Mengintip Pembuatan Kapal Pinisi Tipe Mewah di Tana Beru

Saya (dan mungkin juga kamu) mengenal kapal pinisi sejak kecil. Kapal yang diperkenalkan oleh pelajaran sekolah. Kapal besar nan megah dengan layar-layar besar untuk memerangkap angin yang mendorongnya mengarungi samudera. Kapal besar karya asli nusantara, yang lahir dari tangan-tangan terampil suku bugis dan makassar. Di manakah kapal itu diciptakan? Salah satunya di sini, tanah legendaris para maestro ahli perkapalan tradisional nusantara, Tana Beru.

kapal pinisi di tana beru

Rumah Makan Padang atau Palembang??

Selain berhenti di Batu Pake Gojeng (baca artikelnya di sini: Taman Purbakala Batu Pake Gojeng) , saya berhenti di sebuah kampung kecil manakala rasa lapar menghampiri.

Sebelumnya, saya melewatkan sebuah warung makan dengan menu utama coto kuda. Sebenarnya saya penasaran dengan coto kuda, namun berhubung belum terlalu lapar, saya terus melaju ke depan. Tapi ketika rasa lapar tiba, entah kenapa tak ada satu pun warung coto kuda yang saya jumpai.

Di kampung kecil itu, saya berhenti di sebuah rumah makan padang. Seorang gadis remaja menyambut. Saya yang tinggal di Padang tergelitik untuk bertanya “adek orang minang?”, dan apa jawabnya? “bukan, saya orang palembang”. Saya tertawa kecil dalam hati..

Saya menoleh ke etalase,, “makanannya belum siap ya?”.. “iya belum dimasak” jawab gadis itu… Hmmm,,, “lalu adanya apa dek?”… “adanya nasi kuning”.. Waduh, nasi kuning lagi,, sarapan tadi nasi kuning. Aneh banget, namanya warung padang, yang jual dari palembang, dan yang available nasi kuning khas sulawesi ahaha..

Akhirnya, perut yang sangat lapar memaksa saya untuk kembali menghabiskan sepiring nasi kuning, lengkap dengan 2 butir telur rebus.

Mencari Penginapan di Tanjung Bira

Shockbreaker motor yang sudah “mati” memaksa saya berjalan pelan saat jalanan tak rata menyambut. Ah sial, udah lah beat itu emang joknya keras dan bikin pantat panas, ditambah peredam getaran tak berfungsi maksimal, nasib traveler kere.

180km dari Bajoe sampai Tanjung Bira akhirnya terlewati, tentunya dengan penuh perjuangan sampai badan pegal-pegal. Sepertinya bulan Januari bukan peak season, terlihat dari banyaknya kamar penginapan yang kosong.

Dalam kondisi yang sepi seperti ini, saya lebih menyukai metode door to door dibanding pesan penginapan dari online travel agent (OTA). Saya bisa melihat langsung kamar, melihat suasana dan lokasinya, dan kalau beruntung atau jago nawar kadang bisa mendapatkan harga lebih miring daripada harga aplikasi.

riswan guesthouse tanjung bira

Setelah beberapa kali keluar masuk penginapan, saya menetapkan pilihan di Riswan Guesthouse. Lokasinya cukup dekat dengan anjungan pantai bira, tempatnya cukup nyaman dengan kamar mandi di dalam. Sebagai bikepacker budget backpacker, saya pilih kamar termurah, tanpa AC seharga Rp150.000. Tarif tersebut tanpa sarapan, saya harus membayar extra Rp10.000 untuk dapat sarapan berupa nasi goreng + telur ceplok.

Tiba di Tanah Para Pembuat Kapal Pinisi, Tana Beru

Ada beberapa destinasi yang menjadi tujuan kedatangan saya di Tanjung Bira, salah satunya adalah Tana Beru. Untuk menuju Tana Beru gampang-gampang susah. Dari arah Makassar, lokasinya sebelum Tanjung Bira, di suatu daerah yang bernama Bonto Bahari. Terdapat simpang 3 setelah minimarket. Di simpang 3 itu, ambil arah kanan melewati jalan kecil, papan petunjuknya kecil dan mudah terlewat kalau kamu kurang sigap.

Roda motor terus menyusuri jalan kecil ini, sampai akhirnya sebuah objek memaksa tangan kanan untuk mengendurkan gas sembari menekan rem. Di depan saya, sebuah kapal pinisi bergeming. Kapal itu masih dalam pengerjaan, menantikan waktunya untuk mengarungi lautan nusantara bahkan dunia.

kapal pinisi di tana beru

Saya berhenti dan memarkirkan motor.. Bunyi mesin gergaji kayu memekakkan telinga. Di waktu yang bersamaan, terdengar bunyi pukulan palu yang bertempo. Para pemilik tangan terampil dalam pembuatan kapal tak acuh akan kehadiran saya, mereka tetap sibuk dengan pekerjaannya. Ada yang memahat, memalu, mengukur, memotong, dan lain sebagainya untuk menyiapkan kapal tangguh di laut lepas.

Di tanah inilah, kepiawaian suku bugis dan suku makassar dalam membuat kapal pinisi diwariskan secara turun temurun. Kapal-kapal pinisi yang legendaris itu di buat di sini, Tana Beru. Dengan kanopi, mereka merangkai kayu demi kayu di tepi pantai sebelum akhirnya diluncurkan ke laut.

Saya terkagum. Saya pernah melihat kapal pinisi di Labuan Bajo, tapi hanya dari luar. Rasa penasaran menuntun saya untuk meminta ijin melihat interior kapal pinisi yang sedang dibangun.. Di titik ini, saya melihat 2 buah kapal pinisi, satu kapal kecil untuk keperluan nelayan setempat, dan satu lagi kapal pinisi besar nan megah untuk keperluan wisata, mungkin untuk mengarungi Kepulauan Komodo.

Kapal kecil bisa selesai dibangun dalam beberapa bulan saja. Sedangkan kapal besar untuk wisata bisa sampai 2 tahun proses pengerjaannya, hal ini terkait dengan interior yang mewah dan instalasi listrik dan lain-lain yang rumit, yang harus dikerjakan oleh ahlinya.

Menelusuri Interior Kapal Pinisi Asli Tana Beru

Berbekal ijin dari pembuat kapal, saya dengan riang melangkah menelusuri setiap sudut dari kapal mewah ini. Dengan sebuah tangga darurat, saya menaiki kapal, mengintip beberapa ruangan yang dimiliki kapal ini. Kapal ini masih dalam proses pembuatan, tetapi secara garis besar sudah terlihat kemewahannya, tinggal finishing saja.

kapal pinisi wisata di tana beru

Saya memasuki area dapur. Dapurnya bukan hanya sekedar dapur alakadarnya. Dapurnya mewah, dengan kitchen set cantik seperti di rumah-rumah mewah tipe cluster. Kompor telah terpasang di sana, begitu juga mesin cuci untuk keperluan laundry.

Dari area dapur, saya menyusuri tangga kecil. Di ujungnya terlihat ruangan yang luas dengan beberapa tempat duduk. Ini adalah ruangan utama dari kapal megah ini. Selain kursi dan meja yang tersusun laksana di cafe-cafe mewah, colokan listrik juga tersedia di mana-mana, sudah menyesuaikan dengan kebiasaan millenial.. Bunyi bising berbagai mesin masih terdengar, di ruangan ini seorang tukang sedang sibuk dengan urusannya.

Kemudian saya beranjak ke sebuah ruangan, ternyata ini adalah kamar. Di bagian depan di sebelah pintu masuk terdapat kamar mandi. Di kamar ini terdapat beberapa tempat tidur dengan sekeliling kaca. Asik banget,Β  bisa rebahan sambil memandang keindahan perairan dan pulau-pulaunya saat menjelalah.Β  Seketika saya membayangkan bagaimana menjadi sultan yang mendiami kamar ini dalam perjalanan mengeksplor kepulauan komodo.

2x saya menjelajah perairan komodo tahun 2012 dan 2013, tetapi keduanya hanya menggunakan kapal kayu kecil, bukan kapal pinisi ini. Cerita saya di Komodo dapat dilihat di sini:

  1. Pulau Rinca: Rumah Para Komodo
  2. Pulau Kanawa: Kepingan Surga di Kepulauan Komodo
  3. Ketika Keindahan Hampir Menciptakan Tragedi di Pulau Bidadari, Labuan Bajo
  4. Rindu Hangatnya Labuan Bajo
  5. Sensasi Jurassic Park di Pulau Komodo dan Mengagumkannya Pink Beach

Saya bergeser ke ruangan lainnya. Katanya ini kamar VIP tapi kamarnya lebih kecil dan sepertinya tak ada kamar mandi di sana. Entah apa saya kurang menjelajah di ruangan ini atau memang seperti itu karena saya juga melihatnya sekilas.

Lalu saya memasuki ruang kemudi. Lelaki paruh baya menyambut. Dialah yang merancang dan membuat interior kapal pinisi ini. Ternyata, lelaki itu bukan asli Tana Beru, melainkan dari Jawa Timur. Beliau piawai dalam membuat interior kapal dan bukan hanya kapal pinisi.

tempat tidur di ruang kemudi kapal pinisi

Dari ruang kemudi ini sudah jelas, pandangan di depan sangat luas. Sekat-sekat kaca yang menjadi pembatas cukup lebar dan cekung. Yang baru saya ketahui, ternyata di sini juga terdapat tempat tidur yang disediakan untuk kapten.

kapal pinisi mewah di tana beru

Sebelum turun, saya menjelajah beberapa sudutnya. Sebenarnya saya ingin lebih lama di sini, tetapi saya sungkan dan takut kalau kehadiran saya akan memecah konsentrasi para pembuat kapal di Tana Beru.

jejeran kapal pinisi di tana beru

Saya berjalan ke tepi pantai Tana Beru. Ternyata, dari sini terlihat di sepanjang bibir pantai adalah workshop pembuatan kapal pinisi dengan berbagai ukuran. Sementara pantainya tak terawat, banyak sampah di mana-mana.

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat vlog Traveler Paruh Waktu tentang kapal pinisi di Tana Beru

Sakralnya Proses Pembuatan Kapal Pinisi

Dalam pembuatan kapal pinisi, terdapat beberapa ritual adat yang harus dilaksanakan dan diwariskan secara turun temurun di Tana Beru dan beberapa wilayah lainnya di sekitar Tanjung Bira.

pembuatan lunas untuk kapal pinisi di tana beru

Pada tahap awal pembuatan kapal pinisi, terdapat ritual pemotongan kayu oleh pawang perahu yang akan dipakai sebagai Lunas, yaitu bagian terbawah dari kapal pinisi. Setelah itu, makanan manis dan pemotongan ayam putih disajikan sebagai sesajen. Makanan manis sebagai simbol harapan untuk mendatangkan keberuntungan, dan darah ayam putih untuk menghindari kecelakaan.

Setelah kapal selesai dibangun, kapal akan diluncurkan ke laut. Terdapat prosesi adat yang harus dilakukan yang diberi nama upacara appasili (tolak bala) dan upacara ammossi (penetapan pusat di Lunas sebagai titik untuk mengikat tali). Proses peluncuran kapal ke laut menggunakan tali yang diikat ke Lunas tersebut. Peluncuran dilakukan di atas rel kayu dan kapal akan ditarik puluhan orang menggunakan tali. Prosesi ini dinamakan annyorong lopi (source: pesona.travel)

proses pembuatan kapal pinisi

Sayang sekali, sampai saya mengakhiri kunjungan ke Tana Beru, tak ada satu pun kapal pinisi yang siap untuk diluncurkan ke laut. Semua tampak masih sibuk merampungkan kapal-kapal megah itu.

Saya kembali ke penginapan di Bira dengan menggenggam mimpi melihat proses peluncuran kapal pinisi ke laut, dan impian lain yang masih tersimpan, menjelajah laut nusantara dengan kapal pinisi..

tana beru

***

Traveler Paruh Waktu

 

 

Travel Blogger Indonesia. Traveler Paruh Waktu. 100% sundanese. ASN pengagum Ibu Pertiwi, terutama akan keindahan alamnya. Suka bertualang, suka bercerita, suka membuat video.

Related Posts

35 Responses
  1. Wuoooh ternyata ada ritual-ritualnya ya, pake darah ayam segala. Di pembuatan kapal pinisi ini apakah pakai kayu ulin? Karena saat saya keliling Labuan Bajo, kapal pinisi menggunakan kayu ulin sehingga kokoh sekali, diketuk-ketuk juga bunyinya padat gitu. Dan memang rasanya keren bisa naik kapal pinisi begitu, hebat yah orang Indonesia~

    1. nggak hafal sih pake kayu apa.. tapi kalau liat di google sih bisa macam2 jenis kayunya.. beruntungnya udah naik kapal pinisi, aku pas di Labuan Bajo pake kapal kayu biasa πŸ˜€

  2. as always, postingannya padat, informatif dan menginspirasi.
    Lama juga ya bikinnya dua tahun.
    Jadi teringat mata uang kertas 100 perak,,

    Ngetrip lewat motor sejauh ini memang jadi andalan saya kalau sedang eksplor. Mupeng jadi pengen ke Tanjung Bira dan ngeliat langsung prosesnya. Kirain ini memang hanya moda transportasi masyarakat sana, ternyata harus ada ritualnya juga ya. Amzing..

    1. wah, thanks masbro..

      iya, uang kertas 100 rupiah berwarna merah, πŸ˜€

      memang ngetrip pake motor tu asiknya buat eksplor, bisa sampe ke daerah terpelosok..

      saya pun baru tahu ketika datang langsung ke sini, ternyata ngga hanya asal buat, ada prosesi yang harus dijalankan..

  3. Saya pernah mengalami kejadian absurd juga pas makan nasi padang. Waktu di Ende. Lapar, saya mampir ke RM Padang di dekat dermaga. Ternyata penjualnya Jawa. Saya tertawa dalam hati: masakan padang, di Flores, tapi dijual oleh rekan dari Jawa. πŸ˜€

    Dulu, 2014 akhir kalau nggak salah, waktu mau kembali ke Makassar setelah kemping di Pantai Bara (yang namanya mirip Bung), saya lewat sini. Tapi saya dan seorang kawan cuma memacu motor pelan-pelan di Tana Beru, belum sempat singgah dan melihat-lihat pembuatan kapal pinisi.

    Pas lewat sana, saya lihat suasananya seperti dok-dok di komik One Piece. Ada 1-2 orang bermuka Eropa juga yang saya lihat asyik memoles-moles kapal yang sedang dibikin. Tapi saya lumayan kaget begitu Bung bercerita bahwa ada perancang pinisi yang dari Jawa Timur. πŸ˜€

    Cerita dan fotonya keren, Bung!

    1. haha,, mungkin banyak juga hal seperti itu di bagian lain di Indonesia ya..

      saya juga datangin tu pantai, pantai dengan nama terindah di dunia haha..

      sayang sekali hanya lewat,, next time kalau ke sana lagi coba singgah πŸ™‚ , syukur2 bisa coba2 bantuin kaya orang bule itu πŸ˜€

      sebetulnya yang orang Jatim itu bukan perancang pinisinya, dia bertugas untuk membuat interior dan tetek bengeknya…

      thanks, bung..

  4. Waaahhhh keren banget mas Bara pengalamannyaaa πŸ˜€ jadi ingin lihat secara langsung juga ~ ada tour nggak ya karena saya nggak bisa naik motor ahahaha ~ by the way saya menonton Youtube mas Bara, seru serasa ikut jalan-jalan sudah mirip host-nya Jejak Petualang.

    Keep sharing and inspiring mas!

    1. Hahaha sekali lagi Saya menyukai gaya bertutur Kang Baa ini.

      Menurut Saya menarik.

      Dan hal yang unik adalah nasi Padang yang pemiliknya bukan Orang Minang.

      Menurut Saya sih ini Sebenarnya kekuatan merek. Karena di Padang sendiri Saya beberapa kali menemukan RM Padang yang pemiliknya bukan Minang.

      Btw Saya sedikit kepo, Kang Baa travelingnya bareng siapa ya?

      Di liat dari sudut pengambilan gambar, Sepertinya Kang Baa petualang Alone ya?? Kepoo Saya…

      1. thank you pujiannya hehe..

        betul, di padang juga banyak RM padang yang dimiliki bukan orang minang, misalnya RM bahagia punya chinese, RM pagi sore juga chinese ,, dan itu juga termasuk enak2..

        iya bener traveling sendirian.. kadang take foto/videonya selfie,, kadang dengan bantuan gorilla pod jadiin tripod πŸ™‚

    2. tour ada kok,, ada temanku orang makassar yang buka trip ke sana juga, bisa kepoin kelanayuk.id hehehe..
      ahaha, masih newbie kok ini juga bikin2 videonya,,, daripada gabut pas jalan2 yaudah sekalian bikin video πŸ˜€ ,, makasih yaa udah nonton..

  5. Wah ternyata finishing dan interior kapal ini rapih dan halus banget ya. Pengalaman seru nih liat pembuatan kapal seperti ini. Dulu pernah liat pembuatan kapal, tapi buat cari ikan haha.

  6. Keren ya proses pembuatan kapal pinisi nya, nampaknya cukup kompleks dan 2 tahun sepertinya bukan waktu yang singkat. Belum lagi biaya untuk prosesi adat yang disebutkan, wew.

    Btw jadi inget Going Merry nya anime One Piece hehehe

  7. Pengen deh bisa melihat pembuatan kapal begini. Aku blm prnh naik kapal yg bisa utk menginap kayak pinisi ini.. blm ada bayangan seperti apa dalamnya.. jd kepikiran ngerasain LOB di komodo deh :D. Kayaknya seru ngerasain hidup di kapal gitu.

    Sayang ga sampe peluncuran ke lautnya ya mas. Ngebayangin kapal yg baru aja jadi, lalu ditarik masuk ke air.. :D. Pasti ada kebanggaan dr para pembuatnya.

    1. Nah harus dicoba tuh mbak LOB di Kepulauan Komodo.. aku juga pgn,, 2x ke sana, 2-2nya one day trip,, nggak sempat LOB dan nggak naik pinisi pula πŸ˜€

      iyaa,, syg pas ke sana blm jadi semuaa kapalnya πŸ™

  8. Proses sakral itulah saya kira yang membedakan bagaimana sebuah penciptaan meski selalu berangkat dari kearifan lokal. Ciptaan-ciptaan manusia modern jamak meninggalkan proses sakral. Pinisi-pinisi itu tentu tidak begitu saja menjadi tangguh berlayar di lautan. Saya kira, kalau tidak begitu, Pinisi tidak akan tenar dari dulu…Apalagi soal kehebatannya di laut, seperti yang guru saya ceritakan waktu SD-SMP…

  9. Ya ampun mas, beruntung banget bisa nonton pembuatan kapal pinisi secara langsung. Saya loh baru tau kalo buat kapal kaya gitu di Sulawesi. Pengen banget jalan-jalan sambil ekplorasi Indonesia. Kapan yah. Sekarang duit ada, waktu yang gak ada. Dulu waktu banyak, duit yang gak ada. Cape dehhh

    Hahahaha

    1. Ntar kalau kita udah tua,, duit ada, waktu adaa,, tapi tenaganya yg udah gak ada ya masbro? ahaha.. makanya saat ini kukumpulin dan kumanfaatkan cuti supaya bisa traveling,, klo gak gitu gak akan sempat huahaha..

  10. Perancang interiornya dari Jawa Timur? Mungkin supaya bisa sekalian merancang alur listrik dan udaranya juga?
    Tapi tetap saja Kapal Pinisi merupakan kebanggaan seluruh Nusantara, bukan satu bangsa saja. Keren banget bisa lihat pembuatnya.

  11. Yang paling keren adalah, dalamnya super mewah, seperti di hotel, bahkan dibuat mengikuti zaman dengan ditambah power outlet.

    Sebuah kehormatan bisa melihat langsung pembuatan kapal kebanggaan Nusantara

Leave a Reply