saya lanjutkan dengan menumpang bus ekonomi tanpa ac.

Skip! Detil perjalanan ke Tondano akan saya tulis di artikel lain.

Masih di hari yang sama, saya mencari informasi tentang wisata ke Bunaken, mulai dari menggunakan google sampai bertanya ke teman-teman.

Sesuai tema perjalanan kali ini, saya ingin semuanya dilakukan dengan mandiri alias sebagai backpacker. Tapi, setelah mencari informasi menuju bunaken, yang paling memungkinkan dan dengan biaya termurah adalah dengan join open trip. Akhirnya, terpaksa untuk kali ini saya bergabung dengan para pengunjung lain melalui jasa trip operator..

Saya ikut one day trip Manado Adventure dengan biaya Rp180.000. Dengan biaya segitu, fasilitas yang didapat adalah transport boat, tiket masuk 3 destinasi, dokumentasi (DSLR, action cam, drone), makan siang, air mineral dan soft drink. Namun belum termasuk sewa alat snorkeling/diving.

Menuju Surga Taman Laut ”Pertama” di Indonesia

Bagi saya, Bunaken adalah taman laut pertama yang saya tahu. Jauh sebelum saya menyukai dunia traveling, saya sudah sering mendengar keelokan kehidupan bawah laut Bunaken di Manado. Ketika saya mulai menyukai laut dan traveling, Bunaken tentu menjadi urutan pertama dalam daftar taman laut yang ingin saya kunjungi.

Tahun-tahun berlalu. Rejeki dan kesempatan untuk berkunjung ke Manado baru datang di awal tahun 2019.

Perjalanan panjang telah dilalui. Saya tiba di Manado. Dari pusat kota, tinggal “selangkah” lagi bagi saya untuk mencoret nama Bunaken dari bucket list. Sebentar lagi, saya akan bebas berenang bersama ikan-ikan dan terumbu karang cantik di Bunaken.

Pagi-pagi sekali, saya sudah bersiap-siap. Perlengkapan tempur telah siap, termasuk alat snorkel mahal pinjaman dari Aga 😀 ..

Motor saya pacu ke pelabuhan. Setibanya di pelabuhan, suasana sudah sangat ramai. Selain ratusan pengunjung yang menunggu keberangkatan jadwal perahunya, para pedagang asongan juga berlalu lalang menawarkan dagangannya.

Jam sudah menunjukkan jadwal keberangkatan seharusnya. Tetapi karena ada beberapa peserta trip yang belum tiba, perjalanan pun belum bisa dimulai. Setelah peserta lengkap, tim guide memberikan briefing dan doa bersama lalu kami pun bergegas menuju perahu.

i’m coming

Destinasi Pertama –> Pasir Timbul

Digoyang ombak kecil selama 2 jam, saya dan rombongan peserta open trip lainnya sampai di pulau pasir timbul. Biasa lah, semacam gundukan pasir di perairan dangkal yang membentuk pulau tanpa pepohonan. 2 jam bergoyang di laut membuat sebagian peserta trip lemas, mabok laut.

open trip ke bunaken
perahu yang membawa saya menjelajah bunaken

Pasir timbul tak selalu ada, pengaruh angin dapat menimbulkan atau menenggelamkan pasir di bawah permukaan air laut. Sialnya, pas saya datang, tak ada pasir timbul.  Namun, jernihnya air laut tak mengaburkan keberadaan hamparan pasir di bawahnya. Saya masih bisa menjejakan kaki di pasirnya, karena air lautnya sendiri sangat dangkal.

pasir timbul bunaken
traveler paruh waktu di pasir timbul bunaken

Untuk turun ke pasir timbul, kami harus berpindah menuju perahu jukung yang hanya muat beberapa orang saja. Saya orang pertama yang langsung meloncat ke perahu kecil itu. Melihat jernihnya laut biru, saya yang seorang pecinta pantai mana kuat untuk berdiam lama.

pasir timbul manado
blue ocean and sky

Belum terlalu siang, matahari belum ada di puncak panasnya. Tapi tetap saja, namanya pantai pasti panas, apalagi nggak ada pohon sebagai pelindung. Tapi, buat pecinta pantai seperti saya, itu bukan rintangan.

Jangan lupa baca artikel lainnya: 7 tempat wisata menarik di Gorontalo

Beberapa tim guide langsung ambil peran masing-masing. Ada yang memotret pakai kamera DSLR, ada yang shot video pake action cam, dan ada juga yang ambil video pake drone. Kalau rame sih seru juga, tapi kalau sendirian kaya saya, hmmm, bingung juga harus gimana. Mau akrabin peserta lain juga segan karena semuanya bergerombol haha..

pasir timbul di taman nasional bunaken

Saat para peserta trip sibuk dengan kelompoknya masing-masing, saya menaiki perahu kecil itu, dan memilih kembali ke perahu besar.

Destinasi Kedua –> Pulau Siladen

Seluruh peserta trip telah kembali ke perahu. Kami bersiap ke destinasi berikutnya, pulau siladen.

Perahu kembali melaju. Di belakang, sang nakhoda menenggak minuman berwarna putih yang dituangkan dari botol air mineral. Seseorang nyeletuk, “cap tikus pak?”.. Sang nakhoda hanya tersenyum, diiringi tawa si penanya tadi. “Waduh, gawat”, saya tiba-tiba deg-degan, takut nggak bisa balik ke Manado haha..

pulau siladen dari drone
foto drone pulau siladen by manado adventure

Pulau Siladen adalah pulau kecil yang berseberangan dengan pulau bunaken. Dari Siladen, Bunaken terlihat jelas. Pantai pulau ini tak begitu bagus, tapi katanya underwaternya ciamik. Sayang, saya tidak sempat membuktikan kecantikan taman lautnya.

Di Siladen, kami hanya singgah sebentar. Waktu yang diberikan oleh trip operator hanya 1 jam sudah termasuk makan siang.

pulau siladen bunaken
pantai pulau siladen

Saya berjalan ke dua arah mata angin yang berbeda, mengamati setiap sudut pantai pulau ini. Pasirnya putih, tapi tak istimewa. Namun, seperti pantai-pantai lainnya di wilayah taman nasional bunaken, airnya jernih dan berwarna hijau toska. Cakep..

Terdapat perkampungan nelayan di tengah pulau siladen. Namun sayang, saya tak sempat menjelajah lebih jauh karena keterbatasan waktu.

Destinasi Ketiga –> Pulau Bunaken

Kru operator trip meminta kami semua untuk kembali ke perahu. Waktu berkunjung di pulau siladen telah usai. Sekarang, saatnya kami menuju ke destinasi terakhir sekaligus destinasi utama dalam rangkaian perjalanan one day trip ke taman nasional bunaken, pulau bunaken.

open trip bunaken
para peserta open trip manado adventure

Perahu merapat di dermaga pulau bunaken. ABK melempar jangkar dan memasang tali ke sebuah tiang di dermaga. Kami semua turun.

Sejujurnya, rupa pulau bunaken tak seperti bayangan saya. Saya membayangkan tentang pulau yang sepi dengan pantai pasir putih yang luas dan bersih, air jernih bergradasi warna biru dan toska, dengan nyiur melambai yang rapat di sepanjang garis pantai.

pantai pulau bunaken
pantai pulau bunaken

Yang berada di depan saya, beda 180% dengan bayangan saya. Sepanjang pantainya dipenuhi dengan kios oleh-oleh dan kedai makanan, pantainya sempit dan kotor, dan tak ada gradasi biru dan toska di sana.

warung-warung di bunaken

Saya berjalan-jalan di pantai, mencari spot yang kira-kira fotogenic untuk difoto. Luput. Pantai di sekitaran dermaga bunaken nggak ada yang menarik. Hanya, ada 1 spot buatan yang cukup fotogenik dengan latar barisan sampan yang ditegakkan.

spot fotogenic di bunaken
spot fotogenic di bunaken

Setelah peserta trip lainnya selesai memilih baju selam dan alat snorkeling, kami berangkat ke spot snorkeling. Saya sendiri dipinjami alat snorkeling oleh Aga sehingga tak perlu lagi menyewa. Sebagian peserta lainnya hanya menanti di pantai sambil mencari spot foto.

Perahu bertolak dari daratan. Sampai di satu titik tak begitu jauh dari pulau, perahu berhenti. Kami segera memasang seluruh peralatan.

snorkeling di bunaken
snorkeling di bunaken

Byuuur.. Saya yang gak tahan segera menceburkan diri saat sampai di lokasi snorkeling.

Ikan-ikan beragam bentuk, warna, dan ukuran menyambut. Sebagian ikan mendekat, mungkin terbiasa dengan wisatawan yang membawa makanan. Sebagian lagi menjauh, tampak malu-malu dan tak mau didekati.

underwater bunaken
underwater bunaken

Di dasar laut yang tak terlalu dalam, kebun terumbu karang terhampar luas. Tapi, lagi-lagi berbeda dengan bayangan saya.

Bunaken sangat terkenal sejak lama, sehingga saya membayangkan terumbu karang yang padat dan sehat dengan kontras yang mencolok antar satu coral dengan coral lainnya.

free dive di bunaken
maafkan muka aneh saya saat free dive :V

Saya berenang ke sana ke mari mencari taman laut yang lebih bagus. Nihil. Bagi saya, snorkeling di olele lebih menarik dibandingkan dengan Bunaken. Walau dari segi keragaman ikan dan hewan laut lainnya, di bunaken juga nggak kalah.

bunaken

Kami tiba ke Kota Manado senja hari, di titik pergantian antara siang dan malam. Saya bercerita ke Aga, “Ga, ternyata Bunaken biasa aja ya, lebih bagus di olele gorontalo”. Apa jawab Aga?

“Lu snorkeling di mana emang? Yang bagus itu diantara siladen dan bunaken, mau diving mau snorkeling di situ spotnya bagus. Pasti lu snorkeling di depan pulau bunaken ya? antara bunaken dan manado? Kalau di situ emang terumbu karangnya udah banyak yang rusak. Turis-turis dari negeri tirai bambu banyak yang suka sembarangan angkat-angkat coral, akhirnya aksesnya dibatasi ke spot-spot yang bagusnya, diutamakan buat diving. Apalagi kalau ikut open trip, biasanya emang dikasihnya tempat yang biasa aja”.. Oalaaaah, gitu toh ceritanya wkwkwk..

Pantas saja, Bunaken yang terkenal akan taman lautnya, malah biasa saja di mata saya. Ternyata memang spot untuk para peserta open trip biasanya yang viewnya standar. Sedangkan untuk serious diver yang langsung berhubungan dengan dive operator, akan diantarkan ke titik-titik legendarisnya.

Baiklah, next time, lebih baik saya merencanakan trip sendiri daripada open trip di Bunaken. Bakal lebih mahal, tapi kepuasan yang didapatkan pasti akan berkali-kali lipat.

Kesimpulan

Sebelum memilih tour operator untuk traveling ke Bunaken, kamu harus tentukan dulu. Kamu hanya ingin datang ke pantainya atau ingin menikmati keindahan panorama bawah lautnya??

Kalau kamu merasa cukup berkunjung ke pantai-pantai dan pulau-pulaunya, ikut open trip bisa jadi pilihan terbaik. Selain biayanya yang hemat, kamu dapat berkunjung ke beberapa spot dalam satu hari. Tapi, seperti yang telah saya sampaikan, pantainya biasa saja. Diantara pasir timbul, siladen dan bunaken, yang terindah adalah pasir timbul.

Tapi kalau kamu ingin menikmati keindahan bawah lautnya, sebaiknya kamu mencari dive operator. Kalau kamu hanya ingin snorkeling pun coba hubungi dive operator. Kalau ikut open trip, walaupun bisa snorkeling tapi kamu akan dibawa ke tempat yang keindahannya medioker.

Menurut saya, traveling ke Bunaken adalah wajib hukumnya untuk snorkeling, atau diving tentu lebih baik. Percaya deh, pantai-pantainya biasa aja. Sayang kan udah jauh-jauh ke Bunaken tapi nggak memaksimalkan dengan melihat taman lautnya..

Dari pengalaman saya, saya jadi tahu, ternyata Bunaken tak seindah apa yang saya bayangkan, tak secantik gadis-gadisnya. Tetapi, itu kesalahan saya sendiri yang lebih memilih paket open trip murah. Seandainya saya rela merogoh kocek lebih dalam untuk memilih penyedia jasa yang proper, pasti saya dapat melihat keindahan hakiki dari taman laut bunaken, yang saya yakin seindah dan secantik gadis-gadis Manado 😀 ..

***

Berkunjung Januari-Februari 2019

Traveler Paruh Waktu

Travel Blogger Indonesia. Traveler Paruh Waktu. 100% sundanese. ASN pengagum Ibu Pertiwi, terutama akan keindahan alamnya. Suka bertualang, suka bercerita, suka membuat video.

Related Posts

19 Responses
  1. Saya suka dengan snorkelingnya
    Tapi itu tadi yang di pasit timbul, seharusnya dikasih tau jadwa pasir timbulnya tampak ya, biar pengunjung tidak kecewa. kan kasihan jauh jauh datang, tapi tak melihat pasir timbulnya

  2. Aku belum pernah sih ke Bunaken. Sepertinya memang dalam lautnya tak se-wow dulu. Sekarang karena sudah banyak yang membuka diri, aku kok sepertinya lebih suka dengan perairan Komodo dan Pulau Weh di Aceh. Pantainya relatif lebih tenang dan airnya lebih bening 🙂

  3. Mungkin Krn aku ga bisa diving, ga bisa renang, jd buatku melihat foto2 di atas aja udh seneng mas :D. Ga kebayang foto taman lautnya yg jauh LBH cantik yaaa.. berarti kamu memang hrs balik ke Bunaken tp kali ini serius utk diving di spot keren :D.

    1. wah, ayo mbak mulai belajar berenang.. seru lho liat kehidupan di dalam laut itu, berasa surreal gitu, beda bgt sama yg kita lihat di atas permukaan 😀

      iya ih jadi pengen lebih serius cari spot2 yang the bestnya,, rasanya rugi datang jauh2 ke manado disuguhinnya yang basic, errrrr…

  4. Baca cerita blognya traveler paruhwaktu berasa diajak jalan-jalan beneran ke bunaken.
    Apalagi aku belum pernah kesana, jadi bakalan jadi referensi banget kalau aku nanti ke sana.

    Suka juga sama logonya, mengambarkan banget traveler paruh waktu…

Leave a Reply